Perburuan

Hari-hari ini saya mempunyai kegiatan yang mendebarkan, menantang, tapi juga mengasyikkan. Benar, apalagi kalau bukan mencari tandem untuk Edo? Memang saya masih punya waktu karena Bana akan benar-benar nonaktif tanggal 28 Januari ini.

Brand dan engagement Mojok harus diakui menjadi beban tersendiri buat saya untuk mencari sosok yang tepat. Sewaktu dulu Mojok butuh orang untuk mendampingi Bana, di kepala saya hanya ada satu orang: Edo. Tidak ada yang lain. Dan terbukti, masuknya Edo ke Mojok begitu halus, cepat, licin, dan dalam waktu nisbi singkat, sentuhan dan kontribusi Edo langsung bisa kami lakukan. Gak kayak Roma yang setelah Garcia pergi malah ngambil Spalletti, dan hasilnya sungguh nggatheli: main di kandang, melawan juru kunci, dengan hasil seri. Continue reading “Perburuan”

Pemred Mojok Pindah Tempat

Ini bukan berita sedih. Arlian Buana sudah lama ingin menjadi wartawan. Lebih tepatnya suka melakukan liputan. Sebelum bergabung dengan Mojok, dia juga sempat menjadi wartawan.

Malam tadi, dia pamit untuk pindah tempat, bekerja di sebuah media baru. Dan tentu saja dia akan meninggalkan Yogya, balik ke Jakarta.

Bana adalah sosok penting di Mojok. Selain sebagai Pemred, dia punya spesifikasi untuk mengurasi tema-tema keagamaan. Maklum, dia lama menjadi santri dan mengajar di Pondok Pesantren Pabelan. Selain itu, Bana juga paling pas menjadi jurubicara Mojok di berbagai forum: artikulasinya bagus, logikanya runtut, dan wajahnya enak dipandang. Di sinilah saya sering tersipu setiap kali ada yang bilang, “Kru Mojok cakep-cakep, ya…” Continue reading “Pemred Mojok Pindah Tempat”

Tak Dijawab

Kalau dituruti, mungkin waktu kami akan habis untuk sekian hal yang tidak pernah kami persiapkan. Hampir setiap hari undangan berdatangan via email Mojok. Dari mulai bertanya soal harga iklan, ajakan kerjasama, wawancara, sampai izin untuk berkunjung di kantor. Kantor?

Ya. Ada lusinan surat resmi kunjungan ke ‘kantor’ kami, dan saking bingungnya tak ada yang kami jawab. Karena kami tak punya ‘kantor’. Kami hanya menempati rumah mungil dengan 3 kamar. Dua kamar dipakai untuk tempat tidur bagi kru Mojok dan beberapa teman lain, sekaligus untuk menampung teman-teman kami yang sering datang ke Yogya. Kamar yang satu lagi dipakai untuk ruang komputer. Selebihnya hanya ada dapur dan ruang tamu yang menyatu. Di situ, kami kerap bekerja. Bekerja? Ah, enggak juga. Lebih tepatnya bermain. Kalau ada tamu lebih dari tiga orang, kami lebih sering mengajak mereka bertemu di Angkringan Mojok, yang memang letaknya tak terlalu jauh dari rumah mungil kami. Continue reading “Tak Dijawab”

Pindai Kontra Mojok

Saya nyaris lemas karena dua pemain pinjaman andalan Mojok membatalkan diri di detik-detik akhir ketika pertandingan akan dimulai. Tapi saya sama sekali tidak berpikir bahwa itu manuver Pindai agar Mojok kalah. Makin lemas saya ketika tahu, Wisnu mendatangkan banyak sekali pemain muda dari Balairung sebagai pemain pengganti.

Orang yang langsung ambruk mentalnya adalah Nody. Mukanya langsung pucat. Dia bahkan tidak melakukan pemanasan, seakan dia mau bilang: Mojok pasti kalah.

Dan benar, pertandingan baru berjalan 10 menit, Mojok sudah kebobolan 3 gol. Tidak lama kemudian, Pindai memaksa pemain-pemain Mojok untuk melakukan push up karena tertinggal 5 gol. Ini memang aturan ‘adat’ saja.

Komposisi pemain futsal tim Mojok (hijau) vs Pindai (orange)

Komposisi pemain futsal tim Mojok (hijau) vs Pindai (orange)

Efek buruknya, blunder semakin sering terjadi dan Bana pun mulai terlihat emosional. Kedudukan 11-5 untuk Pindai ketika turun minum.

Continue reading “Pindai Kontra Mojok”