Jambore Mojok 2017

Saya tumbuh bersama sebuah media berbahasa Jawa, kalawarti Jaya Baya. Bagi pembacanya, Jaya Baya dipanggil dengan mesra: Jebeng. Komunitas pembacanya tumbuh dan solid. Hingga ketika media ini tutup, para pembacanya bergerak, terlibat, bekerja keras sampai kemudian Jaya Baya lahir lagi.

Tentu saja Mojok bukan Jaya Baya. Tapi pada banyak hal serupa. Termasuk ketika Mojok tutup. Para pembaca setianya memenuhi timeline Twitter dan menjadi salah satu trending topic teraneh waktu itu. Sebuah petisi online diunggah. Semua perhatian diberikan. Mungkin karena hal itu pula, kurang dari 24 jam ketika Mojok ditutup, berbagai tawaran datang untuk menghidupkan lagi. Continue reading “Jambore Mojok 2017”

Sebulan Mojok Reborn

Kurang dari 40 hari, inilah yang telah kami lalui. Apakah kami bekerja keras untuk hal ini? Ya. Hanya saja, kerja keras bukan segalanya. Kami punya tim kerja yang baik dan menyenangkan. Kami juga punya jaringan penulis lebih dari 500 orang di seluruh Indonesia.

Tapi sebetulnya, ada dua hal luarbiasa yang kami miliki. Pertama adalah pembaca. Mereka bukan hanya membaca Mojok, tapi juga membagikan tautan Mojok ke berbagai forum dengan sukarela. Kedua, dan sebetulnya ini yang utama: campur tangan Tuhan. Kalau kami hanya membanggakan kerja keras, kerja cerdas, jaringan penulis, tim yang solid, lalu menyingkirkan campur tangan Tuhan dan kontribusi pembaca setia kami, niscaya kami telah berjalan di atas bumi ini dengan kepala mendongak dan rasa pongah. Continue reading “Sebulan Mojok Reborn”

AADC 2 dan Pembaca Mojok

Orang selalu mudah berpikir dalam dua kutub ekstrem. Salah satunya: publik bisa didikte, dan sebaliknya bahwa elit tak punya agenda atau desain. Yang satu mau mengatakan bahwa publik bodoh, manut, mudah dibengkokkan. Sementara yang kutub lain mau bilang bahwa tak ada yang namanya desain atau lebih mudahnya disebut ‘konspirasi’.

Di satu sisi, konspirasi dianggap pasti bakal terjadi. Sebab publik tak punya daulat sama sekali. Di sisi lain, semua dianggap terjadi begitu saja. Tanpa krenteg dan greget. Tanpa pola. Continue reading “AADC 2 dan Pembaca Mojok”

Sabtu Berdebu

Bagi Anda yang menggeluti dunia situsweb, tentu mengamati perilaku kunjungan pembaca Anda menjadi penting sebagaimana para pemain saham mengamati pergerakan harga saham. Ukurannya sudah bukan per hari tapi per menit bahkan per detik.

Memang ada semacam pengetahuan bersama bahwa pada hari Sabtu dan Minggu, kunjungan akan nisbi sepi. Kenapa? Analisisnya sederhana. Karena liburan. Di saat liburan, ternyata perilaku sebagian besar kelas menengah kita memang benar-benar berlibur, termasuk liburan bermain medsos dan berselancar di dunia maya. Continue reading “Sabtu Berdebu”

Penulis Baru

Saya dan Kru Mojok bolehlah berbangga. Sekarang ini, para penulis perempuan, kebanyakan baru menulis untuk Mojok, banyak mengirimkan tulisan ke alamat redaksi kami. Rata-rata tulisan mereka memang memenangi ‘kompetisi’ harian dari kebanyakan penulis laki-laki.

O, tentu saja bukan berarti kami menganakemaskan penulis perempuan. Walaupun di satu tahun pertama memang kami prioritaskan, karena komposisi antara penulis laki-laki dan perempuan sangat jomplang. Continue reading “Penulis Baru”