Suksesor Edo

Saya harus agak berhati-hati memilih suksesor Eddward Edo. Ada banyak faktor yang harus saya pertimbangkan. Pertama, saya percaya bahwa setiap redaktur Mojok pasti akan memperkuat citarasa media ini. Bana dan Edo sangat memperkuat citarasa Mojok. Demikian juga dengan Agus Mulyadi. Kedua, ada beban brand yang harus disangga oleh redaktur terpilih. Terkadang hal seperti ini tidak mudah bagi beberapa orang. Sebab bisa menghantam rasa percaya diri mereka. Membenamkannya. Dan itu tidak baik bagi perkembangan mental orang-orang tertentu.

Ketiga, saya harus mempertimbangkan kekurangan Mojok. Media ini masih banyak kekurangannya. Sama seperti saya. Kadang kekurangan itu bahkan cenderung memalukan. Saya tahu tidak mungkin menutup semua kekurangan itu, tapi harus berusaha menambalnya. Sehingga redaktur terpilih harus saya lihat dalam konteks ini.

Continue reading “Suksesor Edo”

Sang Penggedor

Dengan mata berkaca-kaca, Pimred Mojok malam ini pamitan kepada saya kalau dia akan meninggalkan Yogya untuk bergabung dengan sebuah media besar: Kumparan. Itu alasan ketiga. Alasan pertamanya, ibunya yang tinggal di Jakarta, meminta anak kesayangannya ini untuk menemani. Alasan keduanya, tahun depan dia berencana menikah dengan seorang pramugari.

Tentu saja saya melepas Sang Penggedor, begitu julukan saya untuknya, dengan hati gembira. Semua teman saya yang di KBEA tentu tahu bahwa KBEA adalah ikatan perkawanan. Bukan perusahaan. Jadi kalau ada salah satu anggota kami pergi, kami justru melepas dengan senang hati. Itu menambah jumlah keluarga kami yang berkarier di media-media besar Jakarta: Fikrie (Beritagar), Bana dan Nuran (Tirto), dan Eddward Edo (Kumparan). Continue reading “Sang Penggedor”