AADC 2 dan Pembaca Mojok

Orang selalu mudah berpikir dalam dua kutub ekstrem. Salah satunya: publik bisa didikte, dan sebaliknya bahwa elit tak punya agenda atau desain. Yang satu mau mengatakan bahwa publik bodoh, manut, mudah dibengkokkan. Sementara yang kutub lain mau bilang bahwa tak ada yang namanya desain atau lebih mudahnya disebut ‘konspirasi’.

Di satu sisi, konspirasi dianggap pasti bakal terjadi. Sebab publik tak punya daulat sama sekali. Di sisi lain, semua dianggap terjadi begitu saja. Tanpa krenteg dan greget. Tanpa pola. Continue reading “AADC 2 dan Pembaca Mojok”