Sabtu Berdebu

Bagi Anda yang menggeluti dunia situsweb, tentu mengamati perilaku kunjungan pembaca Anda menjadi penting sebagaimana para pemain saham mengamati pergerakan harga saham. Ukurannya sudah bukan per hari tapi per menit bahkan per detik.

Memang ada semacam pengetahuan bersama bahwa pada hari Sabtu dan Minggu, kunjungan akan nisbi sepi. Kenapa? Analisisnya sederhana. Karena liburan. Di saat liburan, ternyata perilaku sebagian besar kelas menengah kita memang benar-benar berlibur, termasuk liburan bermain medsos dan berselancar di dunia maya. Continue reading “Sabtu Berdebu”

Penulis Baru

Saya dan Kru Mojok bolehlah berbangga. Sekarang ini, para penulis perempuan, kebanyakan baru menulis untuk Mojok, banyak mengirimkan tulisan ke alamat redaksi kami. Rata-rata tulisan mereka memang memenangi ‘kompetisi’ harian dari kebanyakan penulis laki-laki.

O, tentu saja bukan berarti kami menganakemaskan penulis perempuan. Walaupun di satu tahun pertama memang kami prioritaskan, karena komposisi antara penulis laki-laki dan perempuan sangat jomplang. Continue reading “Penulis Baru”

Bertamu Seru

Judul status ini sekaligus judul rubrik baru yang akan segera nongol di Mojok Dot Co. Anda bayangkan seperti ini…

Kami dari Kru Mojok, mengetuk pintu rumah orang, bertamu, dan mengajak ngobrol seru dengan si tuan rumah. Lalu obrolan itu kami hadirkan dalam sebuah tulisan di Mojok. Tentu ada kemungkinan lain, kami semua lari terbirit-birit karena Agus Mulyadi dikejar anjing penjaga rumah tersebut. Dia naik tiang listrik, sementara kami aman masuk mobil. Lalu kami cuma menonton pria tampan itu memeluk tiang besi hitam sambil ditunggui seekor anjing besar yang siap beradu taring.

Tamu yang akan kami datangi tentu saja istimewa dan misterius. Tidak bisa kami kabarkan kepada Anda siapa yang bakal ada dalam rubrik ‘Bertamu Seru’ ini.

Continue reading “Bertamu Seru”

Iklan

Keputusan saya untuk menolak iklan banner dan google adsense saat itu, mungkin agak mengagetkan para kru Mojok. Tapi saya yakin mereka mudah memahami begitu saya utarakan alasannya: saya tidak mau pembaca Mojok diganggu dengan visual yang aneh dan norak.

Visual Mojok khas: sederhana dan bersih. Sementara kontennya juga jelas: jenaka, nakal, dan kritis. Saya bukan orang yang rumit. Sehingga semua konsep di Mojok juga tidak ada yang rumit. Hal yang rumit berarti belum jernih dalam konsep, dan bakal menimbulkan keruwetan pada praktek.

Lalu kalau orang atau pihak yang mau beriklan bagaimana? Nah, itu yang menarik untuk digali. Hingga muncullah apa yang disebut sebagai ‘Mojok Sore’. Bentuknya advertorial, tapi dikemas dalam gaya Mojok. Mojok Sore tampil perdana kemarin sore. Dan jumlah pengunjung yang membaca artikel tersebut sama banyaknya dengan jumlah artikel-artikel lain. Artinya, pengiklan bisa membuktikan bahwa kami bisa mengemasnya dengan gaya yang sama baiknya antara artikel noniklan dengan artikel iklan.

Continue reading “Iklan”

Valentine versi Mojok

Setiap ada isu atau perdebatan panas, pembaca setia Mojok selalu bertanya: Apa nih versi Mojok?

Dulu, semua pertanyaan itu selalu ingin kami jawab. Tapi lama kelamaan, kami kadang tak menjawab. Ramai-ramai orang membicarakan isu A, ketika sebagian besar pembaca Mojok menunggu versi kami, eh kami malah mengeluarkan artikel B.

Salah satu kebijakan yang disepakati kru Mojok setahun setelah kelahiran media ini, adalah mengurangi porsi untuk ‘Membicarakan apa yang ramai dibicarakan orang’. Dalam hal yang agak ekstrem, saya punya istilah ‘Tidak ikut membicarakan adalah salah cara melawan yang paling memungkinkan’. Slogan tersebut serupa dengan ‘Jangan bikin tenar orang goblok dengan cara membicarakannya’. Continue reading “Valentine versi Mojok”