Mbah Kidjo, Biro Jodoh dan Penghulu Ikan Gabus

Ikan-ikan gabus di kolam itu tiba-tiba melompat ke segala arah. Menimbulkan riak air yang tak beraturan. Mungkin kedatangan saya sebagai orang baru tidak diterima oleh ikan yang di Jogja punya nama lokal “ikan kutuk” itu. Di sinilah, Mbah Kidjo (79) sebagai tuan rumah menunjukkan keahliannya.

Ojo nakal, ojo nakal, ojo nakal,” terdengar suara Mbah Sukidjo (79) di sebelah saya sedang menghalau ikan-ikan itu sembari menepukkan kedua tangan. Tak lama berselang, puluhan ikan itu pun diam dan air kembali tenang. Saya berdecak kagum, rupanya sosok simbah  warga Dusun Depok Jetis, Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman ini memang pawang ikan gabus yang sangat andal.

Biro jodoh sekaligus penghulu ikan

Bukan sebagai pawang ikan gabus saja. Akhir-akhir ini, Mbah Sukidjo atau Mbah Kidjo, sapaan akrabnya, disebut sebagai penghulu ikan gabus. Pasalnya, ia dapat mengetahui ikan yang berpasangan hanya dengan melihat.

“Pernah ada yang beli sepasang ikan gabus. Tapi lama sekali tidak bertelur. Akhirnya di bawa ke sini. Hanya bicara dengan ikan gabusnya, ‘Wes diopeni, dipakani, kok ra balas budi. Gek kono bertelur (Sudah diurus, dikasih makan, kok nggak balas budi. Segeralah bertelur).’ Setelah dibawa pulang, sepasang ikan gabus itu kemudian bertelur satu minggu kemudian,” cerita Mbah Kidjo sembari menyuguhkan segelas teh hangat.

Di kolamnya sendiri, Mbah Kidjo juga sering menjodohkan ikan gabusnya, semacam biro jodoh. “Ayo jodo, ayo jodo,” suara lantang Mbah Kidjo yang biasanya terdengar ketika menyuruh ikannya berpasangan. Ajaib, ikan yang ada di kolam itu kemudian berjejer berpasangan. Mbah Kidjo terkekeh melihat saya yang keheranan. Katanya, kuncinya adalah sabar.

Dianggap orang gila karena suka mengamati ikan gabus

Mbah Kidjo menekuni budi daya ikan sejak 1970. Awalnya Mbah Kidjo melakukan budi daya ikan lele. Setelah itu, ia mencoba untuk budi daya ikan gurami. Saat melakukan budi daya ikan gurami itulah Mbah Kidjo menemukan indukan ikan gabus berada di kolamnya.

Ihwal penemuan gabus itu diketahui ketika Mbah Kidjo sedang menebar benih ikan gurami. Namun, benih ikan gurami yang ditebar bukan semakin besar. Benih ikan gurami itu malah semakin berkurang. Bahkan mendekati habis. Ternyata ada seekor ikan predator nyasar di dalam kolamnya. Ikan predator itu ikan gabus. Alih-alih dibuang, ikan itu dipindahkan oleh Mbah Kidjo ke kolam lainnya. Tak disangka, nasib mujur menghampiri Mbah Kidjo. Ikan yang tak diketahui dari mana asalnya itu ternyata adalah indukan. Tiba-tiba saja ikan itu bertelur dengan jumlah yang sangat banyak. Sejak itulah Mbah Kidjo mulai mengamati gerak-gerik ikan gabus.

Mbah Kidjo menerawang. Seingatnya kejadian ikan nyasar itu sekitar 2005. Setelah kejadian itu ia kerap melakukan pengamatan ikan di habitat asilnya. “Awalnya setiap pagi pergi ke embung, rawa, dan sungai untuk mengamati ikan gabus,” ungkap Mbah Kidjo dengan tangan kiri memegang sebatang rokok menyala.

Berada di pinggir embung, rawa, atau sungai, Mbah Kidjo hanya duduk diam mengamati ikan gabus yang berenang. Seperti tahu jika diamati, ikan-ikan  itu bukan pergi beralih dari hadapan Mbah Kidjo, sebaliknya malah semakin memperlihatkan diri pada Mbah Kidjo. Sesekali Mbah Kidjo menyalakan rokoknya sebagai teman dalam kesendirian. Jika matahari telah terbenam, Mbah Kidjo akan kembali ke rumahnya. Hal itu kemudian menjadi kebiasaan Mbah Kidjo.

Baca juga:  Nyaman Belajar di Tempat Makan

Terkadang Mbah Kidjo tidak pergi. Saat tidak pergi, ia akan memilih untuk masuk ke kolam. Dari pagi hingga malam, Mbah Kidjo mengamati ikan gabus yang berenang. Bukan tanpa alasan, dari ikan yang berenang, Mbah Kidjo berusaha melihat bagaimana perilaku ikan gabus dan caranya bereproduksi. Karena banyak yang tidak tahu alasan ia berbuat seperti itu, Mbah Kidjo akhirnya disebut sebagai orang gila oleh tetangga sekitarnya.

Indukan ikan gabus milik Mbah Kidjo. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co

Indukan ikan gabus milik Mbah Kidjo. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co.

Disebut sebagai orang gila, Mbah Kidjo tidak merasa malu. Mbah Kidjo tetap mempelajari gerak-gerik ikan gabus. Bukan hanya sehari atau dua hari. Usaha Mbah Kidjo memerlukan waktu selama lima tahun. Tidak hanya untuk mengamati, Mbah Kidjo juga melakukan uji coba dari apa yang dilihatnya di kolamnya. Hasil lima tahun memperdalam pengetahuan tentang ikan kutuk itu, Mbah Kidjo jadi mengetahui bahwa ikan jenis ini tidak dapat hidup di air yang terlalu dalam.

“Dari hasil pengamatan, ikan gabus hidup di tepi rawa, sungai, dan embung,” ungkap Mbah Kidjo. Hasil pengamatan itu bisa ditarik kesimpulan bahwa ikan gabus dapat hidup di air dengan tinggi sekitar dua puluh lima sentimeter.

Cerita cinta ikan gabus

Kembali ke cerita Mbah Kidjo, katanya ia juga mengetahui makanan terbaik bagi ikan gabus karena hasil uji coba. Pelet merupakan makanan terbaik bagi indukan. Namun, tidak menutup kemungkinan, ikan  juga dapat makan usus yang dirajang halus. “Wah, kalau jadi mahasiswa, ini lima tahun sudah lulus berarti ya,” ucap Mbah Kidjo terkekeh.

Hasil pengamatan Mbah Kidjo juga menemukan kisah cinta unik ikan gabus. Sifat ikan ini dalam mencari pasangan hampir sama seperti burung merpati. Tidak bisa asal menemukan jodoh, ikan gabus memiliki kisah cinta penuh kesetiaan. Pasangan ikan ini hanya ada satu, dan tidak dapat diganti. Sehingga, kata Mbah Kidjo, mencari jodoh ikan gabus harus apa adanya dan sabar.

Nek iwake ra gelem yo ojo dipekso, iso nyakiti iwak (kalau ikannya nggak mau ya jangan dipaksa, bisa menyakiti ikannya),” ungkap Mbah Kidjo.

Menurut Mbah Kidjo, jika ikan gabus itu tidak mau dengan pasangannya, ikan itu harus dicarikan pasangan lain, sampai menemukan jodohnya. Kalau dipaksakan dengan yang bukan jodohnya, salah-salah bukan berpasangan, melainkan salah satu dari mereka akan saling menghajar sampai salah satu mati. Namun, akan beda cerita jika sepasang ikan itu berjodoh. Dipisahkan sejauh apa pun, keduanya akan tetap mendekat dan bersama.

“Walaupun manusia tidak bisa mendengar suara ikan, sebenarnya ikan dapat berbicara dan mendengarkan suara manusia,” ungkap Mbah Kidjo menjawab rasa ingin tahu saya.

Kekuatan cinta ternyata tidak hanya sesama ikan gabus. Ada pula kekuatan cinta antara Mbah Kidjo dengan ikan gabusnya. Jika tidak percaya, indukan dan anakan ikan gabus yang dahulu ditemukannya bersama ikan gurami ternyata masih menjadi indukan sampai saat ini. Bahkan, indukan-indukan itu sangat produktif menghasilkan benih-benih baru.

Beternak ikan gabus hasilnya menjanjikan

Kata Mbah Kidjo, indukan ikan gabus yang memiliki berat satu kilogram ketika bertelur dapat menghasilkan benih yang tertangkap hingga lima belas ribu banyaknya. Benih itu sudah siap jual dengan harga seribu rupiah per ekor. Sehingga dalam sekali penjualan, Mbah Kidjo bisa mengantongi hingga lima belas juta rupiah. Berbeda dengan harga benih, Mbah Kidjo juga menjual indukan. Sepasang indukan ikan gabus dipatok harga satu juta beserta dengan pendampingan hingga bertelur.

Baca juga:  Susi Pudjiastuti Kesal pada Kebijakan-Kebijakan “Konyol” Kementerian Kelautan dan Perikanan

“Pernah ada yang indukannya mati, ya sudah diganti supaya yang beli tidak rugi,” ungkap Mbah Kidjo bercerita. Jual beli benih dan indukan ikan ini telah dilakukan sejak tahun 2010 dan masih berjalan hingga sekarang.

Berbicara modal awal, Mbah Kidjo hanya membutuhkan satu juta rupiah hingga benih ikan gabus dapat dijual. Terkenal memiliki banyak khasiat sebagai obat, salah satunya untuk menyembuhkan luka operasi, permintaan ikan ini untuk konsumsi pun semakin tinggi. Sayang, saat ini Mbah Kidjo belum mampu untuk memenuhi permintaan ikan gabus konsumsi. Pasalnya, untuk memenuhi permintaan benih dan indukan saja Mbah Kidjo sudah kewalahan. Karena itulah, alih-alih harganya semakin turun, harga ikan gabus malah semakin melambung tinggi.

Benih ikan gabus di kolam Mbah Kidjo. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co

Benih ikan gabus di kolam Mbah Kidjo. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co.

Mbah Kidjo tidak hanya memenuhi permintaan benih dan indukan di Jogja. Mbah Kidjo yang juga disebut sebagai maestro budi daya ikan gabus ini juga mengirim benih ke seluruh Indonesia menggunakan pesawat. Pengirimannya dikemas dalam kotak putih berbahan styrofoam. Di dalamnya terdapat plastik berisi oksigen dan ikan. Jika berisi benih ikan, satu plastik maksimal berisi seribu ekor. Sedangkan untuk indukan, satu plastik berisi sepasang.

“Itu yang tadi mau dikirim ke Kalimantan, tapi pesawatnya nggak jadi berangkat. Ya sudah besok saja hari Rabu,” ungkap Mbah Kidjo sembari menunjuk tumpukan kotak putih yang isinya sudah dikembalikan ke kolam.

Jatuh bangun menjalankan usaha pembenihan ikan gabus dirasakan Mbah Kidjo. Seperti saat beberapa tahun silam ketika Jogja dilanda hujan abu akibat meletusnya Gunung Kelud. Benih dan indukan ikannya turut mati. Atau seperti di pagi itu, sebelum saya berkunjung ke rumah Mbah Kidjo, indukan yang didatangkan dari Jepara juga mati.

Dalam melakukan budi daya ikan gabus, Mbah Kidjo memiliki prinsip yang selalu dipegang, yaitu 5 M. Pertama, dalam budi daya harus mempunyai minat. Kedua, harus membuat kolam. Ketiga, harus memelihara. Keempat, harus menekuni. Terakhir, kelima, akan membuahkan hasil. “Kalau budi daya, ada yang mati, ya harus semangat untuk mencoba lagi,” ungkap Mbah Kidjo yang sangat senang dengan lagu “Menanti Kejujuran” milik grup musik Gong 2000.

Bekerja bersama keluarga

Mbah Kidjo tidak bekerja sendiri dalam mengurus budi daya ikan gabus. Bersama keluarganya, yaitu istri, anak, menantu, dan cucu, Mbah Kidjo mengurus kolam-kolam di rumahnya yang berlokasi di Dusun Depok Jetis. Selain itu, Mbah Kidjo juga membentuk kelompok UPPI atau Usaha Pembenihan dan Pembesaran Ikan).

Salah satu keluarganya yang membantu Mbah Kidjo memasarkan ikan di dalam dan luar Pulau Jawa adalah menantunya yang bernama Sony. Selain itu, Mbah Badimah (73), istri Mbah Kidjo, juga mengambil peran penting menghitung benih ikan dan membersihkan kolam. Saya diajak kembali berkeliling melihat kolam Mbah Kidjo. Kaget, jumlah kolam yang saya lihat di awal tadi rupanya belum seberapa. Di belakang rumahnya masih ada hamparan sawah yang disulap menjadi enam kolam besar.

Selain itu di dekatnya juga masih ada beberapa kolam terpal. Belum lagi, kolam-kolam khusus indukan yang tidak untuk dijual berada di rumah utama yang tidak jauh dari rumah kedua yang sering disebut “gubuk” ini. Mengingat masa lalu, Mbah Kidjo bercerita bahwa ia dan istrinya pernah berselisih saat akan membangun kolam untuk ikan gabus. Di bagian belakang rumah yang dindingnya masih gedeg atau anyaman bambu ini, dahulunya adalah sawah warisan. Sawah itu ditanam padi seperti sawah pada umumnya.

Baca juga:  Rekomendasi Makan Pagi di Jogja ala Javafoodie (Bagian 2)

Setelah Mbah Kidjo memulai untuk budi daya ikan gabus, Sang istri menolak jika sawah warisan itu dirombak menjadi kolam. Setelah perdebatan panjang, dengan berat hati Mbah Badimah mengizinkan untuk dibangun satu kolam saja. Ternyata, budi daya ikan gabus itu berhasil baik. Mbah Badimah pun malah menyuruh Mbah Kidjo untuk membangun kolam-kolam lainnya. “Lebih, banyak dibandingkan dengan tanaman padi,” ungkap Mbah Badimah gembira mengingat masa itu. Ternyata hasil dari budi daya ikan itu dapat memperbaiki rumah dan membantu kuliah cucunya.

Mencari teman dan penerus budi daya ikan 

Sebagian besar kolam Mbah Kidjo memang berisi ikan gabus. Namun, ada dua kolam yang berisi ikan gurami dengan nama ikan gurami naga merapi. Sembari memberi makan untuk menunggu ikan gurami keluar ke permukaan, Mbah Badimah mengatakan bahwa ikan ini hasil persilangan jenis swan dan simacan.

Mbah Kidjo bersama mahasiswa yang ingin belajar budidaya ikan di tempatnya. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co

Mbah Kidjo bersama mahasiswa yang ingin belajar budi daya ikan di tempatnya. Foto oleh Brigitta Adelia/Mojok.co.

Saat ini, ikan gurami naga merapi yang berwarna mayoritas kuning terang dan beberapa blorok (bintik hitam dan putih) ini sedang menunggu masa pembuatan akta kelahiran selesai. Ikan gurami naga merapi ini memang satu-satunya dan hanya dimiliki oleh Mbah Kidjo sebagai koleksi. Tentu saja, dua anak Mbah Kidjo dan cucu-cucunya juga senang dengan ikan yang memberikan warna baru di samping ikan gabus yang memang dibudidayakan.

Belajar budi daya ikan secara otodidak tentu membuat saya terkagum-kagum ketika melihat banyaknya sertifikat penghargaan milik Mbah Kidjo. Sertifikat-sertifikat itu tertempel di dinding gubuk Mbah Kidjo. Padahal, Mbah Kidjo mengatakan tidak pernah membaca buku dan hanya mengamati perilaku ikan.

Mbah Kidjo memang sering diundang sebagai pembicara dalam beberapa kegiatan perikanan, seperti Expo UKM-IKM Nusantara pada 20 Maret kemarin. Mbah Kidjo juga sering memberikan pelatihan, seperti menerima kunjungan dari Papua, Gorontalo, Jambi, dan masih banyak lagi daerah di Indonesia yang belajar budi daya ikan bersama Mbah Kidjo. Karena budi daya ikan gabus inilah, impian Mbah Kidjo dapat mengenal orang di berbagai daerah sebanyak-banyaknya dapat tercapai.

“Mbah Kidjo tidak hanya mengejar bisnis, namun ada maksud lain untuk memperbanyak orang agar melakukan budi daya ikan gabus dan mencari teman,” ungkap Sony yang mendengar percakapan saya dan Mbah Kidjo dari awal.

Di sebelah sertifikat-sertifikat yang dipasang di dinding, rupanya juga terdapat foto-foto Mbah Kidjo bersama-sama orang dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke. Mbah Kidjo akan semakin senang ketika ada yang melanjutkan jejaknya untuk budi daya ikan gabus.

Hari itu saya bertemu dengan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang pernah melakukan praktik lapangan di tempat Mbah Kidjo. “Kemarin saya sudah budi daya lele, namun sempat berhenti dan ini akan lanjut lagi,” cerita seorang mahasiswi yang baru saja menempuh pendidikan magister. Setiap hari, gubuk Mbah Kidjo selalu ramai tamu. Kebanyakan tamu-tamu itu ingin belajar dan menambah pengetahuan mengenai budi daya ikan, tidak terbatas pada ikan gabus saja.

Mbah Kidjo tersenyum, ia senang melihat anak muda yang berguru padanya mulai mengikuti jejaknya sebagai pembudi daya ikan.

BACA JUGA Penghulu tapi Belum Menikah dan liputan menarik lainnya di rubrik LIPUTAN.