MOJOK.COKata Cinta Laura, keluarga adalah tempat paling aman. Nyatanya, justru keluarga jadi tempat paling rawan terjadinya kekerasan.

Sebagian orang ada yang menyebut bahwa keluarga adalah tempat nomor satu untuk bercerita dan mengadu, sayangnya itu tidak berlaku bagi setiap orang. Oleh karena itu, nggak mengherankan saat Cinta Laura nge-tweet mengenai hal tersebut, langsung banyak netizen yang memberondongnya dengan pernyataan bahwa: Tidak seperti itu yang terjadi di kehidupannya.

Hubungan dengan keluarga yang harmonis dan saling mendukung satu sama lain, memang menjadi dambaan setiap orang. Ya, siapa sih yang nggak pengin memiliki tempat untuk bisa bertingkah dengan bebas dan apa adanya tanpa takut di­-judge?

Ta, tapi masalahnya, nggak semua orang punya privilege kayak Cinta Laura. Keluarga yang anggotanya nggak bisa kita pilih tersebut, bagi sebagian orang malah jadi pemicu perasaan tidak nyaman dan aman itu sendiri. Justru dari merekalah, kecemasan dan kegelisahan muncul.

Teman saya, misalnya. Dia pernah bercerita kalau lebih nyaman berada di kampus dan mengikuti beragam kegiatan daripada lama-lama berada di rumah. Meskipun jarak kampus dan rumahnya tidak jauh-jauh amat, baginya rumah tidak beda jauh dengan tempat untuk tidur saja.

Baca juga:  Mahasiswi Indonesia Diperkosa di Belanda, Polisi Kerahkan 20 Detektif

Dia terlalu malas berada di rumah apalagi kalau harus terjebak mengobrol bersama orang tuanya. Pasalnya, ujung dari semua pembicaraan tersebut selalu menyalahkannya yang tidak berhasil masuk jurusan dambaan keluarga. Meskipun dia menjadi mahasiswa yang berprestasi di jurusannya. Tetap saja, cap bahwa dia telah gagal, masih belum terhapus juga.

Hal inilah yang kemudian membuatnya merasa kalau berada di luar rumah adalah tempat terbaik. Justru di sanalah ia menemukan keluarga yang lebih bisa menerimanya sebagai manusia. Ketidanyamanan dan ketidakamanan berada di rumah seperti yang dialami oleh teman saya ini, mungkin juga banyak dialami banyak orang. Atau bahkan, kondisi yang terjadi jauh-jauh lebih sulit lagi.

Dalam studi PBB misalnya, menyebutkan bahwa rumah adalah tempat yang rawan kekerasan terhadap perempuan. Dalam statistik yang dirilis pada Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Wanita, Kantor PBB untuk UNOCD menghitung dari 87.000 kasus pembunuhan wanita di seluruh dunia pada 2017, sekitar 50.000 (58%)nya dilakukan oleh pasangan intim atau anggota keluarga.

Sementara itu, dalam studi UNICEF, kekerasan anak di rumah juga tergolong tinggi. Dalam rentang tahun 1987-2005, ada 133-275 juta anak di bawah usia 17 tahun yang mengalami kekerasan di rumah mereka sendiri. Ya, di rumah mereka sendiri.

Bayangkan saja, rumah yang didaulat jadi tempat yang harusnya aman, justru menjadi tempat rawan. Lantas, masihkah bisa menyebut keluarga menjadi satu-satunya tempat untuk mengadu, bercerita, bertanya, dan berdiskusi? Jika kondisi keluarga memang tidak sedang baik-baik saja, tak bolehkah mengabarkan pada teman online untuk meminta pertolongan?

Baca juga:  Lupa Ayat Kursi? Coba Nyanyi Fancy-nya Twice Pas Ketindihan dan Didatengin Mbak Kunti

Jadi, kalau di kolom komentar banyak yang protes dengan pernyataan Cinta Laura, ya tolonglah dipahami. Bukan malah dipersalahkan dan disindir-sindiri. Ya, mohon maaf nih. Pernyataan ketidaksetujuan itu nyatanya betul-betul terjadi. Janganlah dianggap sebagai argumen asal-asalan untuk cari perhatian.

Tolonglah dimengerti bahwa tidak semua orang bisa menjadikan keluarganya sebagai sahabat kayak Cinta Laura. Sudah terlalu banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di rumah dan dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Itu yang ketahuan dan dilaporkan. Sementara yang tidak? Kesemrawutan yang terjadi di rumah itu kayak gunung es. Meskipun sebegitu banyak kasus yang muncul, itu hanya puncaknya saja.