kamar jorok dan berantakan MOJOK.CO

Banyak Penampilan Maksimal yang Datang dari Kamar Berantakan

MOJOK.COKatanya, tampilan kita adalah mempresentasikan kepribadian kita. Namun mengapa sebagian orang yang tampil maksimal justru datang dari kamar berantakan yang jorok?

Percayalah, tidak semua perempuan menganggap bersih-bersih adalah passion. Dari pengamatan saya di kehidupan sehari-hari, tidak sedikit perempuan yang merasa malas minta ampun saat diminta untuk bersih-bersih. Mungkin ini bukanlah fakta yang baru. Pasalnya, karena hal-hal semacam inilah akhirnya kehadiran Marie Kondo laku di tengah masyarakat. Banyak orang yang tidak sanggup jika harus sendirian menata ruang pribadinya yang berantakan. Selain tidak punya energi berlebih, juga karena bingung harus memulainya dari mana—saking ancurnya.

Teman saya contohnya, dia punya kamar kos yang bukan lagi dalam level “berantakan”, akan tetapi “jorok” minta ampun.

Supaya lebih dipahami, level “berantakan” menurut saya, adalah kamar yang tidak rapi dan terdapat banyak barang-barang yang menumpuk di tempat yang tidak seharusnya. Hal paling buruk dari level kamar ini hanyalah mentok merasa kesulitan saat mencari barang yang diperlukan.


Sementara level “jorok” adalah level yang lebih parah. Ia tidak saja menumpuk barang-barang di sembarang tempat, tapi juga menumpuk sampah-sampah makanan berminggu-minggu di dalam kamar. Sampah makanan basah (yang sudah mengering ini) memunculkan bau yang bikin pengin muntah dan bikin alat makan penuh jamur dengan warna perpaduan hijau-putih yang harus dicuci pakai air panas biar kuman dan bakterinya minggat. Atau mudahnya, dibuang aja ke tempat sampah terdekat.

Baca juga:  Jokowi Umumkan Dua WNI Positif Corona, Tetap Kalem dan Jaga Kesehatan

Seperti ini misalnya,

Ajaibnya dari para penghuni kamar level “jorok” ini, tidak sedikit yang keluar dan berkegiatan dalam tampilan maksimal. Maksudnya, mereka wangi, terlihat rapi, bersih, dan cantik. Sama sekali tidak memperlihatkan “dapur” mereka untuk bersiap-siap yang sangat jorok itu.

Baju yang mereka kenakan bersih dan rapi. Padahal, di kamarnya itu, untuk membedakan tumpukan baju bersih dan baju kotor saja, tidak bisa. Tapi, saat sudah keluar kamar, nyatanya mereka berhasil memperlihat baju yang tampak rapi-rapi saja. Tidak kusut sama sekali.

Mungkin hal ini mengajarkan pada kita bahwa darimana pun kita berasal, kita punya kesempatan yang sama untuk terlihat baik.

Bisa dipahami kenapa mereka bisa tampil maksimal, meskipun dengan keadaan kamar yang sebegitu awut-awutan. Begini, ya, bagi sebagian orang waktu berdandan itu butuh waktu lama. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Dari memadu-madankan baju yang dikenakan saja, itu bisa gonta-ganti berkali-kali. Mohon maaf, nih, selain kenyamanan, soal look juga sangat penting. Menjadi wajar kalau dalam proses persiapan ini, banyak baju-baju yang menumpuk di tempat tidur ataupun bagian kamar lainnya.

Belum lagi soal makeup-nya. Nggak semua perempuan merasa cukup ber-makeup dengan kecepatan was-wes. Menampilkan wajah yang tampak tidak ber-makeup tapi sebetulnya adalah ber-makeup, itu tidak secepat kilat, Malih. Dibutuhkan ketenangan dalam proses pengaplikasiannya.

Baca juga:  Wacana Rektor Impor dan Pemerintah Kita yang Hobi Mengimpor

Oleh karena itu, menjadi wajar kan, kalau sebagian dari mereka-mereka yang tampil “sempurna” di luar, justru muncul dari sebuah kamar berantakan yang jorok. Lha, dengan waktu persiapan yang segitu, nggak bakal cukup buat beres-beres dulu sebelum berangkat, je.

Nah, inilah yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan. Bahwa tidak menyempatkan untuk beberes kamar atau mengusahakan kamar dalam keadaan bersih sebelum berangkat adalah hal yang biasa-biasa saja. Sama sekali tidak mengandung dosa dan boleh dilakukan lagi dan lagi.

Hingga masalah yang biasa-biasa ini semakin rumit. Persoalan sederhana untuk membersihkan kamar akhirnya membutuhkan bantuan seseorang, dan Marie Kondo hadir sebagai juru selamat.