MOJOK.COPara penyuka warna ungu sering kali adalah orang yang unik. Biasanya mereka bisa sebegitu fanatiknya dengan warna kegemarannya ini. Kenapa, ya?

Di sore hari menjelang jam yang-yangan, pemred Mojok, Cik Prim tiba-tiba nyeletuk. Dia bilang, orang-orang yang menyukai warna ungu biasanya sungguh fanatik dengan warna kegemarannya tersebut. Pernyataan ini langsung mengingatkan saya pada seorang teman SMA.

Warna ungu bisa dikatakan sebagai jalan hidup teman saya itu. Kesenangannya dengan warna ini, bukan sekadar bualan yang dituliskan saat ia sedang menulis biodata di buku diary teman. Akan tetapi, ini sungguh ia buktikan dalam kehidupan sehari-hari: Hampir semua barang yang dia punya, berwarna ungu.

Mungkin hanya soal pakaian saja ia berganti-ganti warna. Namun, kalau hal-hal pokok seperti sepatu, jam tangan, casing hape, casing laptop, atau tas, ya semuanya berwarna ungu. Bahkan sampai-sampai, hal-hal yang dia upload di akun Instagramnya, hanya berkutat pada warna yang itu-itu saja. Kalaupun fotonya nggak berwarna ungu, pasti bakal diedit pakai “pigura” biar ada nuansa ungu-ungunya.

Kalau saya ingat-ingat lagi, ada salah satu sitkom di RCTI saat saya SMP dulu, judulnya Office Boy. Dalam sitkom tersebut, ada satu sosok, asisten Pak Taka namanya Sasha. Ia digambarkan sebagai perempuan yang menyukai warna ungu. Untungnya, meskipun dimanja oleh Pak Taka, Sasha tidak terlalu memanfaatkan hal tersebut untuk mengganti semua printilan di meja kerjanya dengan warna ini. Maksudnya, nggak sampai meja dan kursinya ia minta warna serupa.

Bagaimana? Apakah kamu punya teman yang kayak gitu?

Ngomong-ngomong, warna ungu ini juga masuk dalam deretan warna pastel yang digemari oleh para ibu-ibu yang suka mendekorasi rumahnya ala-ala shabby chic gitu. Iya, para ibu yang sangat beruntung punya wewenang penuh untuk menata rumah tanpa campur tangan (((selera suami))).

Hasilnya? Adalah dekorasi rumah yang sungguh berpastel-pastel ria. Dan kalau saya amat-amati, biasanya nih, kalau mereka menjadikan warna ini menjadi warna patokan dekorasi, maka sampai printilan terkecil pun harus menggunakan warna ini. Sungguh sangat bikin sakit mata matching sekali.

Baca juga:  Jadi Penggemar Kpop Memang Salah Banget, ya, Buatmu?

Dari sepengetahuan saya, saya jarang menemukan orang-orang di sekitar saya, yang sudah gede (supaya tidak menyebut tua) yang sangat fanatik urusan warna. Namun, ini berbeda dengan para penyuka warna ungu. Mungkin, yang hampir menandingi kefanatikan ini hanyalah mereka yang suka warna biru. Lagi-lagi, ini masih dalam tahap hampir. Belum betul-betul bisa mengalahkan.

Tentu saja ini menjadi pertanyaan besar. Mengapa para penyuka warna ungu bisa sebegitu fanatiknya dengan warna tersebut? Seolah nggak ada warna lain yang bisa menandingi ke-matching-an warna ini dengan hidupnya.

Dugaan pertama, mungkin mereka ini sebetulnya menyukai warna pink. Sebuah warna yang memberikan gambaran sisi feminin, kelembutan, alias sangat identik sekali dengan perempuan. Akan tetapi, warna pink dianggap terlalu mainstream. Terlalu banyak yang juga menyukai warna tersebut. Padahal, mereka para penyuka warna ungu, selain punya sisi perempuan yang kuat, juga punya jiwa eksklusif, ingin beda dengan yang lain.

Oleh karena itu, warna lain yang dianggap bisa menjembatani kedua keinginan tersebut adalah warna ungu. Sisi eksklusif tersebut bisa dirasakan dari lebih sulitnya mencari barang-barang dengan warna ini dibandingkan warna pink dan biru.

Dugaan kedua, pecinta warna ini selain ingin dikesankan feminin tapi juga nggak pengin terlalu feminin-feminin amat. Sehingga, warna ungu dijadikan pilihan. Pertama, dia memiliki spektrum-spektrum yang mirip-mirip dengan warna pink. Kedua, dia nggak terlalu yang nge-pink banget dan terkesan girly. Pasalnya, warna ini punya sisi dark. Ada sedikit kegelapan dalam pantulan warnanya.

Tentu saja hal ini bisa dipahami dengan sangat mudah. Lha wong warna ungu sendiri adalah gabungan dari warna merah dan biru. Jadi, wajar-wajar saja kalau dia terlihat agak kemerah-merahan. Tapi juga ada suasana dark atau sedikit mainly di dalamnya. Buktinya, Band Ungu yang seluruh personilnya laki-laki saja memilih warna ini sebagai nama bandnya.

Dugaan ketiga, ehm, masih belum kepikiran. Wqwq. Kalau njenengan kepikiran, ditulis di kolom komentar juga, boleh~

Oleh karena mereka merasa bahwa warna kegemarannya ini unik. Tentu saja, ia merasa perlu untuk menunjukkan kefanatiknya. Ya, bisa dipahami bahwa orang-orang yang merasa dirinya unik, biasanya rasa keakuan terhadap dirinya sendiri itu justru bakal dilebih-lebihkan.

Baca juga:  Menyaksikan Imlek dari dalam Keluarga Tionghoa

Gampangnya, orang yang mainstream, biasanya ya mereka biasa-biasa saja. Mau menyombongkan dirinya bagaimanapun, akhirnya juga dianggap biasa-biasa saja. Jelas berbeda dengan mereka yang menganggap bahwa apa yang dia sukai ini unik, sungguh berbeda dibandingkan yang lain. Mereka ini unik, maka dunia harus tahu!

Dan cara paling mudah yang bisa dilakukan supaya dunia tahu adalah dengan menggunakan printilan-printilan yang sangat mungkin diperhatikan orang lain, dengan warna ungu. Hanya dengan menggunakannya saja, ia tidak perlu harus bilang kalau menyukai penuh warna ini. Ya, mohon maaf, nih, udah kelihatan jelas-jelas kayak gitu, masak ya belum paham juga. Wqwq.

Sebentar-sebentar. Soal perpaduan warna ungu yang berasal dari warna merah dan biru, saya jadi menyadari sesuatu. Saya kok rasanya baru sadar alasan warna ungu dianggap sebagai warna janda. Apakah karena sebetulnya dalam universe warna ada hubungan khusus di antara keduanya?

Jadi, ketika itu warna merah (sebagai identitas perempuan) sedang sendirian. Lalu datanglah warna biru (sebagai identitas laki-laki). Kedua warna itu jatuh cinta, lantas terjadilah gejolak-gejolak selayaknya insan dimabuk asmara. Akan tetapi, ternyata mereka tidak bisa bersama. Warna biru memutuskan pergi. Warna merah tinggallah sendiri. Sayangnya, merah tidak bisa sama lagi. Sedikit campuran itu meninggalkan warna baru, yang kemudian disebut warna janda.

Tapi, sudah-sudah. Itu hanya imajinasi nggak penting saya. Hanya berdasar ilmu othak-athik gathuk semata.

Akan tetapi dilansir dari Okezone.com, kalau dalam pemahaman masyarakat Indonesia, warna ungu dianggap sebagai warna janda karena ia mencerminkan kesedihan dari para wanita yang ditinggalkan oleh para suaminya. Meskipun ini hanyalah mitos yang berkembang di masyarakat. Dan belum dipastikan juga kebenarannya.

Ehem. Bagaimana? Lebih masuk akal alasan dari ilmu othak-athik gathuk saya, toh?

BACA JUGA Fanatik Buta atau Mendukung dengan Waras dan tulisan Audian Laili lainnya



Tirto.ID
Loading...

No more articles