MOJOK.COSeorang mahasiswa baru jurusan sastra bercerita tentang soal rasa bosannya dengan perkuliahan yang tidak sesuai ekspektasi.

TANYA

Halo Mbak Au, kenalkan saya Sal, tapi bukan Sal Priadi pelantun lagu Amin Paling Serius lho yaaa. Hehehehe.

Jadi gini, Mbak. Saya ini seorang maba jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di sebuah kampus negeri. Sebuah nilai prestise dan membanggakan bagi saya bisa masuk di kampus ini. Tapi kok, saya merasa ada yang mengganjal gitu ya, Mbak Au. Setelah menjalani masa awal-awal kuliah, rasanya saya merasa berat menjalani perkuliahan disini. Walaupun saya ini penggemar karya sastranya Mas Puthut EA, Eka Kurniawan, Dee Lestari, Joko Pinurbo, dan jajaran sastrawan lainnya. Ternyata menjadi penggemar karya sastra saja tidak cukup untuk menjadi mahasiswa sastra.

Saat melihat kawan-kawan sekelas saya yang rajin membaca buku diktat perkuliahan, ditambah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kawan saya ke dosen membuat otak saya muncul pertanyaan negatif seperti, sanggupkah saya terus melanjutkan perkuliahan di universitas ini?

Ketika dosen mengajar di kelas pun, saya mendengarkan sambil menguap bosan dan celingak-celinguk kanan-kiri ngelihat yang pada nyatet omongan dosen. Sementara saya, bingung mau nulis apa. Ditambah ketika kawan-kawan saya bersemangat mencari buku pegangan wajib entah mencari di perpustakaan universitas, fakultas, kota, dan mana pun. Saya justru meminjam novel sastra di perpustakaan dan membacanya di sela-sela jamkos.

Baca juga:  Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Galapagos dan Otak yang Seukuran Kacang Polong

Awalnya saya ingin mengambil jurusan Ilmu Komunikasi tapi karena passing grade yang tinggi membuat saya minder dan akhirnya Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini jadi tujuan akhir saya. Dulunya saya pengin juga masuk Jurusan Filsafat tapi orang tua nggak setuju, takut anaknya tersesat katanya. Tapi saya sekarang malah merasa tersesat, Mbak Au. Sekarang saya bingung harus gimana buat menikmati menjadi seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Padahal saya pengin jadi mahasiswa santuy tanpa banyak beban pikiran semacam ini. Heuheu….

Salam manis dari mahasiswa penikmat senja-senji dan kopa-kopi perut kembung ketiban sapi.

JAWAB

Ciye, ciye, ciye, yang udah jadi mahasiswa~

Waduh, jangan-jangan sampeyan dulu membayangkan jadi mahasiswa sastra itu punya kesempatan (((hanya))) membaca karya sastra setiap hari, ya? Eh, kok pas udah menyandang status sebagai mahasiswa, ternyata nggak kayak gitu juga.

Sampeyan malah ditodong dengan kewajiban-kewajiban yang lebih dari itu. Mendengarkan kuliah dosen yang awalnya mungkin sampeyan kira akan menjadi diskusi menyenangkan dan menggugah minat, ternyata seringnya tidak berjalan seperti itu. Banyak perasaan bosan di sana-sini. Pengetahuan dan ilmu yang mereka obrolkan, seolah menjadi obat tidur paling ampuh yang bisa mengistirahatkan pikiran sampeyan selama berada di kelas.

Mungkin ada perasaan kecewa juga dari sampeyan, saat mengetahui kalau mempelajari sastra di dunia perkuliahan, ternyata tidak sekadar membaca karya-karya para sastrawan. Akan tetapi juga teori-teorinya dari buku-buku pegangan wajib yang mungkin membuat sampeyan tidak terlalu nyaman.

Baca juga:  Buat yang Bingung Memilih Pacar, Mahasiswa dari Jurusan Kuliah Ini Pantas untuk Dikejar

Tapi, bukankah dunia perkuliahan memang semacam itu? Saya kira, dulu waktu bisa kuliah di psikologi, saya bisa langsung diajarkan pengetahuan praktis soal jadi psikolog. Eh, ternyata nggak juga. Sebagai mahasiswa, saya harus mempelajari banyak mata kuliah yang rasa-rasanya jauuuhhh banget dari praktik jadi psikolog. Saya harus belajar Biopsikologi biar tahu soal sistem biologis manusia dan hubungannya dengan psikologis manusia. Maksud saya, yang harus saya pelajarin itu betul-betul hal dasar banget.

Padahal, mempelajari hal-hal dasar itu sangat menjenuhkan. Kita bakal diminta untuk memikirkan sesuatu dengan berputar-putar terlebih dulu, untuk menuju titik perkara yang bikin kita penasaran.

Jadi ya, saya nggak bisa menyarankan hal lain selain dinikmati saja, Sal. Sebuah pemahaman yang besar, bukankah berasal dari pemahaman-pemahaman hal yang kecil? Justru dengan ketidakpuasan sampeyan itu, sampeyan bisa mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang bikin nggak ngantuk di tengah-tengah kuliah. Semacam topik lain yang lebih segar dan nggak melulu yang ada di buku pegangan doang.

Mangat, ya, cah mahasiswa~

Baca Juga: Serba Serbi Mahasiswa Baru Beserta Sambatannya



Tirto.ID
Loading...

No more articles