MOJOK.COSetidaknya ada dua agenda yang akan dimainkan Prabowo Subianto ketika dia dengan mantap menyatakan diri bergabung dengan kubu Jokowi dan menjadi menteri pertahanan. 

Kekuasaan memiliki logikanya sendiri, yang mungkin hanya bisa dimengerti bagi orang yang pernah berkubang di dalamnya. Bagi rakyat jelata (seperti saya), bagaimana daya tarik atau manisnya kekuasaan sama sekali tak terbayangkan. Begitulah yang kini terjadi pada Prabowo Subianto. Ia, yang oleh para pendukung fanatiknya nyaris dianggap “setengah dewa”, kini telah bermetamorfosis menjadi manusia (biasa) yang sangat pragmatis ketika dengan senang hati menerima posisi sebagai menteri pertahanan.

Dalam iklan versi media elektronik saat maju dalam Pilpres 2019 lalu, Prabowo Subianto mem-branding dirinya sebacai macan, perlambang citra diri sebagai manusia bernyali besar dan tidak mudah menyerah. Namun, imajinasi macan dalam diri Prabowo kini telah lenyap, ikon macan kini telah diambil alih oleh Bamsoet (Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI) yang dalam safari politiknya menjelang pelantikan Presiden-Wapres selalu memakai kemeja batik dengan aksen macan di dada.

Saya tidak tahu apakah Bamsoet telah meminta secara resmi kepada Prabowo agar simbol macan bisa dia (Bamsoet) pakai, setidaknya untuk sementara waktu. Yang ingin saya katakan adalah, ada degradasi yang cukup signifikan pada Prabowo, orang yang mengidentikan dirinya dengan macan, bahwa ia kini cukup sebagai burung cenderawasih atau burung merak, atau ikon jinak lainnya, sebagai wujud bahwa kini dirinya tak lagi sesangar macan.

Bagi yang ingat ketika Prabowo masih memimpin pasukan dulu, banyak momen yang tak mungkin terlupakan. Setiap pindah tugas ke satuan lain, selepas upacara resmi pelepasan jabatan, Prabowo selalu dipanggul dan disanjung oleh segenap anak buahnya dari kesatuan lama saat meninggalkan lapangan upacara. Prabowo selalu menjadi komandan yang dicintai anak buahnya dengan sepenuh hati, di mana pun ditugaskan. Karena selain karisma, ada hal yang lebih utama, Prabowo dikenal sebagai komandan yang royal kepada satuan dan anak buah. Sudah menjadi pengetahuan umum, Prabowo acap kali menggunakan dana pribadi untuk membesarkan satuan dan memberi insentif bagi anak buahnya.

Baca juga:  5 Alternatif Pertanyaan Debat Capres yang Lebih Urgen

Karisma dan pembawaan dirinya yang senang membagikan bonus terus berlanjut saat dirinya terjun ke politik praktis. Pada medium yang baru ini, Prabowo lagi-lagi disanjung oleh segenap pendukungnya. Dalam pandangan pendukungnya, Prabowo ini kira-kira sudah sampai pada fase sebagai “Bapak Bangsa”. Dengan kata lain, meski Prabowo selalu gagal dalam Pilpres, namun kecintaan dan fanatisme para pendukungnya tidak berkurang sejengkal pun.

Mulai hari ini, semua kenangan indah tersebut telah hangus, ketika Prabowo resmi dilantik sebagai Menhan dalam kabinet Jokowi. Kita tidak tahu apa yang ada dalam benak Prabowo, apakah Prabowo telah melupakan begitu saja sanjungan segenap pendukungnya, untuk “sekadar” memperoleh posisi Menhan. Saya kurang yakin, bila Prabowo tak lagi berempati kepada para pendukungnya, yang tentu saja kini sangat kecewa, ketika Prabowo menempuh jalan pragmatis dengan menyatakan bergabung dengan kubu Jokowi.

Selalu ada yang linier dalam sejarah. Bila saat menjadi komandan pasukan dulu Prabowo biasa melakukan terjun bebas saat berangkat ke medan operasi, kini di ranah politik Prabowo kembali lagi “terjun bebas” ketika menerima posisi menteri pertahanan.

Saya mencoba memahami road map yang bakal ditempuh Prabowo kelak, berdasarkan pengamatan selama ini terhadap dirinya. Setidaknya ada dua agenda yang akan dimainkan Prabowo, ketika dia dengan mantap menyatakan diri bergabung dengan kubu Jokowi. Pertama, dia masih terobsesi untuk menjadi presiden sehingga masih mungkin dia akan maju lagi pada Pilpres 2024. Kedua, terkait dengan pembawaan dia sebagai filantropis.

Dengan bergabung di pihak kubu “lawan”, Prabowo ingin merasakan bagaimana atmosfer pihak lawan, yang telah dua kali mengalahkannya. Jadi singkatnya, Prabowo sedang melaksanakan operasi intelijen skala besar sebagai modal pengetahuan menuju Pilpres 2024. Bisa jadi Prabowo sedang terinspirasi oleh Opsus (Operasi Khusus) Ali Moertopo dulu, yang terkenal dengan operasi “penggalangan”.

Baca juga:  Umar Kei Kena Kasus Sabu, Fadli Zon Sebut Jokowi Tak Sukses Berantas Narkoba

Saya kira Prabowo juga tidak polos-polos amat ketika dia menyatakan bersedia menjadi menteri pertahanan. Artinya dia juga akan mengambil manfaat dalam posisi ini. Dia akan melakukan penggalangan, seperti konsep dalam tentara, dia menyusup jauh ke kubu lawan, bila perlu di belakang garis pertahanan lawan.

Dalam bahasa sehari-hari, kita biasa mendengar ada plus-minusnya dalam memutuskan sesuatu. Nah salah satu faktor plus dalam memilih Prabowo adalah pembawaan filantropi yang melekat padanya. Saya membayangkan, saat menjadi Menhan nanti, Prabowo tidak segan-segan untuk mengeluarkan dana pribadi, agar segala programnya bisa jalan.

Dalam hitungan kasar, skemanya bisa 50:50, antara dana pribadi Prabowo dan APBN.

Dulu dalam anggaran negara ada istilah off-budget (dana non-budgeter), yakni dana yang ada di luar anggaran resmi, yang tidak tercatat dalam APBN. Pada komponen inilah Prabowo bisa menyalurkan hasrat mulianya sebagai filantropis. Tentu ini sangat meringankan negara, setidaknya karyawan yang menjadi organik Kementerian Pertahanan, tidak perlu waswas soal THR dan bonus lainnya. Dan bisa jadi, tindakan Prabowo akan lebih jauh lagi, misalnya mengakusisi unit kapal selam, atau alutista lainnya, dengan menggunakan dana pribadi, setidaknya untuk down payment-nya.

Untuk menggambarkan figur Prabowo hari ini, saya meminjam ungkapan yang biasa dipakai generasi sekarang, “Main lo kurang jauh, Bray.” Ungkapan ini biasanya muncul secara spontan ketika menemukan kawan yang sekiranya rada kuper atau suka telat info. Prabowo tentu sudah pernah pergi jauh ke seantero dunia. Pada dekade 1950-an, ketika rakyat kita masih makan nasi jagung dan gaplek, Prabowo sudah bersekolah di luar negeri.

Namun dari segi imajinasi, ternyata Prabowo Subianto tidak beranjak jauh. Obsesinya terhadap kekuasaan telah menjadikan dirinya terbelenggu sehingga jadilah dia yang “mainnya kurang jauh.”

BACA JUGA Nama-nama Mengejutkan dalam Pengumuman Menteri Jokowi dan artikel Aris Santoso lainnya.