MOJOK.COKontestasi pemilihan ketua umum di munas Golkar pekan ini akan menjadi tontonan menarik. Ada persaingan keras antara petahana Airlangga Hartarto dan penantang Bambang Soesatyo.

Sebagai parpol warisan Orde Baru selain PPP, Golkar masih berjaya hingga hari ini. Sementara PPP senantiasa tertatih-tatih mempertahankan eksistensinya. Identik dengan Orde Baru, namun tetap berjaya, itulah yang menjadikan Golkar fenomenal, dan segala aktivitasnya tetap menarik untuk diamati, termasuk musyawarah nasional (munas) Golkar yang akan diselenggarakan mulai Selasa besok (3 Desember 2019). Isu terbesar munas kali ini adalah soal kontestasi meraih posisi ketua umum (ketum) partai.

Kontestasi pemilihan ketum merupakan daya tarik yang lain lagi dari Golkar. Sebab, biasanya pertarungan berlangsung seru karena faksi di Golkar lumayan banyak. Coba bandingkan dengan parpol lain seperti PDIP atau Partai Demokrat yang sejak jauh hari sebelum munas atau kongres, publik sudah tahu siapa yang bakal menjadi ketumnya.

Apa yang menarik dari parpol seperti itu? Seorang jurnalis bahkan sudah bisa menyiapkan berita hasil munas mereka sebelum pemilihan terjadi. Lalu, ketika proses pemilihan ketum sedang berlangsung, si jurnalis mungkin sudah ngopi-ngopi sore karena beritanya memang sudah siap diunggah sebelum pemilihan berakhir.

Dalam munas Golkar kali ini, penantang paling serius bagi petahana (Airlangga Hartarto) adalah Bambang Soesatyo (Bamsoet). Mungkin sadar bahwa petahana bakal sulit ditaklukkan, mengingat Airlangga adalah bagian dari kekuasaan (Jokowi), Bamsoet telah merancang sebuah kontradiksi sebagai cara memperbesar ruang bagi dirinya.

Bamsoet mengajukan argumentasi, dia siap memperebutkan jabatan ketum karena Bamsoet merasa pendukungnya tengah dizalimi oleh kubu petahana. Bila ditelusuri lebih jauh, apa yang dimaksud dengan dizalimi, ternyata hanyalah pergeseran dalam posisi di parlemen. Singkatnya, anggota DPR yang dianggap sebagai pendukung Bamsoet dimutasi pada posisi yang kurang strategis. Mutasi “ringan” seperti itulah yang kemudian diistilahkan sebagai dizalimi.

Apa yang bisa kita katakan atas kontradiksi kreasi Bamsoet tersebut? Secara cepat kita bisa katakan, itu adalah sebuah kontradiksi abal-abal karena konflik itu terjadi antara pihak atau kelompok yang sama-sama sejahtera. Tentu ini sangat berbeda dengan gambaran kontradiksi yang biasa kita kenal, yaitu sebuah pertarungan kelas antara kelas yang sejahtera atau mapan berhadapan dengan kelompok rakyat jelata seperti kelompok miskin perkotaan.

Baca juga:  Rahasia di Balik Tidurnya Setya Novanto

Pergeseran itu sebenarnya tidak terlalu signifikan juga. Khususnya dalam aspek kesejahteraan. Kesejahteraan pihak yang “dizalimi” tih hanya berkurang sedikit. Dalam hal kendaraan misalnya, mungkin dari yang sebelumnya kelas Alphard atau Lexus, kini berganti Fortuner (kendaraan favorit Bamsoet). Atau seapes-apesnya, berganti jadi Toyota Innova.

Tapi, mana mau anggota parlemen yang terhormat di Senayan naik mobil sekelas Kijang, yang belum-belum selalu mengeluh pinggangnya berasa nyeri, sebab peredam kejutnya tidak sehalus mobil yang kelasnya lebih tinggi.

Dalam pengamatan sekilas, Bamsoet terbilang politisi unik bila dihubungkan dengan tren elite politik sekarang yang umumnya anak-anak orang besar. Saat ini kecenderungan untuk kembali menuju sistem feodalisme kembali menguat. Misalnya Airlangga Hartarto sendiri, yang ayahnya seorang menteri di masa Orde Baru. Sementara Bamsoet datang dari keluarga biasa-biasa saja alias bukan anak seorang tokoh terkenal.

Ibarat dunia sepak bola, kita tidak pernah kekurangan politisi berbakat, dan salah satunya adalah Bamsoet. Namun, begitulah yang selama ini terjadi, baik talenta sepak bola maupun politik seolah menghadapi “kutukan”. Mereka menjadi sulit berkembang ketika sampai pada level “kompetisi” yang tinggi ketika tantangan di depan semakin kompleks.

Bagi politisi, situasi sulit biasa terjadi pada politisi (potensial) yang datang dari keluarga biasa-biasa saja, seperti Anas Urbaningrum atau Setya Novanto. Sementara politisi dari keluarga orang besar, selalu ada tempat untuk berlindung sementara.

Bagaimana agar Bamsoet tidak terantuk pada “kutukan” yang sama? Saya pribadi menaruh harap pada Bamsoet berdasar aspek simbolis yang pernah disandangnya. Mungkin sebagian dari kita masih ada yang ingat, pada seputar September dan Oktober, ketika sedang sedang berjuang untuk menggapai posisi Ketua MPR, Bamsoet selalu mengenakan kemeja batik dengan aksen macan di dadanya. Pertanyaannya sekarang, gambar macan yang ada di dadanya bila diandaikan sebagai pesan, hal itu ditujukan pada siapa?

Baca juga:  The New Jokowi Dimunculkan Bamsoet Ketika Tanggapi Ramainya The New Prabowo

Bila Bamsoet ingin diidentikan sebagai “macan”, itu artinya dia ingin disebut sebagai orang yang pantang menyerah. Anggap saja bila ia gagal di panggung munas Golkar besok, tak perlu risau, masih ada palagan yang menanti dirinya, dalam arti Bamsoet bisa menciptakan kontradiksi yang lain, yang levelnya lebih tinggi. Pada fase ini, Bamsoet bisa mengambil posisi sebagai “macan” atau lokomotif demokrasi.

Hari-hari ini sedang ramai wacana soal pemilihan presiden akan dikembalikan pada MPR. Sebuah aspirasi yang absurd sebenarnya, yang sama saja dengan memutar jarum sejarah

Para elite politik hanya memikirkan kekuasaannya saja, termasuk bagaimana agar kekuasaan itu bisa selama mungkin ada dalam genggamannya. Bila perlu kekuasaan itu dilanjutkan pada anak-cucunya. Para elite politik sungguh abai pada perjuangan aktivis-aktivis muda dekade 1970-an sampai 1990-an, yang beberapa di antaranya harus meregang nyawa demi menumbangkan rezim otoriter Soeharto (1965-1998).

Pemilihan presiden langsung, dan kemudian masa jabatan dibatasi dua kali, tak bisa dipisahkan dari perjuangan aktivis-aktivis muda di masa itu. Melihat perilaku elite politik seperti itu, jangan salahkan generasi milenial bila kelak mereka tidak menaruh respek pada elite politik era sekarang. Pada titik ini, sosok seperti Bamsoet bisa mendesain kontradiksi yang lebih canggih, tentang adanya sebuah pertentangan “kelas” antara elite politik melawan arus besar aspirasi rakyat yang ingin agar pemilihan presiden dilakukan secara langsung dan masa jabatan presiden tetap dibatasi (dua kali).

Bila Bamsoet berani pasang badan untuk kepentingan rakyat banyak, bukan sekadar pasang badan bagi para pendukungnya di parlemen, berarti Bamsoet benar-benar “macan”, sebagaimana gambar yang pernah ada di kemeja batiknya. Ekspektasi pada Bamsoet sepadan dengan posisinya sebagai Ketua MPR.

BACA JUGA Beredar Tips Menghindari Berita Tribunnews di Google atau esai ARIS SANTOSO lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles