soe hok gie haul 50 tahun meninggal mahameru semeru aktivis catatan seorang demonstran nono anwar makarim idealisme tulisan-tulisan kompas mojok.co
soe hok gie haul 50 tahun meninggal mahameru semeru aktivis catatan seorang demonstran nono anwar makarim idealisme tulisan-tulisan kompas mojok.co

50 Tahun Meninggalnya Soe Hok Gie, si Idealis yang Mati Muda

MOJOK.CO Waktu berjalan demikian cepatnya. Tak terasa pada Desember ini setengah abad sudah Soe Hok Gie berpulang.

Gie adalah tokoh ikonik gerakan mahasiswa yang juga dikenal sebagai pecinta alam sehingga proses perjalanannya menuju keabadian di Mahameru, sebutan bagi puncak Gunung Semeru, menjadi epik tersendiri yang dibahas lintas generasi.

Sebagai seorang pemikir, sampai hari ini catatan harian Soe Hok Gie yang fenomenal juga buku yang diangkat dari skripsinya masih dicari dan dibaca banyak orang, khususnya generasi milenial. Gie sudah seperti Gus Dur, sudah bertahun-tahun tiada tapi masih juga memberi efek komersial bagi yang berkepentingan.

Saya sendiri melihat ada dua sisi Gie yang selalu menarik untuk dibahas. Pertama, soal idealismenya yang nyaris tanpa batas sebagai aktivis gerakan mahasiswa. Kedua, beberapa pemikirannya yang masih aktual sampai saat ini.


Terkait idealismenya, bisa dilihat saat dirinya memberikan sindiran keras kepada kawan-kawan segenerasinya yang masuk sebagai anggota DPR-GR 1967-1971, salah satu yang bisa disebut adalah Nono Anwar Makarim, ayah Nadiem Anwar Makarim. Secara simbolis Gie pernah mengirim peralatan kosmetik kepada 14 tokoh gerakan mahasiswa yang bergabung dalam parlemen hasil kreasi rezim Soeharto itu. Peralatan kosmetik itu sebuah metafora agar para tokoh mahasiswa itu terlihat “cantik” di depan penguasa (baru).

Dalam pandangan Gie, bergabungnya sejumlah aktivis gerakan mahasiswa tersebut dalam rezim Soeharto sebagai bentuk “penggadaian” idealisme, yang memang soal ini, Gie memiliki ukuran sendiri yang tidak mungkin ditawar-tawar. Aksi simbolis tersebut dilakukan Gie menjelang ekspedisi ke Gunung Semeru pada pertengahan Desember 1969. Perjalanan itu seperti yang kita semua tahu, berakhir dengan kematian Soe Hok Gie sehingga ia tidak sempat lagi melihat respons kawan-kawannya di parlemen.

Baca juga:  Arief Budiman: Intelektual Publik

Aksi teatrikal Gie bagi kawan-kawannya di parlemen bisa kita hubungkan dengan masifnya peran generasi milenial di segala sektor kehidupan, khususnya pada ruang kerja kreatif dan bisnis rintisan. Namun, ketika generasi milenial diberi posisi politis, seperti pengangkatan tujuh orang staf khusus Presiden dari generasi milenial, publik menjadi ragu. Dari segi usia, Gie beserta tokoh gerakan mahasiswa yang menjadi sasaran protesnya saat itu sebaya dengan generasi milenial (sekarang), artinya sebaya pula dengan staf khusus presiden Jokowi dari generasi milenial. Soe Hok Gie sendiri meninggal tepat pada usia 27 tahun kurang satu hari (17 Desember 1942-16 Desember 1969).

Gie seolah memiliki intuisi, bahwa “kekuasaan” adalah panggung tersendiri, yang bisa jadi belum sesuai bagi anak muda usia 20-an tahun. Dan itu terbukti, ketika tokoh mahasiswa bergabung dalam parlemen, pada akhirnya mereka tidak meninggalkan jejak apa-apa. Kurang lebih bakal sama riwayatnya dengan staf khusus Presiden generasi milenial, apa yang bisa mereka lakukan di Istana ketika harus berhadapan dengan politisi old crack macam Luhut Panjaitan, Megawati, Hendropriyono, Prabowo, dan seterusnya.

Kedua, soal pemikiran Gie yang melintasi zaman. Saya sendiri sangat tertarik dengan salah satu tulisannya berjudul “Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang” (Kompas, 16 Juli 1969). Tulisan itu adalah catatan reflektif bagi rezim Soeharto yang sedang menikmati manisnya kekuasaan. Kalau kita sepakat, Soeharto mulai efektif berkuasa sejak 11 Maret 1966 (sesuai dengan Supersemar). Berarti ketika tulisan itu terbit, Soeharto sudah berkuasa sekitar tiga setengah tahun.

Baca juga:  Film Posesif: Sebuah Naskah Remake Versi Mojok

Dalam hitungan kasar, rentang waktu tiga setengah tahun artinya baru sepersepuluh dari durasi total kekuasaan rezim Soeharto, yang berakhir pada Mei 1998. Satu hal yang saya ingin katakan adalah, kalau baru tiga tahun saja rezim Soeharto sudah membosankan, apa jadinya bagi yang merasakan kekuasaan Soeharto sejak awal sampai akhir?

Ada baiknya saya kutipkan salah satu alinea dari tulisan tersebut, “Kita juga sudah bosan mendengar ucapan Ketua MA, Jaksa Agung, Presiden Soeharto sendiri, dan Menteri Kehakiman, tentang human rights dan rule of law.”

Ini adalah sebuah narasi gamblang bahwa sejak dulu pejabat memiliki gaya komunikasi tipikal yang dari segi substansi, kebenarannya sangat tipis. Sekarang pun begitu, cuma bedanya di zaman medsos ini, bila ada pejabat yang bicara lebay, harus siap menerima bully dari generasi milenial.

Soal durasi waktu ini bisa kita hubungkan dengan wacana yang muncul hari ini, soal amendemen konstitusi agar presiden bisa berkuasa sebanyak tiga periode alias 15 tahun. Ini sama saja dengan mengulang rezim Soeharto, mengulang sebuah era yang membosankan, kalau mau menghindar penyebutan era kegelapan.

Saya sebagai bagian dari rakyat jelata tentu saja tidak mendukung wacana amendemen konstitusi terkait masa jabatan presiden. Bagi rakyat kebanyakan, pergantian penguasa adalah hiburan tersendiri. Sebab siapa pun yang berkuasa, rakyat jelata juga tidak terlalu merasakan manfaatnya.

Baca juga:  Atta Halilintar Benar, Suara Suami kayak Dia Mesti Diperlakukan bak Suara Tuhan

BACA JUGA Sumanto dan Tidur sebagai Perlawanan atau esai ARIS SANTOSO lainnya.