Beberapa hari terakhir media sosial ramai dengan #AyoMondok, sebuah gerakan yang menganjurkan anak muda untuk kembali ke pondok pesantren. Konon sih, ini konon katanya, karena di era internet ini ajaran agama disampaikan secara serampangan. Dengan adanya gerakan mondok, para pembelajar agama bisa dengan langsung belajar melalui metode yang benar: membaca kitab suci dengan asbabun nuzul-nya, asbabun wurud-nya, memahami fiqih dengan teks aslinya. Tapi ya itu, mosok di zaman yang sudah canggih dengan teknologi internet ini kita mesti belajar agama dengan cara yang ketinggalan zaman? LOL banget gak sih?

Orang-orang yang mempromosikan pun adalah orang-orang liberal. Coba bayangkan, yang mempromosikan itu kalo nggak Akhmad Sahal ya Ulil Absar Abdalla. Coba bayangkan, dua orang ini kan orang JIL. Perkara 800an lain orang yang mempromosikan #AyoMondok bukan orang JIL ya gak peduli. Pokoknya #AyoMondok ini agenda JIL untuk merusak umat. Pokoknya semua yang dipromosikan dan didukung orang-orang JIL, meski orangnya cuma satu-dua, itu adalah agenda liberal, dan kita mesti melakukan jihad melawan liberalisme—menggunakan fasilitas kebebasan berpendapat yang merupakan produk demokrasi liberal. Yeah!

Untuk itu, mari kita merapatkan barisan untuk menolak #AyoMondok. Gerakan itu gerakan standar ganda. Katanya Islam Nusantara bukan Islam Arab, kok yang diajarkan malah Arab gundul? Wah, ini kan pelanggaran? Saya sepakat sekali sama akun anonim Twitter yang bilang bahwa orang-orang #AyoMondok ini standar ganda. Katanya mendukung Islam Nusantara, tapi kok pamer kemampuan bahasa Arab? Ya walaupun ada tafsir “Al Ibriz”, kitab tafsir Al Quran dalam bahasa Jawa karya Kyai Bisri Mustofa, tapi itu kan hanya satu. Eh, ada banyak selain Kyai Bisri Mustofa ding. Tapi pokoknya standar ganda lah. Pokoknya #AyoMondok ini gerakan yang standar ganda!

BACA JUGA:  Dia Menerimaku Hanya Sebagai Pelampiasan

Pesantren itu udik dan tidak modern. Bayangkan saja, untuk satu perbedaan saja mereka mengadakan bahtsul masail; forum di mana dua orang yang berbeda pendapat terhadap satu masalah agama saling berdiskusi dengan sumber-sumber primer. Misalnya, apakah khilafah itu wajib atau tidak, maka dalam forum bahtsul masail, pendukung maupun penolak akan memberikan argumen, klaim yang berdasarkan sumber primer. Ini kan menyusahkan? Pesantren kok macak demokratis. Pesantren itu ya harusnya monolitik. Pokoknya nurut kyai. Titik!

Wong zaman udah modern, belajar agama ya tinggal pergi ke emperan masjid, cari murrabi, Google deh. Beres. Kok masih harus repot belajar bahasa Arab, belajar logika sampe harus punya pemahaman terhadap teks. Ketinggalan zaman banget gak sih?

Lho ya jelas ketinggalan. Di pesantren, setiap santri diajari Nahwu-Sharaf dari awal. Bagaimana cara membaca, memahami dan mengerti teks dengan kaidah yang njlimet. Belum lagi harus menghafal Alfiyah yang banyaknya na’udzubillah. Kitab-kitab babon kayak Akhlaqul Banin, Ta’limul Muta’allim, Risalah Mu’awanah hingga Minhajul Abidin, semua diajarkan manual tanpa bantuan Google apalagi Wikipedia. Apa ya ndak menyiksa?

Lagipula apa sih fungsinya Pondok Pesantren? Paling-paling hanya melahirkan lulusan-lulusan liberal yang bikin pernyataan kontroversial. Contohnya Ulil Abshar Abdalla, Akhmad Sahal, dan cecunguk-cecunguk JIL lainnya. Lihat, banyak sekali kan lulusan pesantren yang liberal? Anda mungkin akan segera menyebut nama-nama yang tidak liberal seperti Muhammad Al-Fayyadl penulis Teologi Negatif Ibnu ‘Arabi, Ainun Najib Kawal Pemilu, Yahya Cholil Staquf Terong Gosong, dan Hidayat Nurwahid PKS mantan Ketua MPR. Ah, itu kan pembelaan Anda saja. Lebih banyak yang liberal. Pasti.

Ada juga yang koar-koar, pesantren punya peran penting untuk perjuangan kemerdekaan republik ini. Katanya, secara historis pesantren jadi satu lembaga pendidikan paling awal di negara ini, dan secara sosial pesantren-pesantren pernah mempelopori berbagai perubahan di masyarakat. Ah, tapi itu kan katanya. Dan kalaupun bener, itu kan masa lalu.

BACA JUGA:  Surat Terbuka dari Mantan Santri untuk Pak Luhut Panjaitan

Sekarang ini pesantren sudah tidak relevan. Kalo bisa belajar agama dari Google, kenapa harus belajar Nahwu-Sharaf? Kalo bisa ngutip Quran dari banyak blog, kenapa harus banyak belajar kitab pendamping apalah itu? Kalo bisa menghukumi sesuatu dengan fiqh yang ada di Wikipedia, kenapa kita harus belajar logika mantiq? Sudahlah, gak usah mondok.

Karena semua masalah di negeri ini sumbernya adalah JIL dan hanya khilafah solusinya.

  • raspberry

    sarcasm at its finest

  • Syamsoel Hendratno

    Hihi setelah baca sampai kelar baru paham alurnya kemana. Pondok Al-Google

    • Sendy Aditya Suryana

      udah banyak alumni Al-Gugiliyah, At-Tittariyah, Al-Fisbuqiyah lho… :))

  • will be back

    bwt yang nulis, lebih baik rasain dulu setaun mondok, lebih banyak yg bisa dipelajari daripada kaidah2 bhs. arab n kitab2 yg kamu sebutin, setelah itu blik nulis lagi

    • Langit Amaravati

      Btw buat yang komen di atas, wudhu dulu gih biar ga tegang. :v

      • Saiful Hosni

        Dhani (?) Org nganggur, gada krjaan, diputer2 maka jadilah! Dia tdk prnh brkata apa2, hanya trs brtanya, nunggu org kepleset

        • Langit Amaravati

          Untuk memahami sebuah tulisan, memang tergantung kepada wawasan si pembaca sih, Mas. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Dhani justru mengajak kita bertanya, mengubek-ubek logika kita.

          Saya sih paham apa yang ingin Dhani sampaikan. Entah ya kalau Anda.

          • Igo Edogawa

            aku mah nyimaka aja atuh :v

    • Buat kang will be back, ngopi dulu biar matanya kuat baca sampe akhir

    • Alumni UMS

      padahal sing nulis lulusan pesantren :v

    • dayat

      Ini tulisan satire. Tulisan sindirin yg keras dr Dhani ke para penolak gerakan ayo Mondok. Masa kamu gak ngeh

    • SackimiL

      komen ini juga perlu di upvote…. biar lebih rilekx

  • Yudha

    Nyangkomen udah keciri mana yang funya otak 2D mana yang bener bener faham ini tulisan :v … Salut buat fenulisnya luarbiasa 😀

    • anang

      biasa diluar klo ini mah,,, wkwkwkwkw

  • kak nil

    Tulisan g mutu, coba kalau ada solusi atas kritikan tajam kampanye ayo mondok dengan misalnya mendirikan lembaga pendidikan atau apa, ini tulisan kok g ada solusinya.
    Goblok yah mbok jangan dipublikasi gini, jadi malu sama2 penganut khilafah nulis ginian!

    • Lee Shin

      Ngakak aja mbaca komen ini… 🙂 peace mas. Mungkin perlu baca sekali lagi sambil minum kopi hitam 🙂

    • salafiyah

      Bacanya yang adem mas. Wkwkwk

  • lapses of logic

    Lapses of logic nya banyak banget mas,, kalau ini analytical essay, skornya pasti E.. (maaf ya mas.. peace..)

    “Kalo bisa belajar agama dari Google, kenapa harus belajar nahwu-sharaf?
    Kalo bisa ngutip Quran dari banyak blog, kenapa harus banyak belajar
    kitab pendamping apalah itu? Kalo bisa menghukumi sesuatu dengan fiqh
    yang ada di Wikipedia, kenapa kita harus belajar logika mantiq?”
    LOL
    Tahukah Anda bahwa wikipedia dan asal comot di google bisa bikin mahasiswa gagal lulus skripsi (to define how “horrible” google is, if only you know what I mean)? apalagi kalo belajar agama, yang mempelajari ayat Allah dan hadits Nabi pakai google..

    “Karena semua masalah di negeri ini sumbernya adalah JIL dan hanya khilafah solusinya.” Well,.saya bisa melihat akhirnya darimana semua kebencian ini datang.. ternyata oh ternyata…

  • mengajak berpikir, lalu ketawa, seharusnya — Satir; kalau yang membaca betulan tertipu, yooo.. blas tidak akan dibuat berpikir, apalagi ketawa. Seringkali keusilan semacam ini disebarkan sebagai “eksperimen”, lalu kemudian hasilnya dilaporkan kepada lingkar pertemanan pelaku. Dan tertawalah mereka, tertawa menandakan SUPERIORITAS. Ini mengherankan; di mana faedahnya? Korban yang terlanjur percaya ‘kan tak bisa satu-satu diinformasikan bahwa “eksperimen”-nya sudah berakhir… Pie nek ngene Gus Arman Dhani.. 😉

    • abuze

      sesetuju mas adib. fikir adalah hal yg utama dr suatu amal. klo fikir cmn bwt iseng..bs digambarkan apa yg dibuatnya..>akibat yg anda buat akan jd tanggung jwb anda kelak.

      (ayo saling ajak dlm kebaikan)

  • ninogreyhusky

    Artikel satir, yo!
    Kebanyakan org skrg udah g mw mau belajar ke ahli nya lagi. Tinggal ngetik di search engine, then voila! Pdhl dgn mondok, pemahaman jd lebih dalam g sekedar baca, manggut-mangut, paham cuma sekian persen, trus bsknya lupa.

  • salafiyah

    Wkwkwk.. Baru “ngeh” setelah tak pikir. Josh gus arman..

  • shcode

    Ini tulisan lucu apa serius ya? Kalau lucu, saya mau ketawa. Hahahaha.
    Tapi kalau serius, saya sarankan dipikir dulu mas sebelum nulis. Tapi tak lanjutin ketawaku. Hahahaha.

  • eggajuve

    masih banyak lulusan pesantren yg gak akan menulis seperti dia. kalau pondok yg dia maksud itu yg berafiliasi dengan NU, maka masih banyak pula ulama NU yg juga “memarahi” ulil dan JIL. kalau ulil bilang #ayo mondok, ya itu baik-baik saja, lgipula apakah ada banyak yang berani mnghujat ajakan baik seperti itu??walau ada kan cuma satu dua saja. kadang kesombongan dan kefanatikan memang membuat orang jadi aneh, bahkan bagi orang secerdas penulis sekalipun.

  • Dhimas Romadlon Maulana Solih

    yakin lo bang ?
    lo yakin bisa belajar agama lewat internet aja ?!
    jangan2 pas lo ketik http://www.sinaungaji.com ,
    eh ternyata lo keliru ngetik http://www.sinaunaji.com , dan pada akhirnya lo di lemparin ke situs yang tulisannya “mau ML ama cewe ini >>>> ?”

    itu juga termasuk salah satu agenda Liberal untuk merusak moral agama melalui INTERNET yang lo bangga2in sebagai modernitas

    GOOGLE ,, sapa yang buat , bukan NON MUSLIM ? bukan NON LIBERAL ? bukan MUSUH-MUSUH Islam ?
    nah , setidaknya anda tau, kalo yang buat Google , Sosmed dan jaringan internet lainnya bukanlah orang MUSLIM yang baik atau bahkan mereka adalah orang NON MUSLIM , atau LIBERAL KOMUNIS dan saudara2nya
    bukankah mereka adalah SERVER dari Internet itu sendiri ?
    dan bukankah seorang SERVER itu bebas meng-OTAK ATIK apa yang dia buat ?

    jadi, bukankah ilmu2 dari GOOGLE, WIKIPEDIA dll,. itu masih sangat patut dipertanyakan ?

    sedangkan , Mayoritas Pemilik/Pengurus/Pengajar PONDOK PESANTREN adalah Orang-Orang yang sudah sangat diakui oleh Masyarakat sekitar bahkan disahkan oleh Negara bahwa mereka adalah orang-orang yang pantas Mendidik putra putri bangsa ?

    Kalau begitu , lebih bahaya mana ? BELAJAR DI GOOGLE atau di PONDOK PESANTREN ?

    jawabannya gak usah pakek mutar otak / apalagi celanamu ..

    cukup dengan titik bantu MANA DIANTARA KEDUANYA YANG MEMILIKI ANCAMAN BAHAYA LEBIH BANYAK

    COBA DIFIKIR PAKE OTAK !

    Karena semua masalah dinegeri ini sumbernya adalah orang-orang kayak lo

    • Girasti Dewanggani

      iya bener nih! dasar arman dhani! jangan2 gak tau satir dan sarkasme juga dia! dasar JIL!

    • mungkin sampean gagal faham mas ,atau saya sendiri yang gagal faham comen anda ini satir dan saya terlalu menganggap serius ,asudahlah

    • Meidiawan Cesarian Syah

      ini serius apa satir yha komentarnya? Satirception~

    • Nasrul Anwar

      ngopi dulu lah bang..hehehe

    • Sendy Aditya Suryana

      gak usah ngomongin GOOGLE, INTERNET, WIKIPEDIA kalau anda belum bernah mondok di warnet mas…

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Dhimas sehat?

    • sirotobi

      mas mas, biasakan lah membaca sampai habis. anda ini seperti berak tp langsung berdiri masang celana tanpa cebok dahulu.

  • Tulisan Keren…. 🙂

  • slamet gundono mc quin

    hahaha asu congormu iki felik moco misuh misuh tom, lah kate kilafah tablig akbar ndok stadion dijak mondok wkwkwk ancokkk kepingkel moco tulisan tom hahaha

  • christudent

    Mas Arman, mungkin perlu diberikan disclaimer di bawah tulisan ini bahwa artikel di atas adalah satir, yakni tulisan yang bermaksud memberikan kritik terhadap suatu ide, dalam hal ini penentangan yang banyak beredar di media sosial terhadap gerakan #AyoMondok, melalui humor 🙂

    • Err… ini kan website Mojok, masih perlu yah?

    • Sendy Aditya Suryana

      sejak kapan tulisan di sini serius?

    • Marlina Panjaitan

      Justru tulisan satir harus liar dan multi tafsir,di situ justru menariknya tulisan satir.Hanya org yg paham yg dapat menikmati segala ‘kegelian’ dalam pesan2nya. 😉

    • Saya rasa tidak perlu diberikan disclaimer.
      Nanti malah semua terlihat bodoh karena satir aja kok pakai penjelasan 🙁

  • Adi Faeftri Yuniawan

    Membutuhkan pemikiran yang jernih untuk memahami tulisan ini….. Keren Bang…..

  • Al Ghofilll

    ha ha jadi pingin ketawa lihat tulisan ini, permisi ya, penulisnya sotoy banget. Aku jadi semakin yakin dan mantab menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren.

  • pala loe

    Ini nih contoh2 yg bljar lwt google…….

  • ghulam_

    cecunguk cecunguk nya ituloh.. bikin ngakak, hhhahaha Has pesantren sekalii.. weheheh

  • Park Ji Lul

    Satir yang multitafsir. Bisa satir ke muslim jaman sekarang yang apa-apa referensinya mbah google atau satir ke pondok pesantren yang pengajarannya masih “kolot” atau satir ke justifikasi orang-orang macam Ulil (baca: Ulil celalu calah :v ). Anyway, keep writing a good satire like this bro (y)

  • ริโอ อัรมันดา

    OK OK 😀
    Anggap saja Anda benar (walaupun nyatanya salah), jangan cuma mengkritik dong, perlu berbagi solusi.
    Kemudian apa solusi Anda untuk menjaga Islam dari paham menyimpang?
    Bagaimana aksimu untuk melindungi moral anak Bangsa?
    Bagaimana memperbaiki moral anak muda saat ini?

    Yakin dengan Search Engine cukup?
    Search Engine itu menampilkan yang banyak diminati lho, bukan yang bener dan salah 😀

    • Lutpi

      Samlekum. Anta sehat?

  • Baru sadar banyak yang kurang piknik dari pengikut tulisan Dhani.

    • dayat

      Ini tulisan satire. Tulisan sindirin yg keras dr Dhani ke para penolak gerakan ayo Mondok. Masa kamu gak ngeh…

      • Salah satu orang kurang piknik lainnya.

      • abuze

        ini mah bukan satire kang…kompor mleduk yg ada.

  • noah

    ini yg posting orang islam gak si…takutnya adu domba biar islam pecah

    • sirotobi

      ane rasa ini postingan orang rusia. makanya ente tidak mengerti.

  • Ulin Nuha

    aku ra peduli karo awakmu. aku ora rumongso kepojok

  • Nasyit Manaf

    Penulisan satire. Gaya ini adalah gaya penulisan yang sering juga diitemui di blogsphere. Gaya ini digunakan oleh para bloger dengan tujuan secara tidak langsung ingin membongkar sesuatu dengan gaya olok-olok, humor, mengimajinasikan apa yang ditentang menjadi kenyataan, ironi dan lain sebagainya. Selalu Ada suatu tujuan korektif dibalik kekonyolan dan ejekan itu.

    Cara yang dipakai juga bisa bermacam-macam. Bisa dengan cara yang kasar, memparodikan sesuatu, dengan sinis, dengan bahasa pengandaian dan perumpamaan, dan juga bahkan dengan dilengkapi dengan foto dan skrinsyut. Makna yang terkandung dalam gaya penulisan satir adalah makna yang terkadang konotatif dan tersembunyi. Orang lain yang membacanya terkadang tidak memahami maksud langsung (direct intention) dari si bloger. Orang juga harus mengetahui “latar belakang” dibalik cerita satir itu.

  • el-kaf

    Memang yg tidak setingkatan tidak akan pernah bisa memahami. Khususnya yg bikin postongan ini. Semoga Allah mengampunimu

  • cheanizer

    Kurang lucu kang satirane. Apalagi topik sensitif kaya gini. pembacanya ada di level intelektual berbeda. ngak kaya artikel satiran lain seperti politik atau sosbud. :_))), kudu di pertegas nek iki ki ngelucu. whahaha.

  • Munezia Haris

    Menolak Gerakan http://mojok.co/2015/06/mengapa-kita-harus-menolak-ayomondok/@arman dhani; yg anda bahas lewat artikel anda itu sangatlah subyektif…kenapa?karena jelas anda bukan santri!atau pernah nyantri tapi jadi santri kelam!bagaimana bisa anda mengatakan bahwa “pesantren yg penting manut kyai..titik” dan bagaimana bisa anda memplot bahwa belajar agama cukup lewat internet tanpa memahami teks dan sekaligus belajar bahasa arab,,apakah anda menafikan bahwa alquran. Itu sendiri berbahasa arab yang dijadikan pedoman ummat islam dan Allah yang menjadikan alquran itu menggunakan bahasa arab,bukan jowo,bugis,padang atau dll…mikir!

    • Sendy Aditya Suryana

      kamu salah tempat.

    • dayat

      Ini tulisan satire. Tulisan sindirin yg keraa dr Dhani ke para penolak gerakan ayo Mondok. Masankamu gak ngeh

    • Ashim Furqoni

      kasian dia gak ngerti maksud tulisan diatas

      • welgeduwel

        emang maksud tulisannya apa mas ?

    • Guh Kun

      ya gini kalau sekedar baca ‘judul’ …

    • Zaim Alfa Ramadhan

      hahaha berkonflik tanpa tau isi. santai masbro…

    • SackimiL

      mari kita upvote komen ini….

    • Abdee

      Munezia Haris ~> ini orang cerdas!! *2thumbsup*

    • Mayla M. Putro

      Bodoh adalah ketika satir harus dijelaskan

  • Munezia Haris

    Terkadang kita terkecoh mans satire dan mana curahan ide emosional…terlepas dari itu semua perlu pemahaman yg dalam tentang suatu case atau issue,spy tdk kontroversi! Ingat bahwa orang munafik itu tdk akan bahagia dunia akhirat.yakinlah itu!

  • Julians

    Ini maksudnya apa sh? Gak semua orang islam berpikiran seperti anda bung! Hati2 kalo ngomong!

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Julians sehat?

  • yusuf hidayat

    yang saya pahami dari tulisan ini adalah mengajarkan kepada pemuda penerus bangsa atau masyarakat indonesia secara menyeluruh untuk menjadi budak teknologi. Menjadi manusia yang hanya berfikir pragmatis mengandalkan GOOGLE saja. Padahal jika mau jeli, banyak sekali konten yang negatif dari internet bahkan yang ‘katanya’ mengajarkan tentang Islam sekalipun. Banyak bermunculan blog-blog ataupun situs ‘Islami’ yang mengajarkan islam dengan salah, yang asal posting copas dari sumber” yang tidak bertanggung jawab.

    jika mau mengkritik terhadap gerakan ayo mondok, itu sah sah saja. tetapi dari uraian penulis di atas tidak didasarkan pada pemikiran yang jernih, karena hanya didasarkan pada stereotip/ kebencian semata. Jika bilang pesantren merupakan sebagai ‘masa lau’, apakah tudak lebih ‘masa lalu’ Khilafah???. Toh, penulis tidak memberikan solusi yang lebih baik.

    Akan lebih baik jika penulis menulis dengan kejernihan fikiran dan hati. semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

    • Rayhan Maheswara

      Ini tulisan satir mas~

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Yusuf sehat?

  • N a n a

    Baca artikelnya udah senyam senyum, baca komen-komennya udah lebih senyam senyum. kayaknya indonesia perlu mencanangkan kewajiban piknik minimal sebulan sekali bagi warganya.

  • Ibnu Mu’tasom

    Sebuah kritikan yang membangun.., meskipun menjatuhkan.
    Sudah pernahkah anda MONDOK???….
    Kalau prnah mungkin anda tdak bangga dngan pndok anda….
    Kalau blum maklum lahh anda msih bdoh pngetahuannnnn

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Ibnu sehat?

  • Diek Rohast

    Saya setuju dg anjuran piknik…barangkali mingguan…sabtu minggu gunain utk rehat…jangan serius mulu biar urat ga pada tegang….buat sensitifer dan marahist mungkin website ini ga cocok…piyungan mestinya yg dikunjungi..

  • Anjaha Naufal Muhammad

    wahahahahahhahahahahahahahahahahhahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahahahahahhahahahhhhhahahahhaahahah …… (padahal gak ketawa)
    jadi gini lho mas ,, or mba ,,, yo bebas to lek ,,, hidup itu pilihan ,,,, atau opsi ,,, atau apalah ,,,, jadi ,, kalo ajakan itu ngajak buat kebaikan ya biar to ,,, orang modern gk usah sok pinter ,, dasar

  • A Hmujahid Ilmi

    saya yakin suatu saat teknologi ini akan musnah.. jadi kalian tidak bisa mengandalkan yg namanya teknologi ini. yg nulis teks d atas kayaknya dia depresi deh. waallau a’alam.

    • Rayhan Maheswara

      Ini tulisan satir lho

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Ilmi sehat?

  • faishal

    Pasti mas ngga pernah mondok. Kalo yg bilang seperti ini orang pondok saya percaya.
    Mohon dikoreksi ya.
    Kita muslim, mohon bahasanya sesuai akhlak muslim.
    Terima kasih mas.

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Faishal sehat?

  • Ekky Imanjaya Part II

    kurang satir, dan akhirnya jadi terkesan meremehkan pesantren, sejak dari judul. setelah membaca tulisan ini, kesannya sangat kuat bahwa sang penulis pro khilafah dan anti pesantren. sayang sekali…

  • gomez

    gak pernah mondok ae nulis artikel kayak gini… salah kabeh pendapat’e… gak perlu di reken ini orang…!!!!!

    • Pratiwi

      situ orang kurang piknik, Bung!

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Gomez sehat?

  • saifuddin aman

    Nampaknya mendukung org2 yg suka menjelek-jelekkan JIL padal memololkan org2 yg suka menghujat JIL. SY sendiri sering diduga sebagai kelompk JIL karena sy selalu mengajak org menggunakan akal dlm beragama. Pikiran tidak boleh dibatasi, krn pikirn itulah yg membuat org tahu apa yg baik dan buruk. Org yg menghujat JIL mereka berarti tidak menggunakan hati dan akalnya, tapi menggunakan dengkulnya.

  • Abdurrahman Chudlori

    Tulisan kampanye negatif seperti ini malah mendorong orang untuk mondok, apalagi cuman karena alasan alumni pondok banyak menjadi pemikr liberal dan menolah konsep khilafah….memang sudah gila apa bangsa ini mau jadi anteknya bagian bangsa arab yang bahlul ?

  • smurfin

    Arman Dhani …. aku pada mu klo udah urusan nyindir …..

  • Noor Athiyah

    Beberapa dari kebiasaan kita:
    – mudah terbawa esmosi, tergiring n terprovokasi,
    – mudah terbawa tren

    Hasilnya, dapet broadcast an atau share-2an suatu link, termasuk link artikel ini, terpancing untuk membaca dan mudah sekali mempercayainya.

    Padahal, apapun yang asalnya dari internet, wong2 kulon alias orang barat alias western2 sono alias seng nyebar-nyebarke Google sudah ngajari kita untuk minimal tes CRAP (Currency, Reliability, Authority n Purpose/ Point of View). Ay (yakni) untuk ngetes keabsahan dan menggali makna sebenar dari suatu tulisan.

    Jadi, kalau belum pernah baca tulisan Mas Arman ini (seperti saya, ini artikel Mas ini yang pertama saya baca – dan kayaknya bukan yang terakhir) penting untuk ngecek sopo se Author nya (Mas Arman Dhani), n apa purpose & bagaimana point of view nya? reliabilitynya, dari karya-karya sebelumnya. Kalau currency (keterkinian) jelas #ayomondok masih kini, masih tren.

    Dengan demikian, kita bisa tahu.. apa yang Mas Arman mau komunikasikan dari artikel ini…

    Tapi Mas e… ashli… etelah uji CRAP tadi, terus baca artikel ini lagi… masih BINGUNG juga… haha
    Kalau memang maunya satir, hikhik, IMHO, kurang kuat argumen di “jalan lurus” nya. Jadi memang rawan blunder.

    Tetep… tabik Mas… 🙂

  • Iskandar Muda

    Hahahaaa….asli ini menarik…tapi saya rasa informasi-informasi tentang Pondok Pesantren harusnya lebih banyak lagi, tapi ini juga udah mantab lah….!!!

  • Aly Manshur

    ikut2………

  • Syarief Ram

    haha…lucu juga

  • Kantong Kresek

    emang ada yang nolak gerakan #ayomondok? saya kok ndak denger ya.. Halah tulisan di mojok.co, ndak usah diseriusin 😛 Ditengok juga sekali2 aja, tak pikir gimana kok katanya heboh di sosial media, ternyata ya begini saja 😀

  • haririe

    dalam kitab ta’lim mutaalim. . cari ja keterangan tentang cara mencari ilmu. . ” bahwa mempelajari ilmu tanpa dibarengi dengan seorang guru, ustad, atau kiyai, tidak akan mendapatkan keberkahan dan bisa jadi syetan pun akan mempengaruhi pikiran kita ketika kita mempelajarinya, jadi ilmu yang kita dapat bisa jadi berasal dari pengaruh syetan tersebut. alangkah baiknya kita mempelajari ilmu bisa bertatap muka terhadap sumber ilmu tersebut (guru, ustad, atau kiyai). .

  • Firdaus Muntazar

    ehh ternyata satir toh..
    padahal tadi saya sudah ngamuk2 gak jelas, teriak dalam hati “tau apa ini orang tentang pondok?”

    dan sekarang saya justru tertawa setelah membaca komentar2nya.. haha

    jadi kalau memang ini satir, makna yang berkebalikan yang ingin ditunjukkan, kan? mestinya begitu, kan?

    contohnya saya ini aslinya gak pro sama khilafah versi IS**, terus lagi asik ngomong sama orang yang seneng sama khilafah versi itu.. yasudah saya ngomong aja seolah-olah mendukung dia, padahal dalam hati tertawa-tawa, “masih ada aja yang percaya yang kayak ginian?” 😀

    misalnya dia ngomong gini, “ehh liat tuh IS**, semakin berkuasa! sebentar lagi khilafah akan tersebar dan Islam akan jaya!”

    yasudah, saya cuma bilang, “Allah Akbar! Bagus sekali itu! Islam akan jaya bersama terbunuhnya banyak kaum ‘muslim’ yang dikafirkan!”

    nah, itu pemahaman saya tentang satir. yah intinya bertindak satir itu perlu menampakkan singgungannya dengan jelas.. menurut saya sih, singgungan tulisan ini masih kurang terlihat dengan sekali pandang.. pantas saja banyak yang langsung bersikap defensif..

  • Muhamad Sandy

    LOL banget sih lo!

  • Arief Rahman Hakim

    Awalnya mau buruk sangka sama yang nulis atas dasar judulnya yg nyeleneh, tapi daripada asal menjudge tanpa mengetahui isi pikiran penulis, akhirnya saya baca juga. dibaca dibaca terus sampe selesai. Akhirnya saya simpulkan bahwa penulis bukan orang buta pondok pesantren, bisa jadi dia adalah santri tulen. Sekarang tinggal penafsiran pembacanya saja.

  • honhon

    Hahahaha lucu aja baca ini, gerkan anti mondok tp hafal betul kitab2 yg diajarkan dipondok n seluk beluknya.
    Tapi kasian juga bg pembaca yg kholiyudz dzihni, efeknya bisa2 cuma caplok sana lapor sini.
    Waspadalah!

    • Igo Edogawa

      hehehe… ngeri mas :3

  • keri katugino

    Hanya seorang wali yang tahu bahwa orang lain wali..
    Hanya yang pernah merasakan hidupya getir yang tahu bahwa tulisan ini Satir…

  • Satria Persada

    kang arman memang djancuukkkk…. wekekekekekke

  • anda pasti kristen

    kenapa anda benci pondok? emang pernah ganggu anda?

    • amin setiawan

      lapar mas?

    • Cahya Purusatama

      mas makan dulu mas

  • Dedi Irawan

    Tulisan bagus dan lucu … Melawan pemikiran kaum “pasti benar” ya enaknya dengan yang beginian saja. Kalo diseriusin pasti bilang “Nabi Muhammad aja dimusuhin waktu berjuang, apalagi kita.”

  • khoir

    Awalnya saya pengen marah juga, tapi semakin baca kebawah kok ternyata si penulis tau nama-nama kitab, pakai istilah babonan lagi, jd nano-nano githu, setelah baca” komen dibawahnya ternyata eh, emang sesuatu bgt, salut-salut,

  • hasdi

    Yah, sepertinya sang penulis terlalu mendewakan yang namanya om google. Setiap kali ada permasalah agama mesti googling cari jalan keluarnya. Kalau para orang-orang shalih dulu mencari permasalahan agama melalui kitab-kita yang shahih, sekarang tinggal googling aja tanpa melihat pendapat siapa itu, syukurlah kalau sumbernya berdasarkan dalil-dallil shahih, nah kalau tidak dan asal-asalan? Hah, wikipedia…???!!! Ummm… Ah, mungkin saya yang ketinggalan jama kali ya?!

    • Lutpi

      Samlekum. Akhi Hasdi sehat?

      • hasdi

        Samlekum? Jawabnya apaan nih?
        Alhamdulillah khair,,,

    • Guh Kun

      ternyata banyak yg ngantuk waktu baca tulisan ini. wong minum kopi dulu kalo ngantuk, baru komentar :3

      • hasdi

        Oh ternyata gitu maksudnya nih tulisan…??? (Membaca Setelah minum kopi :D)

  • MH Hilmi

    baca komentar dan baru sadar ternyata tulisan satir jadi ketaw2 sendiri 😀

  • muhammad taufiq

    maaf sebelumnya.. .Sepertinya masih perlu ngaji lagi (belajar) sebelum memberikan argumen panjang lebar. .. menurut saya, sanad itu sangat penting krn segala sesuatu msti ada pertanggungjawabannya.. .

  • wahyu

    JIL memang sudah terlihat semakin jelas bahayanya, sayangnya ada gerakan Islam bahkan pesantren hingga universitas bisa di kuasai dan di grogoti dari dalam. Maka penolakan kita juga harus lebih giat lagi terhadap gerakan sempalan ini. selamatkan generasi kita dari paham liberal. #IndonesiaTanpaJIL

    • sirotobi

      betul , antum kira ini fasti ulah JIL, antek mamarika tafir mizonis dan wahyudi

  • Tiza Mafira

    Bagi saya jelas ini satir tapi setelah membaca komentar orang2 yang tidak melihat kesatirannya, saya tergelitik untuk mencoba mengerti dari mana saya paham ini satir. Ternyata sulit untuk dijelaskan. Menurut saya, dari paragraf kedua pun sudah jelas bahwa ini satir (ini kali pertama saya mengunjungi mojok.co jadi saya belum tahu konteks kasual media ini).
    “Orang-orang yang mempromosikan pun adalah orang-orang liberal. Coba bayangkan, yang mempromosikan itu kalo nggak Akhmad Sahal ya Ulil Absar Abdalla. Coba bayangkan, dua orang ini kan orang JIL. Perkara 800an lain orang yang mempromosikan #AyoMondok bukan orang JIL ya gak peduli. Pokoknya #AyoMondok ini agenda JIL untuk merusak umat.”
    >> Penggunaan kata2 “coba bayangkan” sampai dua kali, “ya gak peduli”, dan “pokoknya”, ini langsung saya pahami sebagai olokan terhadap kaum yang hanya percaya pendapatnya sendiri dan tidak peduli dengan fakta-fakta. Kenapa ya? Mungkin karena kualitas bahasa si penulis ini rapi dan bagus, sehingga saya langsung paham bahwa dia tidak termasuk kaum itu.
    “Pokoknya semua yang dipromosikan dan didukung orang-orang JIL, meski orangnya cuma satu-dua, itu adalah agenda liberal, dan kita mesti melakukan jihad melawan liberalisme—menggunakan fasilitas kebebasan berpendapat yang merupakan produk demokrasi liberal. Yeah!”
    >> Penggunaan kata2 “800an orang lain bukan JIL”, “meski orangnya cuma satu-dua”, “menggunakan fasilitas kebebasan berpendapat produk liberal” >> ini lebih nyata satirnya. Disini jelas penulis paham bahwa ada logika yang lebih masuk akal daripada logika “kaum anti-mondok”. Kalau dia benar-benar anti-mondok, tentu dia tidak akan repot2 menuliskan fakta2 tersebut. Dia menulis fakta2 tersebut untuk memperolok kaum anti-mondok yang tidak mau repot memikirkan fakta2 yang lebih rasional.
    Kesimpulannya: Satir itu bagaikan selera. Mudah dirasa, sulit dijelaskan, tidak untuk semua orang.

  • Ilham Vahmi

    Ya gini nih kalo lulusan pesantren algoogle .. Saya alumni pesantren dan saya justru terbantu untuk mendapatkan ilmu-ilmu islam secara luas. Islam itu hanya satu, tidak ada islam arab, tidak ada islam nusantara, tidak ada islam barat. Islam ya islam. Justru belajar bahasa arab itu penting, bagaimana kalian mempelajari (bukan membaca) Al-Quran yg isinya adalah bahasa arab?

  • 32

    haha, susah ya kalau baca komen2 yang gagal paham..
    justru setelah baca ini, jadi penasaran juga pengen mondok, meskipun cuma sebentar..

  • hilmi fauzi

    anda perlu merasakan dua dimensi yang berbeda, antara mondok dan belajar melalui murabbi. setelah itu terserah anda mau menyimpulkan bagaimana. karena kurang tepat apabila memberikan penilaian berdasar labeling. ingat pribahasa orang barat “head can see the forest cause the trees.”

  • Sebagai santri yg dulu sering mojok, entah kenapa saya menemukan identitas diri saya sebagai mantan santri. Pokoknya santri junior itu harus sami’na wa ata’na saja.. jangan banyak tanyak-tanyak. haha

    • ivan

      sami’na wa ata’na

      diapain tuh? di tusbol di kamar mandi?

      • bukan, itu di fa’il maf’ul namanya :p

      • kagak… disana kagak ada kamar mandi kali om, disana kolam renang yang airnya cuma 2 senti dan mandinya harus siap siap sabar ditusbol, eh diserobot senior pas antri pas diledeng.

  • hida

    emmm kritikan terhdap JIL nya sih oke,, cuma gaya bahasa nya untuk menyampaikan informasi atau gaya komunikasi nya yang agak gimana gitu,, it’s okey lah, jaman modern kita bisa di emperan masjid atau google atau internet,, tpi gk smuanya itu benar, krna skrng google sndri bnyk postingan karya-karya orang JIL ata sekte lainnya, nah,, sebenarnya kembali ke diri kita masing-masing, dengan tegas bahwa islam di indonesia itu adalah islam nusantara, indonesia adalah negara pluralis, indonesia memang bukan negara islam, namun mayoritas islam, ketika kita belajar untuk mendalami agama saran saya jangan ditelan mentah-mentah pelajaran itu, pelajaran yang mungkin kita dapat dari media sosial, entah itu dari penceramah, bahkan pesantren, kita harus selectif dalam memilih media untuk kita belajar, islam aswaja lah yang harus kita dalami. dan atu lagi tolong jangan bersifat subjectife oke, kita jaga negara kita yang prulal ini,,, mondok oke gak mondok juga oke,, yang penting kita paham dengan agama.

  • sirotobi

    ini semua fasti ulah antek mamarika tafir mizonis dan wahyudi. Fentung!

  • Edi Purwanto

    Memahami tulisan Mas Arman memang perlu dengan hati yang santai…jika tidak pasti salah menafsirkan…..

  • Bambang Tedja

    hahaha embuh mbah arman. sampeyan piknik dulu sana…bagi saya lulusan pesantren tulen joss. bukan pesantren abal2 loh ya. contohnya: gus mus, cak nun, gus dur, deelel

  • Yang mau baca, dimohon piknik sambil ngopi dulu kemudian berwudlu biar otaknya nggak tegang. Allahumma sholli alaih!

  • Yahya D Magnum

    haha, saya santri dan ngakak baca ini 😀

  • saya santri, dan ketawa baca ini 😀

  • Agoes 510

    Mas arman dhani memang harus dihukum karena tulisannya. Beliyo harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuat, karena ternyata masih terdapat sebagian kegagalan paham pada masyrakat untuk mengerti tulisan beliyonya.

    Saya gak pernah tau klo itu tulisan satir sejak awal. Mas arman dhani memang perlu di rajam.

    Hahahahhahahaa…..

    *Yawlo… yawlo…. 2015 kok gak mudeng satir, yo wis lah..

  • Emmanuel Adit

    Saya baru pertama ini mampir ke mojok.co, baca artikel ini juga karena direkomendasikan seorang teman.
    Tulisannya menyenangkan sekali. Waktu baru baca sampai setengahnya saja saya langsung penasaran dgn komen-komennya. Dengan tulisan sebaik ini, pasti ada diskusi yang cerdas mengikutinya.

    Saya berharap ada tulisan setajam ini yang mengkritik agama saya juga. Mm, perlu saya jelaskan juga ga kalo saya non-muslim?

  • Emmanuel Adit

    Saya baru pertama ini mampir ke mojok.co, baca artikel ini juga karena direkomendasikan seorang teman.
    Tulisannya menyenangkan sekali. Waktu baru baca sampai setengahnya saja saya langsung penasaran dgn komen-komennya. Dengan tulisan sebaik ini, pasti ada diskusi yang cerdas mengikutinya.

    Saya berharap ada tulisan setajam ini yang mengkritik agama saya juga. Mm, perlu saya jelaskan juga ga kalo saya non-muslim?

    • yuma actareka

      Ini satir bro, bukan kritik.biar paham ini satir anda harus mondok dulu..welcome

  • Farid M Effendhie

    aseeem pinter mas tulisan mu, kalo bacanya kesusu mesti ra dong karepmu.. hahahahaa.. pointnya adalah belajar Agama kok pake google #guoblokmuuu (ini maksudnya aku yang goblok lho, krn aku takut berhenti belajar apabila aku pintar)

  • abdurrohman

    Astagfirullahhal’adzim gerakan #AyoMondok adalah gerakan yang sangat luar biasa

    islam nusantara yang engkau artikan salah makanya belajar #AyoMondok, katanya gak relevan kan sudah ada internet, tapi maksiat diinternet lebih banyak, makanya belajar di #AyoMondok
    kalau gerakan #AyoMondok itu dari JIL mana buktinya itu gerakan dari PBNU, karen mengingat pentingnya pesantren, makanya belajar di #AyoMondok

  • izzul

    Yang bodoh itu siapa
    Kalo kita belajar lewat google bisa saja salah
    Sudah ada hadist yang mengatakan
    Belajar tanpa guru adalah belajar dengan setan
    Ya milih pondok ya yang benar
    Jangan ngomong gitu kamu.samean isok ae kuwalat

  • Mohammad Rondhi

    Tulisan ini sangat profokatif dan bisa berdampak negatip bagi pembaca yang kurang mempunyai bekal pengetahuan keagamaan yang memadai. Misalnya ajakan untuk menolak gerakan anti mondok menurut saya adalah salah. Masak belajar dilarang dan belajar itu bisa di mana saja termasuk di pondok pesantren. Meskipun sekarang era digital dan orang bisa belajar agama secara instan melalui internet bukan berarti sistem pondok pesantren sudah tidak diperlukan. Setiap sistem pasti mempunyai kelebihan dan juga kekurangan oleh karena itu kita tidak perlu fanatik terhadap sistem tertentu. Kalau orang mau belajar maka harus memilih sistem belajar yang sesuai dengan tujuan dan kemampunnya.
    Aspek positip dari tulisan di atas adalah bahwa belajar itu tidak mengenal batas baik usia maupun tempat. Orang didorong untuk belajar agama melalui media yang ada dan tidak harus secara formal seperti belajar di pondok pesantren dengan berbagai pranatanya yang ketat itu.orang bisa belajar secara instan dari internet dan lain sebagainya atau melakukan kegiatan belajar secara otodidak. Dengan demikian tidak ada kata terlambat dalam hal belajar termasuk belajar agama.
    Menurut saya tulisan di atas sangat profokatif bagi orang yang tidak memiliki latar belakang ilmu pendidikan. Wassalam.

  • ekágvz

    Mas munezia ini gagal paham, coba dibaca lagi judul, arah, dan isi nya. Ini soal ”rasa” alias feeling pembaca di test secara pemahaman. Maaf kalo saya mengkritisi koreksi Anda

  • Ganying

    bagus sihhh tulisanya….. tpi bahaya juga bagi yg gak tau tentang satire..

  • Mah Mud

    Kesimpulannya Tulisan Ini.. NgeyekkkTingkat Tinggi.!!!

  • Sesuai dengan style chef Arman Dhani, style satir.

    Gurih-gurihnya artikel kerasa sampe ubun-ubun.
    Kombinasi lezatnya sampe bikin kelojotan yang belum pernah coba menu chef Arman Dhani.

    Kalimat terakhir di menu ini bagaikan soto dengan kuahnya!

  • iqbal ni’em

    biarkan begitu adanya

No more articles