Di Purwodadi, saya punya seorang bibi yang beragama Katolik. Ibu bilang, jika ada rezeki, ingin sekali diantar ke kota itu menemui adiknya.

Kakek saya menikah dua kali, dan bibi saya ini adalah anak dari istri keduanya. Tapi sejak kecil bibi diasuh dan dirawat oleh ibu. Kata ibu, ia punya ikatan emosional yang jauh lebih kuat dengan bibi ini daripada saudara-saudaranya yang lain.

Saat ramadan tiba, bibi biasanya mengirimkan paket untuk ibu. Kadang isinya mukena, kadang kain. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain absurd. Seorang Katolik mengirimkan barang-barang yang berkaitan identik dengan ritus Islam.

Di bulan puasa inilah, bibi dan ibu paling sering berhubungan. Mungkin karena waktu kerja yang lebih lowong, atau nuansa liburan yang lebih santai, atau kenangan keduanya tentang Ramadan di masa kecil.

Saat almarhum kakek menjelang maut, bibi mengirimkan banyak sekali peralatan kesehatan. Ia seorang perawat, dan punya akses terhadap teknologi kesehatan. Semua barang itu dikirim dari Purwodadi ke Bima, tempat kakek terbaring sakit. Tentu alat-alatnya mahal dan biaya pengirimannya tidak murah. Tapi peralatan itu ditolak oleh saudara-saudara ibu. Konon karena bibi sudah jadi Katolik, semua barang yang diberikan olehnya adalah haram.

Maka ketika Lukman Sardi berganti agama lantas dicaci-maki, ya, saya tidak kaget. Biasa saja. Dulu Asmirandah pindah agama juga banyak yang bilang sebaiknya dihukum mati saja. Alasannya? Hadits Nabi yang berbunyi; man baddala dinahu faqtuluhu (barangsiapa pindah agama, maka bunuhlah!).

Selain hadits itu ternyata dla’if (lemah), apakah benar Islam ini sedemikian muram dan mengerikan—sampai-sampai yang pindah agama mesti dibunuh?

Saya bukan ahli fiqih, maka sebaiknya pertanyaan itu kita tanyakan kepada tokoh-tokoh yang punya keilmuan mumpuni. Orang-orang yang sudah membaca ribuan kitab, hafal ratusan ribu hadits dan memiliki penguasaan Bahasa Arab par excelence. Tentu saja mereka adalah orang-orang seperti Kakanda Jonru, Kyai Hafidz Ary dan Tuanku Imam Felix Siauw. Mereka adalah para pembela Islam garda depan yang keilmuannya paling tinggi, jauh melampaui Gus Mus atau bahkan Prof. Quraish Shihab sekalipun.

Saya pikir, perpindahan keyakinan tidak semestinya diakhiri dengan eksekusi. Apakah saya berlebihan? Oh tidak, kejadian semacam ini kerap terjadi. Bahkan majalah-majalah religius rajin sekali merayakan perpindahan agama—seperti sebuah kemenangan atas perang. Seseorang yang berganti agama akan dimanfaatkan tiap-tiap kelompok untuk menunjukan dominasinya, seolah kebenaran itu hanya miliknya, dan dengan adanya seseorang berganti agama, maka agama terakhir menjadi semakin terafirmasi kebenarannya.

Lho, memilih klub sepak bola pun perlu keimanan. Kadang mereka yang pindah mendukung klub lain akan diperlakukan sebagai paria. Dinista, dianggap pengkhianat, dan dihujat. Sementara bagi klub baru, si mualaf tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Ia bisa saja dituduh mata-mata, glory hunter, orang genit dan tidak punya kesetiaan. Untunglah hal demikin tidak pernah terjadi pada klub sebesar segurem Manchester United, klub yang melahirkan para pendukung yang teguh tauhidnya taklid buta.

Tapi cukup soal sepak bola. Lantas kenapa kalau seseorang pindah agama?

Dengan Lukman Sardi pindah agama, apakah angka kemiskinan dan pengangguran akan bertambah? Indonesia akan masuk jurang krisis ekonomi? Atau tiba-tiba beras hilang dari pasar? Saya kira tidak.

Perpindahan keyakinan Lukman Sardi tidak akan berpengaruh apapun bagi kemaslahatan rakyat banyak. Tapi korupsi, kekerasan terhadap minoritas, dan pengrusakan hutan, semuanya punya pengaruh besar untuk kehidupan berbangsa kita.

Lagipula saya percaya, ada hal-hal yang tak bisa kita paksakan hanya karena ia terasa benar. Dan firman Tuhan: “Tidak ada paksaan dalam agama”, lebih dari cukup bagi saya untuk tidak usil dengan kepercayaan orang lain.

Keyakinan sendiri seharusnya lebih penting daripada keyakinan orang lain. Sehingga kita tidak perlu meributkan, mengecam, atau mengglorifikasi perpindahan agama seseorang. Tidak juga dalam kasus Lukman Sardi.

Kecuali jika Anda tidak cukup percaya diri, lemah akal, dan takut bahwa keyakinan yang Anda miliki salah. Itu tentu akan melahirkan paranoia, bahwa agama Anda bisa rusak hanya karena ada orang lain yang pindah agama.

Berkeyakinan semestinya adalah pilihan masing-masing, kesunyian masing-masing. Itupun jika Anda cukup berani menghadapi perbedaan.

  • Rudi Hartono

    saya sangat setuju dengan artikel ini… memang agama ataupun kepercayaan perlu diyakini dan dihayati dan bukan untuk diperdebatkan

  • Aldila Himawan

    “Kecuali jika Anda tidak cukup percaya diri, lemah akal, dan takut bahwa
    keyakinan yang Anda miliki salah. Itu tentu akan melahirkan paranoia,
    bahwa agama Anda bisa rusak hanya karena ada orang lain yang pindah
    agama.”

    mereka memang lemah! payah! hehehe. saya setuju banget sama artikel ini!

    • Bambang Tedja

      Aneh orang islam malah ga ada yg berpikiran begini..wah sungguh keajaiban..berapa lama anda memikirkan kami shg dpt menyimpulkan begini?..terimakasih ya sdh ikut mikirin kami..ngaji dulu ah.

  • Maria Flo

    Keren!

  • Asriana Kibtiyah

    Ya, sdh semestinya kita tdk menganggu dan meributkan keyakinan agama orang lain. Cukuplah bila kita bisa saling menghormati. Islam tidak akan hilang di muka bumi hanya krn seseorang tidak lagi meyakininnya.

  • Rangga

    good 🙂

  • sirotobi

    saya nak bertanya, Tuhan atau Allah itu agamanya apa yah ?? apa jangan2 dia disana juga menyembah pohon ?
    atau jangan jangan ketika saya mati saya malah ketemu Zeus dan Odin. haduh. agama oh agama, kau ajarkan kami kebaikan tapi kau ajarkan juga kami mengutuk.

    betewe, tulisannya keren. pemikiran yang luas tidak seperti mereka yang memaki dan menghujat si luck man, pemikiran mereka sempit seperti sempak baru beli.

  • ibanez

    Wah mas, sampean udah berani menghina agama saya, Jamaah Al-Manchester Unitediyah. Darah sampean halal bagi saya

    • Friendly’s Tamsar

      emang klu anda makan darah si penulis anda sudah pasti bagus hidupnya dan masuk surga??
      emang anda tahu yha jika anda meninggal nanti anda roh anda akan kemana perginya..???
      jangan terlalu percaya sama agama anda,percaya saja sama IMAN anda.

      • AntoniusJody

        Mas Friendly’s Tamsar, jangan terlalu serius mas. Nanti cepat kena serangan jantung…

      • si tamsar ini ciri2 orang kurang piknik 😛

      • Park Ji Lul

        Bacanya sambil merokok dan minum kopi mas Tamsar 😀

      • ibanez

        Kalo saya mati nanti roh saya kayaknya bakal ke Katedral Agung Old Trafford mas, kalo masih ada sih..

    • Joko Dewe

      Sampeyan kog ya kocak….demen aku ama istilah sampeyan…

  • Only God Can Judge Me

    aku muslim… tap pernah mengalami kekecewaan dengan agama sendiri sampai sempet belajar Confusius, setuju banget sama artikel ini..kepercayaan itu urusan pribadi dan bukan untuk ajang perdebatan

  • Bambang Tedja

    Lah wong orang2 itu loh cuma mengomentari. Ya bebas saja toh. Namanya jg kebebasan ekspresi. Sama bebasnya dgn hadirnya tulisan ini. Klo pun banyak yg kecewa, mencibir ya bebas sajalah.. Bagi muslim mereka spt saudara, jd mrk seperti kehilangan saudara.. Banyak juga kok kisah2 muslim yg membantu saudara yahudi mereka saat masa perang.. Umat kristen jg hidup tenang di palestine meski dibantai yahudi. Ironi kan.
    Menghujat mereka yg menghujat juga menunjukkan sama lemahnya, sama ga percaya dirinya..lah wong cuma komentar kekecewaan dikatain menghujatlah, lemah akal lah, ga pede lah. Ehh dibalas hujatan pula.. Ini org2 kayaknya pada kurang piknik kali ya.

    • Dharma

      betul sekali…

    • Rio

      Mengomentari apa mau ngancem? itu beda banget jadinya,udah banyak kasus tuh disebutin salah satunya Asmirandah mau dibunuh cuma karena dia pindah agama,bahkan udah ada legitimasinya buat ngelakuin itu,makanya Islam itu emang agama untuk atau yang bikin orang jadi bermental preman atau teroris.

      • Bambang Tedja

        gagal fokus nih.. bukannya yg dipermasalahkan org2 tu si jonas? dia kan biang keroknya..mainin anak orang..wajarlah diancem biar ga macem2…asmirandah mah udah cantik (gagal fokus jg)

    • Dhika Kamesywara

      mengomentari yang berkomentar juga sah-sah aja kan? hahahaha…

    • ivan

      ya beda lah mentalnya orang yang menghujat dengan cara elegan (satir, sarkastic, ga pake emosi) dengan cara bar bar
      anda itu main disini kurang malam sama kurang jauh.

  • Joko Dewe

    2 jempol buat sampeyan…indon akan maju dan damai kalo semua muslim punya pikiran deperti anggota mojok.co ini

  • Ergh X Cult

    artikelnya bagus cuman jangan bawa2 manchester donk bruh, senang saya baca artikelnya tentang pindah agamanya cuman g setuju aja klo fans MU d bilang taklid buta, saya cukup open minded untuk seseorang yang anda bilang taklid buta bruh, tolong kalo menjelaskan sesuatu jangan memojokan dan menghantam pihak lain jga untuk suatu perumpamaan, saya pikir anda juga “sangat” berwawasan untuk seseoarang yang bukan taklid buta dan bisa memberikan contoh penggunaan perumpamaan yang baik, cheers

    • Whisnu Prasetyo

      wwkwkwkwkkw

    • Asmaria Manihuruk

      iya, agak keterlaluan, bawa bawa MU 🙁 TER LA LU….

  • eva

    saya bukan orang yang sangat fanatik dengan agama saya tapi kalau kita berfikir logis dengan artikel ini semua yang pindah agama harus dibunuh jadi semua artis-artis< pejabat yang pindah agama karna ingin mendappatkan kekayaan kejayaan harus dibunuh juga seperti itu? tadi sekarangmereka masih berada di kehidupan mereka masing_masing toh?ini adalah hak seseoranguntuk berkeyakinan dan dilindungi oleh undang_undangkan?

  • slamet gundono mc quin

    asuwok tulisane bustomi iki glory glory jonru eh..

  • Kenapa semua orang jadi kepo? Gara-gara balik lagi… ke tipi, tepatnya infotainment.

    Berkat infotainment, di negeri ini, semua orang merasa berhak tau dan berhak menghakimi, apalagi kalau soal agama, tiap pribadi berhak menjadi hakim, penuntut, dan jaksa, sekalian algojo, sekalian jadi wakil tuhan.

    Ini nih akibat setiap hari dijejalin infotainment yang mengangkat hal-hal tabu menjadi layak dan patut diperbincangkan << serius, jaman dulu ada yang slogannya kayak gini, seolah-olah hal-hal tabu kayak masalah pribadi dan keluarga itu harus jadi konsumsi publik. Jadi… yaaaa… kapan kloter pertama buat proyek koloni Mars berangkat? Masih ada slot?

  • Njenengan Purwodadi yang mana Mas Dhani?

  • Komang Armada

    Menyebut Manchester United sebagai klub gurem, melahirkan pendukung yang buta taklid, Anda terlalu memaksa mengambil perumpamaan, bro. Saya penyuka bola, tanpa kefanatikan tehadap klub tertentu. Saya hanya tidak suka anda melukai elemen sport yang dijunjung olah raga tak terkecuali bola. Dan soal Manchester United, mereka harus diakui adalah salah satu klub besar dengan reputasi serta prestasi mentereng. Sayang tulisan bagus anda dinodai nila dengan memilih perumpamaan ngawur tadi.

    • Rian Yona Irawan

      mungkin stlh 1999 banyak fans MU yg muncul karena ketertarikannya pada prestasinya sehingga ketika MU menjadi superior khususnya di area lokal melahirkan banyak suporter2 plastik yg hanya tau sorak2 tanpa tau maknanya. kalau tulisan ini muncul 3-4 taun kedepan mungkin term “MU” akan berganti menjadi term “Real Madrid” atau “Barcelona” . ataukah term “MU” muncul dari latar belakang penulis yg merupakan seorang fans Liverpool atau Arsenal? *hehe

      #GGMU

      • Tomi Mbembeng

        sebegitu banyak klub kenapa yang disebutin cm Man Utd ya? kayaknya sih fans Liverpool dengan perpisahan sang legendanya yg sangat mengejutkan 🙂

    • Girindra Prawredhi Abhiyoga

      hehe.. itu kalimat sindiran satire mas.. penyeimbang logika terbalik penyebutan Kakanda Jonru, Kyai Hafidz Ary dan Tuanku Imam Felix Siauw yg lebih unggul dari Gus Mus atau bahkan Prof. Quraish Shihab. Saya malah yakin ini penulisnya fans berat MU. 😀

  • Beginilah salah fokus sebagian masyarakat Indonesia saat ini. Pemimpin pada korupsi masa bodoh, akun-akun galau merusak masa bodoh, satu orang pindah agama…..lose their minds. Dumbfucks.

    • Bambang Tedja

      Lha ntar ngritik pemerintah dikatain nyinyir lah, suruh pindah warga negaralah. Pemerintah kita skrg kan udah dibentengi pengikut taklid jokowow. Ya tinggal nonton ajah sambil tepuk tangan.

  • Sandra Korompis

    “Lakum Diinukum Wa Liya Diin”: Bagimu Agamamu, Bagiku, Agamaku.. Belum pernah dengar/tahu ada hadits “Man Baddala Dinnahu Faqtuluhu”.

    Setahu saya, Nabi Muhammad sendiri memiliki seorang paman beragama Nasrani, yang sangat mencintai dan melindungi Nabi dan sebaliknya, sangat dicintai dan dilindungi Nabi. Jadi, menurut saya, masalah agama janganlah malah menjadikan kita sebagai orang yang musyrik, karena tanpa sadar jadi mengambil alih tugas Tuhan dengan mengambil nyawa orang lain dengan agama sebagai alasan.

    Kita masing-masing yang akan menanggung/menuai hasil perbuatan kita di dunia, apapun agama kita, dan kita tidak akan pernah mengetahui hasilnya, sampai waktunya kita menghadap kembali pada Sang Khalik. Jadi, menurut saya, sebaiknya kita memperbaiki dan meningkatkan iman kita masing-masing, tanpa menghakimi iman orang lain serta berusaha untuk sesering mungkin berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain sebagai usaha memperberat timbangan kebaikan kita kelak.

  • KopiJahe

    Haditsnya lemah? Coba diteliti kembali

    Itu masuk dalam hadits sahih Bukhari (no. 57, no. 271) dan Muslim (no. 4152, no. 4154 dan no. 4490).

  • Bambang Tedja

    Sungguh aneh..banyak artikel dan komen di mojok ini mensinisi perbuatan masyarakat yg ngurusi hal remeh temeh. Tapi tak ada satupun artikel yg mengkritisi pemerintah yg katanya lebih penting ..hahaha…aneh atau cemen?

    • Langit Amaravati

      Yowis, Mas Bambang yang nulis artikel kritisi terhadap pemerintah lalu kirim ke Mojok.co. Piye?

      • Bambang Tedja

        Yowis anda berani bayar berapa?

        • Victor Nalle

          Mintanya sama mojok.co om. Btw, om bambang ini tulisannya di media udah berapa?

          • Puji Widodo

            ada kolom komentar ya komentar, orang komentar kan ga harus nulis. kalo ga mau dikomentari ga usah nulis

          • Bambang Tedja

            belum ada bang. kenapa bang?

        • emang kalau nulis artikel mengkritisi pemerintah harus dibayar ya om? kalau gak ada bayarannya nggak mau? hehe

        • ivan

          anda hypocrite atau cemen atau full of shit ?

          ^ menghujat itu bebas, namanya juga mengungkapkan kekecewaan atas mulut besar anda

    • Dhika Kamesywara

      lha anda juga sama mengomentari yang berkomentar. sama kan sama mojok.co, mengomentari yang berkomentar. kalau hal-hal remeh yang dikomentari masih anda komentari, apa bedanya? :3

  • Rian Yona Irawan

    dari dulu kurikulum sekolahan kebanyakan bahasnya sains sih. Pkn/Budi Pekerti berapa persen sih. gak anehlah org lain mau ngapain pasti dinyinyirin. apalagi ini temanya sensitip, agama. wajar kalo udh pada gede jadi begini. ngerasa paling bener sendiri pokoknya orang lain itu salah. wekekekekekeke.

  • jhon

    sy setuju dngn tulisan, Sy juga jengah dengan tulisan yg kyk gini yg ngebahas bahas_ udahlah

  • Selameth_Sastro

    sip..

  • hendri

    kurang paham atas tulisan diatas

  • Ina

    Awesome!!!!!…

  • Anto Pj

    orang-orang selalu takut akan hal-hal yang mereka tidak kenal.. #transcendence

  • Sincero

    kalo semua yg pindah agama mesti dibunuh berarti Prabowo Subianto, Felix Siauw, Dian Sastro, Tamara Bleszynski, Christian Sugiono, Diego Michiel, Frank Ribbery, dan lain2 bakal dibunuh juga dong?

  • budi

    Dilarang mencibir Lukman Sardi. Cibirlah Jonru, Hapid, dan Pelix. Hehehehe…

  • Bambang Satriyo

    Kenyataan di Indonesia

  • Igo Edogawa

    Tulisan dari mas Arman kok selalu viralable ya? :v Selalu mengikuti tulisan2mu mas 😀

  • Gyluw Arema

    kok masih rame ya yang ngomongin si lukman… pdhl dia bukan ulama’, bukan kyai, ataupun orang yang khusyu’ menegakkan Agama Allah…. Dia kan cuma artis yang siangnya A, malemnya B, dan mungkin besok bisa C dst… Biarin aja np!!! 😀

  • Dani Karuniawan
  • auroramarthasinaga

    brur kalo mau liberal radikal sebaiknya disertai rasionalitas yang kuat, lu yang tulis nih artikel keliatan baru masuk JIL 2 hari keliatannya

  • Yusuf Septiawan

    Saya sering heran dg orang yg (sok) mengkampanyekan toleransi ini. Di satu sisi mereka bicara tentang penghormatan akan perbedaan, kebebasan, dll. Di sisi lain, mereka menghujat, merendahkan, menghina orang yg beda perspektifnya. Dengan argumen lemah iman, cacat pikir, paranoia lah. Bingung kan jadinya ? Hehe

  • Saluutt suhu Arman Dhani *akhirnya bisa login disquss =))
    btw “Mereka adalah para pembela Islam garda depan yang keilmuannya paling tinggi, jauh melampaui Gus Mus atau bahkan Prof. Quraish Shihab sekalipun.” SATIREEE sekaleee

    jajake kopi di angkringan mojok bosquee

  • uuk

    Ya lumayan bsa ngurang2i pesaing, “marilah kita berlomba-lomba dlm beribadah”

  • Lib Flow

    Yeup, one sign of a loser is way to involving in others’ business.. especially something as private as religion. Whoever the person of interest is. Especially your own family :-))

No more articles