Sulit bagi saya untuk tidak menyertakan Yogyakarta sebagai sebuah peristiwa pendewasaan. Saya jatuh cinta pada kota ini, karena pada beberapa derajat, ia jauh lebih mendewasakan, mencerdaskan dan membuat saya jadi manusia lebih dari yang dapat dilakukan bapak dan sekolah kepada saya.

Mungkin Jogja adalah ibu saya yang lain. Berkali-kali dibuat jatuh cinta, dibuat marah, dibuat patah hati, berkali-kali juga saya dibuat tak berdaya dan bersimpuh diam ketika dunia sudah kepalang brengsek.

Di Jogja saya menemukan terlalu banyak alasan untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Tentang bagaimana kota ini memejalkan keinginan membaca saya pada titik paling tinggi, juga tentang bagaimana di kota ini saya menemukan manusia-manusia getir yang begitu optimis menjalani hidup. Lebih dari itu, kota ini adalah tempat di mana setiap kenangan bermuara dan berujung haru.

Tentu saja terlalu banyak hal sentimentil yang bisa kita gali dari Jogja. Seperti kehilangan teman karena ditikung, kehilangan motor karena ditipu teman facebook, atau bahkan kehilangan akal sehat karena bergabung dengan organisasi fasis keagamaan.

Tapi yang membuat Jogja jadi istimewa, selain hip hop dan bakmi goreng, adalah mantan. Seperti slogan yang kerap kita dengar: Jogja berhati Mantan.

Ada banyak alasan mengapa mereka yang pernah dan atau tinggal di Jogja susah beralih atawa melupakan kota ini. Jogja terlalu banyak memiliki sudut-sudut melankolis yang menjadi kediaman kisah cinta yang gagal. Ini saintifik, ilmiah. Jika tak percaya, coba tanyakan teman, rekan, atawa handai tolan yang pernah punya hubungan percintaan di Jogja. Mereka pasti akan berkata bahwa tiap sudut kota meninggalkan residu perasaan yang jauh lebih menggigit daripada anjing rabies.

Pernahkah kalian merasakan memandang senja yang beranjak rubuh di atap sebuah rumah di Patehan? Memandang matahari turun seraya menikmati sejuk sore di Alun Alun Kidul. Berbincang dengan gadis yang kalian cintai selama menahun, setelah sekian lama hanya bisa diam dan mencintai dari jauh? Ah, mungkin itu hanya saya.

Tapi mbok yakin, Jogja terlalu sempit untuk hanya dimaknai sebagai sebuah kota. Ia adalah peristiwa, di mana masing-masing individu yang datang ke kota ini mengalami sensasi nggerus alias galau cinta.

Jogja adalah kesadaran, ia menjadi penting bagi banyak orang karena membuat tiap-tiap yang datang merasa memiliki. Jogja juga pengorbanan, di mana di kota ini, kamu dipaksa menerima fakta keji yang demikian pahit, bahwa sahabat terbaikmu menjadi pengkhianat karena menikung.

Di kota ini pula kamu belajar bahwa uang bukan segalanya, mungkin ia bisa memberimu banyak hal. Tapi di kota ini, kebersamaan dan keberadaan teman yang selo, kurang pegawean dan punya energi iseng yang melimpah-ruah adalah alasan untuk tetap hidup. Di kota ini kalian akan menemukan keriangan-keriangan dungu, tolol, namun dirindukan. Tentang obrolan di angkingan, wedangan, warung kopi hingga perihal cerita lucu dan lelucon yang diulang-ulang namun tak pernah kehilangan kelucuannya.

Di Jogja kalian akan merasakan bahwa menjadi bodoh dan tak tahu apa-apa bukanlah pilihan. Di kota ini terlalu banyak sumber pengetahuan yang membuat orang paling goblok, setidaknya, bisa memahami hidup dengan membaca, berdiskusi atau sekadar kursus singkat. Terlampau banyak perpustakaan, toko buku murah dan kantung-kantung kebudayaan yang membuat kita cerdas. Terlalu sedikit alasan untuk tidak mendatangi mereka dan menjadi pintar karenanya.

Di kota ini makanan murah enak dan nikmat bukan keajaiban.  Itu sebuah keniscayaan. Anda akan menemukan penyetan enak dengan harga di bawah 10.000, belum lagi tebaran waralaba Burjo yang menyelamatkan mahasiswa-mahasiswa malas dari kelaparan, juga jaringan kemandirian angkringan yang alamak sedapnya. Mereka ada dan tetap alami.

Kemarin Yogyakarta berulang tahun ke-258. Di kota ini kita merasakan pahitnya pengkhianatan, juga manisnya jatuh cinta. Di kota ini kita merasakan keramahan penduduk yang bersetia pada adat, tapi juga kemarahan dari orang yang mengaku paling beragama. Jogja terlalu besar untuk dilupakan.

Selamat ulang tahun, Jogja. Kamu adalah mantan yang mustahil dilupakan oleh siapapun yang pernah mencintaimu.

  • ella putriyana

    Bagiku, Jogja kota impian dan kegalauan cinta yang usang. Sebaliknya dijogjalah akhir kisah cinta telah dipahat.

  • Robiatul Adawiyah

    aku mocone ser-seran yo

  • misb manise

    bye bye jogja. jane nek omahe mbokq ora neng kebumen aku isoh ra perlu lewat jogja aben mudik. nggarai melow wae nek lewat kono.

  • titi

    Kalau ada yang meragukan kalo Jogja atau Ngayogyakarta Hadiningrat itu istimewa, dia harus baca artikel ini…..

  • Oky Prista Viola

    Tulisan mu hebat banget! Merinding bangga iki lho aku~

  • AL

    aku nangis

  • Jojo

    nyata!

  • Risrina

    Tulisan ini benar-benar bagus. Sip! Karena saya mencintai Jogja, hehe. Semoga ada edisi kota-kota lainnya (termasuk kota kelahiran saya, Batam).

  • Septy Serenade

    jogja itu terlalu istimewa…

  • ricobain

    nice article bro…saya termasuk yang harus menahan luka hati hingga sekarang…nyesek. Jogja merubah sang mantan yang paling saya cintai, menjadi adventurer… 🙁 . but anyway..saya tetep fair… Jogja memang sangat indah..dan istimewa! sayang saya dalam posisi korban dan pecundang galau yang susah move on …:) Luv this article..Manis, Getir..and mak jlebbb….

  • Hendy Van

    jogja adalah alasan untuk pulang dari hingar bingar ini 🙂

  • Lydia

    Jogja emang bisa bikin gue jatuh cinta berkali-kali…. walaupun gue gak lahir di Jogja…. hehehe….
    Tulisan yg sangat bagus bro!!

  • Aishya

    jadi kangen sama jogya …….. ngak bisa ngelupain nya walau jogya bukan tempat kelahiranku tapi dia tlah menjadi bagian dari hidupku tempat ku menimba ilmu, jatuh cinta, menikah bahkan sampai kehilangan orang yang paling kusayangi……. kangen……… pengen balik kesana suatu hari nanti…. akau janji

  • nuwun yo, artikele bikin kangen jogja, kampung halaman saya di pinggiran selatan Jogja 🙂

  • okta vian

    duh, udan2 adem moco iki,, dadi flashback njuk maknyess ng ati,, but miss the moment, not the person

  • Whisnu Prasetyo

    takkan usang tergerus waktu dan keadaan, sehat sehat disana yah…

  • debyo

    apik mas, bener banget, koncoku sing selo akeh banget…isine mung guyon satir ra penting karo dolan nang ngendi wae sing penting kumpul….ning urip…

  • wackyadhie

    Saya memutuskan untuk kembali ke Jogja, memutuskan untuk jadi salah satu penyebab kemacetan lalu lintas kota Jogja, walaupun saya bermukim dipinggiran .. mungkin ring 2 kalo Merapi batuk dan muntah-muntah.

    Di usia yang hampir 40 tahun, seperempat hidup saya dulu habis di kota ini, Jogja yang memperkenalkan saya akan nikmatnya ganja, puyengnya habis minum lapen, serunya dugem di Liquid, Boshe, Saphir Cafe (almarhum) bla bla bla, Jogja memperkenalkan saya dengan gaya hidup hedonis, pernah bikin saya pacaran dengan 3 perempuan sekaligus. Jogja membuat mahasiswa kampung model saya jadi melek internet dan sempat ikutan carding. Dan segudang kisah bergajulan lainnya, untungnya saya sudah tobat dan move on. Tetapi disaat bersamaan Jogja membuat saya getol membaca, getol cari informasi dan pengalaman hidup, membuat saya lebih toleran terhadap sesama manusia.

    Ya, kota ini adalah last resort buat saya, keputusan meninggalkan segalanya demi kerinduan akan suasana Jogja, yang mungkin mulai hilang dimasa kini.

  • Tulisanmu mas bikin aku inget Almarhum mantan yg orang jogja asli. Berkat dia, aku jatuh cinta sekaligus patah hati sama jogja…

  • Iwan WidyAtmoko

    ijin share, ngena banget ni artikel, dulu dijogja sampe temen ada istilah Jogja Derita,,,

  • Suepsonian

    Asem, kurang ajar, aku nangis ki. -_-

    “Pernahkah kalian merasakan memandang senja yang beranjak rubuh di atap sebuah rumah di Patehan? Memandang matahari turun seraya menikmati sejuk sore di Alun Alun Kidul. Berbincang dengan gadis yang kalian cintai selama menahun, setelah sekian lama hanya bisa diam dan mencintai dari jauh? Ah, mungkin itu hanya saya.”

  • Harir

    Jogja ibarat kota penyelamat kejombloanku bro

  • Widya

    jogja ga hanya masalah geografis,, wong jogja kie pinter carane nggawe nggeruuussssss hehehhe

  • Indra Permana

    Ah, iya. Jogja memang berhati mantan. Jogja juga berhati sahabat. Sekali saya mengunjunginya, berkali-kali saya ingin mengunjunginya kembali. Merindukan banyak hal, kehangatan angkringan dan keramahan buminya. Ah, aku rindu Jogja.

  • Berkat Jogja, Aku ketemu konco-konco selo.

  • denmaspopo

    dipethuk mantan nang lempuyangan, bablas mangan nang wijilan… ah, sudahlah!

No more articles