Ketika Menteri Pertanian Negara Kesatuan Republik Indonesia mengatakan bahwa konsumsi beras masyarakat menurun karena mie instan, ada sebuah gejolak rasa haru dalam dada yang menggebu tiada henti.

Hati kecil saya memberontak, apa-apaan ini? Bagaimana mungkin mie instan menjadi kambing hitam atas perubahan pola konsumsi? Apalagi, merujuk berita yang dimuat Kompas, Pak Menteri menyalahkan Indomie—sebuah merk digdaya nan agung—sebagai biang kerok perubahan pola konsumsi.

Di jagat raya ini, hanya ada dua hal yang absolut: pertama adalah Mbak Rara Sekar dan yang kedua Indomie Goreng. Indomie Goreng adalah mesias, penyelamat hidup manusia-manusia kesepian di tengah malam. Kadang ia ditemukan bersama potongan sawi, telor dadar dan cabe rawit. Kadang ia ditemukan dengan kornet dan potongan sosis, tapi seringkali Indomie ditemukan dalam ruang-ruang ketidakmungkinan.

Apakah ruang ketidakmungkinan itu, Pak? Ia adalah ruang-ruang yang mustahil dijelaskan dengan definisi normatif kebahasaan kontemporer? Mbulet? Jelas, lha wong saya ngarang.

Ruang ketidakmungkinan itu seperti ini, Pak. Pernahkah Bapak naik kereta api kelas ekonomi? Lalu saat hujan deras tiba, Anda menuju gerbong restorasi, memesan semangkuk Indomie kuah. Sembari memandangi kaca yang basah, uap panas Indomie menghadirkan imaji tentang masa lalu, ketika Anda masih muda dan berapi-api lantas memacari tiga sahabat sekaligus. Itu adalah ruang ketidakmungkinan, Pak.

Atau pernahkah Bapak sendiri dan kesepian di kontrakan, baru saja pulang dari konser Maliq D’Essentials di Solo, lantas mendapati seorang sahabat nikung gebetan Anda?

Di tengah remuk-redamnya perasaan, Bapak menemukan Indomie goreng dengan dua telur dan 10 potong cabe. Dengan hati yang gelisah, dada yang sesak, Anda membuat Indomie Goreng paling pedas dalam hidup Anda. Memakannya dengan sendokan penuh dendam, berharap rasa cabe itu akan menghilangkan segala kemarahan. Itu adalah ruang ketidakmungkinan.

Mungkin Bapak Menteri pernah mengalami perpisahan karena gagal menikah? Seusai lamaran tapi esoknya mesti berpisah? Indomie adalah satu-satunya karib yang menjadi kawan setia ketika Bapak melakukan perjalanan menuju timur dengan naik vario jauh. Di tengah pulau yang sunyi, ditemani tenda dan pasir putih, Bapak membuat Indomie. Tidak satu, tapi dua, mengingatkan perasaan-perasaan bersama yang dulu pernah ada, namun kini hanya bisa dinikmati sendiri. Itu adalah ruang ketidakmungkinan.

BACA JUGA:  Melihat Pertanda Kiamat dari Keberadaan Warung Burjo

Indomie Goreng bukan sekadar makanan instan, Pak. Ia adalah mesias. Ia menjadi saksi betapa beribu-ribu mahasiswa di nusantara menjalani laku prihatin karena kiriman telat. Bayangkan berapa ribu mahasiswa di Indonesia yang lulus dan terselamatkan dari jurang Drop Out, karena mengecangkan ikat pinggang tidak makan nasi hanya untuk menabung demi uang kuliah?

Indomie, saya kira, punya jasa besar bagi jutaan anak bangsa untuk bisa meraih pendidikan tinggi. Indomie Goreng bukan sekadar makanan pengganti, Pak. Ia adalah nyawa, ia adalah penghidupan beribu-ribu penjual burjo yang mengadu nasib di kota-kota besar.

Apa jadinya Yogyakarta jika tidak ada Burjo? Di mana para mahasiswa itu mesti mencari makanan murah ketika angkringan sudah tutup menjelang tengah malam? Berapa ribu pengusaha Burjo yang hidup dan mencari nafkah dari Indomie?

Ini bukan perkara nasionalisme gandum melawan ubi, ini masalah penyerapan tenaga kerja dan kemakmuran bersama. Goenawan Mohamad pada Catatan Pinggir edisi 25 Juni 1994 pernah menulis, “Ada yang bergerak maju, ada yang diam atau tenggelam.” Di caping berjudul “Kita” itu, Mas GM (tolong jangan iri saya memanggil beliau Mas, sebagai sesama budayawan ini sah) mengatakan bahwa “dalam proses itu banyak kepastian guncang, bentuk-bentuk martabat dan penghormatan lama jadi rancu dan juga anyaman hubungan-hubungan yang pernah ada menjadi tak stabil lagi.”

Apa korelasi Caping itu dengan Indomie? Ya tidak ada. Saya nulis itu biar keliatan pinter dan hebat saja. Namun perlu dipahami, sudah saatnya kita tidak lagi mengukur pola konsumsi melulu dari beras. Seperti yang mas GM katakan ‘ada yang bergerak maju’, bukankah kita punya sagu? Punya ubi? Punya singkong? Mengapa melulu konsumsi harus diukur dengan beras? Jika ini terus terjadi bukan tidak mungkin kita akan ‘diam atau tenggelam’. Keserakahan kita terhadap nasi telah melibas batas-batas kemanusiaan.

BACA JUGA:  Sebelas Film Favorit tentang Makanan

Selain tuduhan kepada Indomie, obsesi terhadap beras telah membuat kita memaksakan pembangunan yang abai pada kemanusiaan. Suku-suku yang dahulu hidup dari hutan kini mati kelaparan karena hutan dialih fungsikan menjadi kebun sawit, suku-suku tersebut dipaksa makan nasi. Lantas ketika tak mampu mengakses nasi yang mesti dibeli pakai uang itu, satu per satu manusia mulia ini gugur. Mati kelaparan di rimba yang kaya-raya.

Atas alasan ini, saya perlu menggugat dan mengadu.

Pertama-tama, saya ingin meluruskan kepada Bapak Menteri Amran Sulaiman, bahwa Indomie bukanlah sekadar makanan. Ia adalah sakramen, sebuah kesadaran filosofis akan hidup yang tersublimasi dalam bentuk makanan Instan.

Sebagai duta besar tidak resmi dari Indomie Goreng, saya merasa perlu memberi tahu Bapak tentang visi dan misi keberadaan Indomie Goreng. Ia adalah sebuah realitas dari betapa negeri ini sebenarnya gagal dikelola. Kedua, bukan salah Indomie jika sebungkus Indomie lebih murah daripada sekilo beras. Selama negara ini tidak mencanangkan diversifikasi pangan dan melulu bergantung pada beras, selamanya Indomie akan dijadikan kambing hitam atas pola konsumsi yang tidak beraturan.

Ketidakadilan yang berawal dari perut akan melahirkan insureksi yang perih, Pak. Ingat, Pak, lebih baik ditolak balikan daripada kelaparan.

Demikian, saya mau sarapan Indomie dulu. Karena Indomie paling sedap adalah Indomie yang dinikmati seusai kemenangan tandang Manchester United di Anfield.

No more articles