Saat psikolog Elly Risman nge-tweet bahwa grup band asal Korea Selatan SNSD atau Girls’ Generation “penuh dengan simbol seks dan pelacuran”, saya kira ada yang salah dari cara kita berpikir tentang perempuan.

Kita ini bukan cuma untuk laki-laki. Rupanya, perempuan juga bisa sediskriminatif itu kepada sesama perempuan.

Memang masih banyak orang yang berpikir bahwa perempuan berpakaian seronok adalah hal yang salah. Masih banyak juga orang yang berpikir, berpakaian minim sama dengan mengundang kejahatan. Misal, pelecehan seksual atau pemerkosaan. Atau seperti logika Elly, berpakaian minim sama dengan prostitusi.

Cara pikir seperti itu membuat penentangan atas undangan pemerintah Indonesia pada SNSD (yang masih simpang siur untuk merayakan hari kemerdekaan atau hitung mundur Asean Games 2018 di Palembang) bukan lagi karena alasan nasionalisme (“kok nggak ngundang band dalam negeri?”), tapi jadi soal moral: ngapain sih ngundang band cewek yang merusak moral?

Rapuh amat moral kita sampai harus setakut itu.

Kebencian terhadap perempuan-perempuan dalam grup idol ini mengerikan. Mereka disebut sebagai perempuan yang menjual paha dan dada, melakukan operasi plastik agar ideal sebagai objek fetisisme lelaki, dan rela mengumbar tubuh agar populer. Seakan-akan cuma tampilan fisik mereka yang mereka jual untuk populer.

Padahal, secantik dan seideal apa pun fisik mereka, menjadi idol tetap bukan perkara mudah. Harus berlatih keras menari dan menyanyi, diet gila-gilaan, merelakan kehidupan pribadi diatur oleh manajemen, bahkan sampai melakukan segala cara untuk menyenangkan perusahaan yang menaungi mereka agar tak mudah didepak.

Dua tahun lalu, seorang calon personel girl band baru di Korea Selatang bunuh diri karena gagal menjadi bagian dari proyek baru manajemen yang menaunginya. Di Indonesia, bukan rahasia bahwa anggota girl band JKT48 harus menandatangani kontrak tertulis yang salah satunya berisi larangan berpacaran.

Industri hiburan punya sisi sekelam itu. Dari satu sisi gadis-gadis itu ditekan oleh imajinasi patriarkis yang membuat mereka harus jadi “seindah” mungkin dipandang, di sisi kebalikan, mereka dibenci karena menjadi “indah” dan “penuh simbol seks dan pelacuran”. Hubungan cinta dan benci yang sebenarnya berlandaskan logika yang sama saja.

Jika alasan Anda membenci girl band karena tradisi operasi plastik Korea Selatan, bacalah studi-studi antropologi untuk tahu, mengapa tradisi itu lahir. Nyatanya, perempuan-perempuan Korea Selatan dibebani untuk tampil cantik karena sistem kebudayaan patriarkis yang ada. Cantik itu adalah mata lebar berkelopak, kaki jenjang, pipi tirus, hidung mancung, tubuh langsing.

Baca juga:  Prediksi Sriwijaya FC vs PSIS: Agresif Garansi Kemenangan

Jika mereka tak punya kriteria semacam itu, operasi plastik menjadi jalan. Sebuah jalan yang menyakitkan dan berisiko tinggi. Dan alih-alih bersimpati atau mencari tahu mengapa tradisi ini menindas perempuan, orang malah memilih menghina mereka sebagai boneka plastik.

Tentu naif jika saya bilang bahwa mereka yang menggemari girl band melulu karena elemen artistik musikal yang mereka miliki. Penampilan visual penting dan sensualitas itu menjual.

Memang ada kok orang yang gandrung pada perempuan cantik, berpakaian sedikit terbuka, menari, sembari sesekali bertingkah centil. Tapi, bahwa ini hanya satu-satunya yang membuat K-Pop jadi besar jelas sembrono. Jika melulu visual penting, jumlah streaming lagu-lagu K-Pop di Spotify pasti tidak akan besar.

Terlebih, bukan cuma laki-laki yang gandrung pada girl band K-Pop. Justru perempuanlah pemirsa terbesar industri Pop Korea. Menurut riset The Korea Foundation pada 2015, diperkirakan ada 30 juta fans hallyu yang tersebar di 86 negara dan 70%-nya adalah perempuan.

Tentu ada laki-laki yang menjadikan video klip bintang K-Pop sebagai bahan merancap, tapi apa seluruh penggemar grup idol melakukan ini? Dalam banyak perbincangan dengan fans K-Pop, saya menemukan bahwa menjadi fans adalah upaya merawat kecintaan. Anda bisa melihat kolom komentar YouTube dari tiap-tiap idol grup ini, fans yang berkomentar bisa sangat sengit membela “bias” dari idol, menggerakan jaringan fans untuk menonton video terbaru, hingga saling support mendukung produk orisinal yang diproduksi fanbase.

Klise dan sepele? Tentu, tapi stamina mendukung ini tidak lahir dari sekedar pemujaan terhadap simbol “seks” atau “pelacuran”.

Kita perlu adil berpikir. Jika Anda menyebut girl band membuat seseorang bernafsu dan merusak moral karena cabul, lantas bagaimana dengan orang yang menyerukan bahwa di akhirat kelak kita akan merayakan pesta seks dengan 72 bidadari yang selalu perawan dengan dada yang ranum dan paha yang mulus? ISIS malah melanggengkan kembali perbudakan untuk seks atas nama iman.

Baca juga:  Rapor Bekraf Merah Nggak Apa-Apa, Yang Penting SNSD!

Saya kira, para pendukung ISIS ini lebih berbahaya daripada sekedar tampilan visual girl band.

Yang rumit dari informasi tak utuh adalah tafsir yang tak utuh. Orang-orang yang menganggap bahwa SNSD itu merusak moral hanya berdasarkan video klipnya jelas tak punya stamina panjang membaca berita atau riset mendalam. Saat Presiden Park Geun-hye jatuh karena skandal korupsi pada 9 Maret lalu, para pejuang demokrasi di Korea Selatan menari dengan lagu SNSD berjudul “Into the New World”. Sebelumnya, pada November 2014, Yoona SNSD dipilih menjadi duta UNICEF untuk kampanye “UNIHERO” yang bertujuan membantu anak-anak yang kurang beruntung dalam pendidikan dan korban penyakit malaria.

Para pejuang demokrasi Korea Selatan merayakan kemenangan protes damai mereka dengan lagu-lagu dari girl band. Mereka tentu tidak sedang berahi, melacur, atau melakukan seks massal. Malah di jalan-jalan di Korea para aktivis ini menari, bergembira, menyanyikan lagu tak hanya dari SNSD, tapi juga Girl’s Day yang berjudul “Female President” dan Red Velvet yang berjudul “Russian Roulette”. Oh iya, “Into the New World” malah nyaris bukan lagu dengan koreografi seronok, lebih mirip sekumpulan anak emo paruh waktu yang kelewat bahagia.

Jika Anda khawatir bahwa girl band itu akan berpenampilan seronok atau dianggap tidak sopan, ya ada intervensi yang bisa dilakukan. Saya percaya cara berpakaian dan berpikir perempuan adalah otoritas mutlak mereka. Tapi, jika kita khawatir laki-laki Indonesia yang lemah iman dan tak mampu menahan nafsu ini berubah jadi pemerkosa, ada jalan lain kompromi. Misal, para anggota SNSD diminta menggunakan pakaian daerah kita biar dianggap sopan. Pakai ulos atau apalah. Sekalian nari tor-tor sambil nyanyi “Gee” sekalian.

Saran ini jelas buruk, tolol malah. Tapi bagaimana lagi? Bagi beberapa orang di Indonesia, kehadiran satu dua orang idol dari girl band bisa membuat bangsa ini hancur, moralnya rusak, iman dekaden, dan melahirkan pemerkosa.

Dan tulisan ini lebih tolol lagi. Statement kayak gitu saja dibahas, dijelasin, dikasih saran pula. Tapi bagaimana lagi?

Komentar
Add Friend
No more articles