MOJOK.COJika Allah menakdirkan, saya ingin keluarga Yudhoyono memimpin lagi. Di semua tempat, di semua panggung.

Ini tulisan pertama saya untuk Mojok di tahun 2018, tahun yang dibuka dengan kelahiran cucu cantik Pepo Beye dari Mas iBas.

Pada pergantian tahun, saya berada di Samarinda, pagi-pagi saya menonton televisi yang acaranya sebagian besar adalah gosip, remot kontrol di tangan saya membawa mata saya menyaksikan “Go-Spot” RCTI. Memang dasarnya jodoh, saya yang sudah tidak menonton infotainmen dalam enam tahun akhirnya pagi itu memantenginya juga, lantaran berita bahagia kelahiran Gayatri Idalia Yudhoyono dengan judul: “CUCU SBY LAHIR DI TANGGAL CANTIK”. Dan kebahagiaan saya membuncah tatkala wajah Memo Ani Yudhoyono nongol dan membicarakan cucunya dengan antusiasme tingkat internasional.

Bagi saya, tidak ada persona Indonesia di Instagram yang bisa mengalahkan Kim Kardashian kecuali Memo Ani. Beliau adalah semesta sensasi, pusat perhatian, sentra kemantapan, sumber inspirasi, dan suri tauladan dalam berinstagram yang baik dan benar dan tepat dan elok.

Setiap postingan Memo adalah mahakarya. Tidak ada yang tidak monumental. Semuanya serbapantas, serbacakap, serbaindah, serbasegalanya, dan karena itu layak diberi love, dikomentari, dan diviralkan. Sekuat apa pun usahamu berlagak di depan kamera, Awkarin … kamu tidak akan pernah bisa menandingi keagungan pose-pose tampak samping Memo dengan kacamata hitam. Segila apa pun usaha kalian mendapatkan foto keren, wahai para fotografer National Geographic … hasil jepretan kalian mustahil melampaui bidikan kamera Memo.

Dalam hal ambil foto, mana bisa Kim Kardashian atau Gigi Hadid atau Agnez Mo seprofesional Memo? Mantan Ibu Negara Amerika Serikat, si Michelle Obama itu, mana pernah bergaya lucu di belakang pusara Billy The Kid yang seram? Kepsyennya menyihir kita untuk melakukan perenungan mendalam pula: “Masa kecil kurang bahagia???”

Baca juga:  Jokowi Pilih Mahfud MD atau Cak Imin, Prabowo Mau Anies atau AHY?

Hanya Memo yang bisa. Hanya Memo.

Kalau ada produser yang membaca tulisan ini, catat ini: Kalau Anda berniat mulia membikin serial televisi “Keeping Up with the Yudhoyonos”, saya mendaftarkan diri menjadi penonton di saf paling depan. Saya bersama puluhan juta pecinta Keluarga Yudhoyono hakulyakin, jika program ini ditayangkan saat prime time, “Pesbukers” dan “Liga Dangdut Indonesia” akan menemui ajalnya.

Setelah enam bulan lebih tidak menulis untuk Mojok, akhirnya saya harus buka puasa. Dosa saya akan segede gaban jika tidak menulis lagi ketika semua orang terpukau atas pidato Pepo Beye dalam Rapimnas Partai Demokrat di Sentul baru saja.

Kebetulan, malam sebelumnya saya menyaksikan pidato Pepo Beye yang luar biasa mengenai kemungkinan Partai Demokrat mendukung Jokowi menjadi presiden lagi. “Pak Presiden, jika Allah menakdirkan, senang Partai Demokrat bisa berjuang bersama Bapak,” kata Pepo. Para pengamat berebutan menyebut itu sebagai sinyal. Aduh, pernyataan terang-benderang begitu kok.

Jokowi dalam sambutannya malah cengengesan, seperti biasa! Pepo Beye sudah serius-serius, Jokowi malah mengajak bercanda. Pepo sudah sungguh-sungguh bicara kesejahteraan rakyat, pengalaman krisis 2008, dan tantangan ekonomi kita ke depan, Jokowi malah omong pakaian, tampang sangar yang otoriter (menyindir! Menyindir Pepo yang pernah bilang abuse of power dan para kader Demokrat yang cuap-cuap otoriter di medsos), yang serius sedikit cuma soal hoaks dan kualitas demokrasi. Tidak terucap tanggapan sama sekali untuk dukungan dari Pepo.

Baca juga:  Seberapa Berbahayakah Golput Bagi Jokowi?

Supaya berimbang, baiklah, saya akan kritik Pepo juga. Hanya satu hal yang perlu dikritik dari pidato Pepo, yaitu tentang penyebab merosotnya suara Partai Demokrat di Pemilu 2014. Pepo menyebut dua: 1) Korupsi para kader, dan 2) karena tidak mengusung capres atau cawapres. Dan Pepo mengucapkan alhamdulillah untuk korupsi yang semakin sedikit dibanding partai lain. Astaghfirullahal ‘azhiim, Pepo … korupsi itu bukan sesuatu untuk disyukuri, baik jika partai lain mengecil maupun membesar.

Bukan, bukan, bukan itu kritik yang ingin saya sampaikan.

Yang agak keliru dari pernyataan Pepo: Faktor terbesar kekalahan Partai Demokrat bukan dua hal di atas, melainkan Pepo sendiri. Korupsi, seperti yang Pepo katakan, (((dilaksanakan))) lebih banyak oleh beberapa partai lain. Soal capres-cawapres, itu juga bukan sesuatu yang signifikan, buktinya Partai Kebangkitan Bangsa saat itu tidak mengajukan calon tetapi perolehan suaranya melonjak.

Apa yang salah dari Pepo? Tidak ada yang salah menurut saya, sebagian besar rakyat Indonesia merasa tidak terpuaskan saja oleh servis Pepo selama 10 tahun.

Satu hal lagi, yang kurang dari perhelatan Rapimnas itu adalah Mas iBas. Tidak ada wajah Mas iBas saat penjemputan dan pengantaran Jokowi, tidak ada pula di panggung. Di mana-mana hanya ada Mas AHY. Kalau bukan karena Instagram Memo, kami tidak akan tahu-menahu kehadiran Mas iBas. Ini jelas kemunduran.

Bagaimanapun kami ingin paket lengkap The Yudhoyonos. Di semua tempat, di semua panggung. AHY Presiden, iBas Wakil Presiden!