Pandemi saat ini membuat orang-orang punya banyak pilihan hobi. Salah satunya adalah menanam tanaman hias.

Dari balik kaca jendela, saya melihat tetangga beda gang di perumahan tengah mengamati anggrek macan jenis Grammatopylum Scriptum yang tengah berbunga. Beberapa hari sebelumnya saya mengukur tangkai bunganya. Panjangnya 1,5 meter.

Sudah beberapa tahun anggrek tersebut saya tempelkan di akar kayu jati yang telah mati.

Saya keluar untuk menemuinya karena ia sepertinya tertarik. Siapa tahu dia mau membeli anggrek tersebut. Lumayan untuk nambah-nambah ongkos renovasi rumah. Toh, koleksi jenis anggrek tersebut cukup banyak di rumah saya.

Setelah basa basi sebentar ibu itu langsung mengutarakan maksudnya.

“Mas, saya boleh minta anggreknya?”

Deg! Ini adalah pertanyaan yang saya takutkan kalau ada orang datang ke rumah saya. Saya tidak pelit soal tanaman hias. Ada hal lain yang saya takutkan.

“Ibu punya tanaman anggrek apa saja di rumah?”

“Belum punya mas Agung, ini mau belajar,” katanya.

Segala puja puji ibu itu keluarkan di depan saya. Sementara, saya berpikir bagaimana menolak permintaan ibu ini tanpa menyakiti hatinya.

Saya sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.

“Begini, ibu kan belum pernah punya anggrek. Nah jenis anggrek yang ini sulit perawatannya. Saya bawa dari Sulawesi. Sayang kalau nanti malah mati. Rumah ibu kan dekat, kalau ibu mau lihat bunganya, ibu tinggal datang saja kesini,” kata saya tersenyum semanis mungkin.

Baca juga:  Menjadi Pelawak Bermodal Tempe ala Sandiaga Uno

Sebenarnya kalau ibu itu menjawab  sudah punya anggrek, jawaban senada juga akan saja berikan. Bahwa jenis anggrek ini adalah jenis yang cukup sulit perawatannya, sayang kalau mati. Kalau masih tetap ngeyel juga, baru saya buka harga.

Sekali lagi ini bukan pelit. Hal paling sedih bagi penghobi tanaman adalah kematian. Bagi saya, tanaman mati sedihnya bukan main. Sama sedihnya saat saya melihat pohon-pohon di pinggir jalan ditebang karena alasan pelebaran jalan.

Awal-awal saya jatuh cinta dengan tanaman hias itu sejak sekolah dasar. Namun, baru dua dasawarsa yang lalu saya mewujudkannya. Saat masih kuliah nyambi kerja, saya mulai menanam bonsai. Saya membeli satu tanaman bonsai jenis wahong.

Tiap hari tanaman itu tak lepas dari perhatian saya, selalu disiram, pagi dan sore hari. Diputar kesana kemari untuk melihatnya dari berbagai sudut. Saya pindah posisinya karena merasa kurang pas. Beberapa hari kemudian mati. Saya membeli lagi. Mati lagi. Kata penjualnya, tanaman itu stres karena saya terlalu perhatian.

Lho, perhatian kok bisa membuat tanaman mati. Itu adalah wujud cinta saya.

“Mas, cinta yang berlebihan itu berbahaya, yang sedang-sedang saja,” katanya. Memahami tanaman hias bukan sekadar menyiram atau memberi pupuk. Kalau memberi pupuknya berlebihan bisa jadi justru overdosis. Mati.

Sejak itu saya mencoba bukan sekadar suka tanamah hias lalu menghujaninya dengan cinta melalui aktivitas menyiram atau memupuk. Hal terpenting ketika punya tanaman hias adalah memahami kebutuhannya. Ada tanaman yang suka sekali disiram. Namun, adapula yang justru tidak suka dengan air yang berlebihan.

Baca juga:  Habib Rizieq Dicekal Saudi, Kok Pemerintah Indonesia yang Kudu Tanggung Jawab?

Ada yang suka dengan sinar matahari langsung sepanjang hari, tapi juga ada yang hanya cocok dengan cahaya matahari pagi. Ada yang sukanya dipotong ranting-ranting kecilnya secara rutin. Namun, juga ada yang ngambek kalau terlalu sering dipangkas daunnya.

Demam tanaman hias sekarang ini mengingatkan saya pada demam anthurium sekitar tahun 2006-2008.  Masa-masa itu banyak penghobi yang melakukan hal-hal di luar nalar dalam merawat tanaman hiasnya.

Teman saya misalnya tiap malam mengelap daun anthurium jemaninya dengan minyak zaitun.

Iya minyak zaitun yang mahal itu. Ada juga yang menggunakan susu. Saya terbengong. Nggak habis pikir.

Namun, karena penasaran saya ikut-ikutan melakukan hal itu. Cuma bedanya saya tidak menggunakan minyak zaitun. Mahal.

Saya pakai air santan kelapa. Memang glowing, tapi mengundang semut untuk datang. Akhirnya karena capai, ya sudah. Memperlakukan tanaman secara wajar saja.

Sekarang ini saya sering dicurhati orang-orang yang tanaman hiasnya mati. Seperti dugaan saya. Bagaimanapun godaan untuk menampilkan tanaman hias yang sesuai standar keindahan manusia bisa berbahaya. Perhatian yang diberikan pasti akan berlebihan.

Sampai kemudian saya sampai pada sebuah kesimpulan agar godaan perhatian tidak terlalu berlebihan. Anda harus memiliki minimal 7 tanaman hias. Tidak peduli jenisnya sama atau berbeda. Jangan punya cuma satu, dua atau tiga.

Logikanya begini, kalau punya 7 tanaman hias. Perhatianmu tidak akan tertuju pada satu tanaman saja. Kenapa harus 7 tanaman? Ya itu karena saya suka angka 7.

Baca juga:  Kolom: Hasil

Begini kalau Anda masih di level masih cinta-cintanya pada tanaman hias, apapun jenisnya, percayalah memiliki hanya satu atau dua tanaman hanya akan membuat tanaman itu sengsara. Perhatianmu yang berlebih hanya akan membuatnya lelah dan layu.