MOJOK.CO Mentang-mentang hasil KPU udah keluar, semua orang sibuk tolak hasil pilpres. Tapi, coba ingat-ingat: ada urgensi lain yang kelewat nggak, nih??? Hmm???

Saya pernah kuliah di jurusan paling ribet sedunia, setidaknya menurut kepala saya yang kemampuannya minim. Sialnya, jurusan yang bikin otak saya umub ini sempat pula membuat hubungan saya dengan seorang kawan masuk dalam kondisi krisis.

Kami pernah mengikuti kuis di sebuah mata kuliah yang namanya bahkan sudah saya lupa. Yang saya ingat, kuis ini saya kerjakan agak random dan dihiasi dengan banyak doa setiap kali saya mau menjawab satu per satu.

Saat dibagikan kembali, nilai kami terpampang di kanan atas: Saya dapat 90, teman saya dapat 65.

Saya pikir segalanya baik-baik saja, sampai si teman ini tahu-tahu menodong saya, “Kok nilaimu lebih tinggi, sih? Kamu bilang, kan, kamu belum belajar, Li? Kamu curang, ya?!”

Tuduh-tuduhan ini berlangsung semalaman penuh dan teman saya tidak tersenyum sama sekali. Mukanya jutek, menyaingi muka default saya pada umumnya, sehingga kami seperti sepasang perempuan yang lagi PMS bareng-bareng.

Dalam hidup, ada banyak hal yang nggak menyenangkan datang dan terjadi. Nilai jelek adalah salah satunya, dan hasil pilpres yang nggak sesuai harapan adalah hal berikutnya. Sejak beberapa jam yang lalu, misalnya, di Twitter sudah ramai dengan tagar #RakyatTolakHasilPilpres, lengkap dengan ujaran-ujaran pembelaan yang membuat saya teringat pada kasus penolakan nilai kuis oleh teman saya tadi.

Saya dituduh curang—persis seperti pihak lain selain “rakyat” yang disebut-sebut menolak hasil pilpres, meski saya jadi bertanya-tanya: istilah “rakyat” dalam konteks ini merujuk ke rakyat yang mana, sih? Memangnya mereka-mereka yang tolak hasil pilpres ini semua rakyat Indonesia, gitu???

Tapi, meski hampir tersulut emosi karena perkara “rakyat”, saya akhirnya berhasil menenangkan diri. Yah, mungkin si penggagas tagar ini lagi pengin ngajarin kita soal majas totem pro parte kali, ya? Itu, loh, majas yang dipakai untuk mengungkapkan keseluruhan objek, padahal yang dimaksud cuma sebagian doang. Bisa nih, Bang, nulis buat Versus~

Padahal, daripada ribet-ribet menguras emosi tolak hasil pilpres setelah sudah secara resmi ditetapkan oleh KPU, kenapa kita nggak menolak hal-hal lain yang, katakanlah, lebih gawat dan menyangkut kebahagiaan kita sendiri???

Baca juga:  Toxic Friendship: Nggak Cuma Pacaran yang Bisa Beracun

*JENG JENG JENG*

Misalnya, pertama, alih-alih tolak hasil pilpres, kenapa kamu nggak menolak dirimu sendiri yang hobinya membahagiakan semua orang?

Nih, ya, FYI aja, ada sebuah pepatah tua berbunyi: I don’t know the key to success, but the key to failure is trying to please everybody.

Saya punya pengalaman soal ini.

Di masa-masa perkuliahan, saya dan teman-teman pernah bersiap-siap mengikuti praktikum. Sebelum dimulai, asisten-asisten lab meminta kami duduk manis sambil mengerjakan beberapa soal pembuka sebelum praktikum sesungguhnya dimulai. Dari tiga soal yang diberikan, saya rasa saya nggak clueless-clueless amat.

Hanya perlu sedikit waktu bagi para asisten untuk memeriksa. Sejurus kemudian, kertas kuis dibagi dan saya menyadari saya mendapat nilai…

…5.

Gondok, saya melirik lembar jawaban milik teman di depan saya, seseorang berkewarganegaraan Jepang: nilai 8.

O, bukan. Saya bukan mau membandingkan betapa jahatnya orang asing datang ke Indonesia dan menjajah pribumi-pribumi macam saya lewat nilai yang lebih tinggi. Yang membuat siang itu saya kesal setengah mati adalah karena lembar jawab si Jepang teman saya ini tidak berisi jawaban apa pun.

Malah, isinya cuma satu: tanda tanya besar.

Dengan kata lain, si Jepang nggak ngerti sama sekali soalnya tadi tentang apa dan dia nggak bisa jawab. Tapi, Saudara-saudara, DIA DAPAT NILAI 8, SEMENTARA SAYA DAPAT NILAI 5.

Kamu tahu rasanya sayur pare? Iya, pahit. Nah, kayak gitu itu senyum saya waktu lihat tulisan tangan asisten lab berupa angka 8 yang juga dilengkapi dengan gambar emoji senyum. Hadeeeeh, pikasebeleun!

Si Jepang tertawa kecil, tapi wajahnya penuh rasa bersalah. Mungkin dia nggak enak melihat muka saya, tapi saya lebih nggak enak mengingat masa-masa itu: Kenapa saya nggak menolak hasil nilai kuis ke si asisten, ya???

O, tentu saja itu karena saya nggak ingin si Jepang teman saya jadi sedih karena nanti nilainya harus jadi nol. Saya agak cemas juga kalau-kalau ibunya si Jepang adalah tipe ibu-ibu yang mirip ibunya Nobita atau Sinchan, soalnya.

Baca juga:  Kenapa Ada Orang yang Begitu Ambisius Hingga Punya 13 Gelar Akademik?

Tapi, sampai akhir semester, nilai saya selalu di bawah dia, padahal saya tahu apa yang sebenarnya terjadi sepanjang waktu.

Hadeeeh, pikasebeleun (lagi)!!!!11!!!!1!!

Kedua, hal yang seharusnya kamu tolak selain tolak hasil pilpres adalah tombol snooze di alarm hape.

Ngaku, deh: Siapa yang hari ini terlambat masuk kerja karena keasyikan merem-melek sambil mencet tombol snooze kira-kira sejuta kali???

FYI aja, nih, ya, sebuah penelitian yang digelar oleh Sleep Clinic Services menunjukkan bahwa terlalu sering menekan tombol snooze justru berpotensi menimbulkan keadaan inertia, yaitu perlawanan terhadap perubahan, walaupun perubahan tersebut positif. Alih-alih membuatmu bangun lebih segar, ia justru bakal menjadikan tubuhmu “grogi” kalau harus bangun pagi-pagi dengan sinar matahari yang benderang.

Sederhananya, dengan menekan tombol snooze, otak dan tubuhmu akan kebingungan, apalagi kalau kamu memutuskan tidur lagi. Badanmu akan memasuki siklus tidur nyenyak berikutnya.

Alhasil, waktu kamu akhirnya bangun setelah 10-15 menit tambahan tadi, nyawamu bakal terasa lebih zonk dan matamu masih ngantuk.

Ya iya, lah, kan siklus tidurnya jadi keulang dari awal dan baru sebentar tapi udah diinterupsi, Malih~

Ketiga, dan ini paling penting untuk kesehatan mentalmu: tolak toxic relationship, apa pun alasannya!!!1!!1!!!

Punya pacar abusive, baik fisik maupun psikis, adalah hal paling menyedihkan yang bisa terjadi dalam kehidupan asmara manusia. Beberapa teman saya mengalaminya sampai menangis, sebelum bertahun-tahun kemudian gantian saya yang merasakannya: tekanan batin yang luar biasa memuakkan hanya karena seseorang yang seenaknya bersikap otoriter DAN manipulatif, sembari memanfaatkan perasaan cinta yang saya punya.

Sungguh, selain tolak hasil pilpres, tolak pacar abusive dan toxic relationship, kamu juga harus tolak satu hal penting lainnya: tolak ide-ide sok bijaksana di kepalamu untuk mengubah sang pacar jadi lebih baik.

Percaya, deh, kamu tidak berkewajiban mengubah pacar abusive kesayanganmu. Saya pernah menuliskan ini, tapi saya akan mengulanginya lagi agar kamu (dan saya) sama-sama mengerti:

Satu-satunya makhluk di dunia ini yang bisa mengubahnya hanyalah dirinya sendiri, dan kamu tak perlu membuang-buang waktu mengizinkan dirinya untuk menyakitimu secara cuma-cuma.