MOJOK.CO Dalam kondisi parah, Sindrom Kota Paris ini mengakibatkan syok berlebih. Beberapa orang sampai hilang ingatan, sebagian lainnya bahkan mengaku diserang oleh sebuah microwave.

Kalau Cilacap—kota yang letaknya di Pulau Jawa bagian selatan—punya tagline “Kota Bercahaya”, ternyata ada juga kota yang jargonnya hampir mirip, tapi levelnya internasional: Paris. Dijuluki City of Light, Paris jelas jauh lebih terkenal daripada Cilacap yang mentok-mentoknya diingat orang sebagai “kota yang letaknya dekat Nusakambangan” atau “kota yang orangnya ngapak-ngapak”.

Paris menjadi kota paling populer sebagai tempat tujuan berlibur turis internasional. Tercatat, setiap tahun, rata-rata ada 30 juta pengunjung ke kota ini. Dengan “mantra” berupa Menara Eiffel dan bumbu-bumbu romantis, Paris menjadi kota impian banyak orang: penuh cinta, intim, dan hangat. Bahkan yang terbaru, sebuah post di Twitter—mari kita menyebutnya sebagai post apresiasi pada kota Paris—diunggah oleh seorang netizen yang tengah berlibur di Paris.

Tapi, tapi, tapiii, tahukah kamu kalau pada tahun 2004 lalu ada istilah bernama Sindrom Kota Paris yang menunjukkan bahwa Paris ternyata nggak “sebaik” itu???

Ya, benar, Paris nggak perlu dibuatkan tagar #ParisBaik kayak tanaman sawit sebagai bentuk campaign pencitraan diri. Kenapa? Karena, ternyata keadaan Paris sendiri sudah jadi rahasia umum. Paris yang dianggap hangat dan bersahabat nyatanya nggak selalu bisa memuaskan semua orang.

Baca juga:  Kepada Temanku yang Suka Minta Oleh-Oleh

Dilansir dari Detik, sebuah publikasi di jurnal psikiatri Nervure menulis tentang Paris Syndrome atau Sindrom Kota Paris. Kala itu, belasan turis Jepang terpaksa dipulangkan dari Paris dalam keadaan syok atau terkena guncangan mental.

Dijelaskan, orang Jepang yang terbiasa dengan budaya sopan santunnya ini mengalami reaksi kaget saat menghadapi Paris yang tidak sesuai ekspektasi. Pelayan toko di Paris sering kali berteriak-teriak pada pelanggan yang tidak bisa berbahasa Prancis—sebagaimana sebagian besar masyarakat yang tidak tampak nyaman menghadapi turis berbahasa asing. Beberapa sopir taksi juga kerap mengemudi ugal-ugalan (loh kok kayak pengemudi di Jakarta?! Wkwk) dan, lagi-lagi, membuat turis Jepang ini pusing tujuh keliling.

Dalam kondisi yang lebih parah, Sindrom Kota Paris ini mengakibatkan syok berlebih. Beberapa orang sampai hilang ingatan dan meracau, sebagian lainnya bahkan mengaku diserang oleh sebuah microwave.

Menurut laporan Kedutaan Jepang di Paris, setidaknya ada 12 warganya yang terpaksa dipulangkan karena sindrom yang satu ini. Kembalinya mereka ke Jepang juga didampingi oleh dokter dan perawat—jelas pertanda bahwa ini bukan hal yang sepele dan mudah dilupakan.

Lagi pula, berdasarkan tautan thread di Twitter tadi, sisi lain Paris banyak dipaparkan oleh netizen—sebagian merupakan sisi yang terbilang “kelam”. Ini mungkin mengejutkan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi yang lain. Beberapa orang menyarankan negara lain yang lebih “ramah” sebagai tempat wisata atau tujuan untuk hidup, misalnya Belanda, tapi saya heran—yang liburan kan si Mbaknya, kenapa kalian pada rempong amat, dah???

Baca juga:  Prediksi Prancis vs Peru: Supaya Prancis Layak Menang

BACA JUGA Asal-Usul Kata Bule Konon Dimulai dari Bule Itu Sendiri atau artikel Aprilia Kumala lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles