MOJOK.CO Sahabat perempuan yang kita punya di dunia ini bukanlah tokoh figuran yang hanya perlu kita hubungi saat putus dengan pacar. Mari mengapresiasi!

Hai, generasi milenial yang berbahagia—terutama para ladies yang sekarang mulai rajin membersihkan make up sebelum tidur, alih-alih tidur tanpa sentuhan micellar water~

Ya, ya, ya. Saya menulis artikel ini untuk seluruh perempuan yang tengah merasa terombang-ambing hidupnya terutama yang habis putus dari hubungan yang tadinya terasa begitu nyata dan serius. Di usia muda-produktif-tapi-menuju-zona-umur-yang-harus-membiasakan-diri-dihujani-pertanyaan-Kapan-nikah, saya paham betul perempuan-perempuan ini kadang terjebak dalam anxiety-nya sendiri, jika bukan krisis-krisis seperempat abad yang nyebahi.

Tapi, ladies, di tengah gempuran anxiety dan ketakutan menghadapi quarter life crisis tersebut, pernahkah kamu mencoba berpikir jernih dan mengingat siapa saja yang selalu ada di sampingmu? Hmm?

Beberapa orang menyebutkan dengan yakin bahwa dia yang selalu ada di samping mereka adalah orang yang mereka cintai. Selain keluarga, terma ‘orang yang mereka cintai’ ini merujuk pada istilah ‘soulmate’ yang bakal dengan bangga mereka tujukan pada pasangan romantis mereka: pacar, tunangan, calon suami, atau malah suami.

Tapi, pertanyaannya: benarkah soulmate selalu berarti jodoh lawan jenis yang bakal menghabiskan sisa hidup bersamamu dalam ikatan pernikahan??? Apakah soulmate selalu hadir dalam bentuk laki-laki brewokan yang kalau kencan suka nanya, “Makan di mana?” dan merasa kesal setengah mati kalau kita jawab, “Terserah”???

Hmm, hmm, hmm, tunggu dulu, Sista-sista sekalian~

Usut punya usut, banyak sumber menyebutkan bahwa soulmate tak melulu soal jodoh. Bisa saja, soulmate-mu justru dia yang merupakan…

…sahabat perempuanmu!!!

[!!!!!!11!!1!!!!]

Baiklah, langsung saja kita mulai tulisan ini (LAH DARITADI BELUM MULAI???) dengan cerita saya sendiri.

*jeng jeng jeng*

Saya pernah merasa sangat insecure pada sebuah hubungan yang saya jalani dengan seorang pria. Tengah malam, saya menelepon seorang sahabat perempuan. Tahu apa yang dia lakukan setelah mendengar saya menangis di ujung telepon?

Dia datang ke kosan saya, menginap satu malam dan memeluk saya setiap kali saya menangis.

Oh—rumahnya jauh sekali, mungkin sekitar 45 ribu ongkos naik ojek online. Hehe.

Saya juga punya seorang sahabat lain: perempuan, dan sudah menikah. Suatu hari, saya merasa dunia saya hancur, sehancur-hancurnya. Menyebalkannya, saya cuma bisa menangis seperti bayi besar dan lupa bagaimana caranya membuat tebak-tebakan receh yang dulu selalu jadi andalan demi membuat teman-teman tertawa.

Baca juga:  Habis Lulus S-1 Enaknya Lanjut Kuliah, Kerja, atau Nikah?

Ajaibnya, sahabat perempuan saya ini datang, menjemput saya di kosan untuk menginap di rumahnya, meminjamkan kamarnya untuk saya, sementara dia dan suaminya tidur di kamar lain. Hhhh, maaf, ya :(((

Dia mendengarkan saya sepanjang hari, memasakkan sarapan dan makan siang untuk saya. Dia membolehkan kucing peliharaannya saya elus-elus sepuasnya, lalu memberikan banyak tisu untuk menyeka air mata. Bahkan ketika saya pulang, dia selalu membalas pesan saya dan tak pernah menjawab, “Maaf, lagi sibuk, nih. Nggak bisa WA-an dulu!”

Gimana? Sudah iri sama saya ada gambaran sahabat perempuan di kepalamu?

Jadi begini, Ladies.

Coba hentikan dulu pikiran soal jodoh—salah satu poin terbesar yang menjadi beban pikiran dalam quarter life crisis kita semua. Ingat, Mbak-mbak sekalian, kita tidak dilahirkan hanya untuk merelakan diri dikejar-kejar pertanyaan “Kapan nikah?” yang tak berkesudahan.

Alih-alih berfokus pada mencari soulmate dengan anggapan “soulmate-adalah-jodoh”, kini tiba waktunya bagi kita untuk…

…mengapresiasi semua sahabat perempuan yang selalu ada untuk kita!!!

Ya, benar, ladies-ladies sekalian. Sahabat perempuan yang kita punya di dunia ini bukanlah tokoh figuran yang hanya perlu kita hubungi saat putus dengan pacar. Sahabat perempuan kita, nyatanya, sangat mungkin menjadi soulmate yang sebenarnya selalu kita cari selama ini.

[!!!!!!11!!1!!!!]

Alasan pertama, sahabat perempuan adalah orang yang akan selalu memelukmu.

Kamu lagi nangis? Mereka akan memelukmu. Kamu lagi bahagia? Mereka akan membalas pelukanmu. Kamu lagi ketakutan? Mereka tidak akan melepas pelukannya. Kamu lagi ingin dipeluk? Tangan mereka jelas terbuka lebar.

Menariknya, kamu tidak perlu merasa rikuh-rikuh minta dipeluk, karena, hey, mereka kan sahabat perempuanmu, Sayangkuuu~

Kedua, mereka bisa menjadi ‘cenayang’ yang patut kamu andalkan.

Kalau kamu menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang kamu sayangi, tapi sahabatmu tidak menyukainya, cobalah berpikir logis: kenapa dia nggak suka??? Apakah ada hal yang tidak kamu lihat dari kekasihmu, tapi bisa dilihat oleh sahabatmu???

Jangan remehkan ‘mata batin’ sahabat perempuanmu. Kadang-kadang, mereka melihat hal-hal tertentu lebih jelas darimu meskipun kamu sudah mengenakan kacamata baru yang minusnya nambah~

Baca juga:  Dari Jomblo untuk Jomblo: Pesan untuk Menanti dengan Elegan

Ketiga, kamu bisa menjadi orang yang paling bahagia, paling sedih, atau bahkan paling hobi marah-marah di depan mereka, tapi mereka bakal selalu menyayangimu.

Iya, poin ini serius. Kamu bisa nangis bombay 3 hari 3 malam, tapi sahabat perempuanmu tidak akan serta merta meninggalkanmu begitu saja. Kalau marah-marahmu sudah keterlaluan, mereka pun tidak akan segan mengingatkan dengan baik. Bersama mereka, hidup rasanya jauuuuh lebih lengkap!

Keempat, mereka akan selalu punya nasihat paling baik yang kamu butuhkan setiap kali kamu mengalami bad day.

Saya pernah terperangkap dalam sebuah overthinking sampai menangis seperti orang gila. Tadinya, saya pikir saya butuh seorang psikolog agar merasa lebih tenang. Tapi, saya memutar arah dan memutuskan bertemu sahabat saya, lalu—boom!

Segalanya terasa jauh lebih baik.

Kelima, kamu tahu kamu bahagia dengan keberadaannya.

Bersama si sahabat perempuan, kamu bisa bertukar pakaian, kerudung, bahkan alat make up. Kamu bisa berbagi pancake dengan taburan gula dan susu stroberi yang kamu beli di pinggir jalan dengannya, sementara kalian akan mengobrolkan episode terbaru drama Korea bersama-sama. Kamu akan mendengar “I love you” tiap kali kalian mengakhiri pembicaraan di telepon. Kamu tidak akan segan mengiriminya emoji hati dan kiss sebanyak mungkin. Kamu tidak akan merasa buruk saat bertemu dengannya hanya dengan tank top dan celana yoga.

Oh, dan jangan lupakan betapa kamu akan tertawa dengan jokes recehnya saat kamu sedang menangis. Kamu juga memercayakan kisah-kisah rahasiamu padanya. Kamu dan dia bisa pergi berdua dan berpura-pura berkencan sambil memutuskan film terbaru yang akan kalian tonton. Kamu tidak keberatan mengambil ratusan foto bersamanya, meski nanti hanya ada satu yang di-upload di Instagram!

Kalau ada seseorang memperlakukanmu dengan brengsek, sahabatmu tak akan suka dengan orang itu. Kamu tahu, dia menyayangimu setulus hati—lebih tulus dari laki-laki manapun.

Sebagai penutup, marilah mengingat kutipan manis dari Candace Bushnell, penulis Sex and the City. Katanya:

“Maybe our girlfriends are our soulmates and guys are just people to have fun with.”

Who knows, right, Girls?