MOJOK.CO Di Hari Ibu Internasional, seorang ibu di Surabaya malah meledakkan bom bunuh diri dengan anaknya, membawa tanda tanya besar soal peran perempuan dalam aksi terorisme.

Surabaya berduka. Dunia seperti dikejutkan dengan bom yang meledak di 3 gereja, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Ngagel, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno, disusul oleh bom di rusun di daerah Sidoarjo, hingga Mapolrestabes Surabaya. Entah apakah keseluruhan ledakan ini berhubungan atau tidak, yang jelas semuanya seperti ingin menakut-nakuti warga.

Yang paling menyita perhatian pertama kali tentu saja ledakan bom di 3 gereja di Surabaya yang pelakunya adalah satu keluarga. Ya—benar-benar satu keluarga: ayah, ibu, dan anak-anaknya. Dari terkuaknya pelaku, disebutkan bahwa sang ibu, Puji Kuswati, bersama dua anak perempuannya (9 dan 12 tahun), kebagian tugas meledakkan bom bunuh diri di GKI Diponegoro dengan bom yang diletakkan di pinggang, atau disebut sebagai bom pinggang.

Kehadiran Puji dan kedua anak perempuannya dalam daftar pelaku bom bunuh diri kian menambah panjang barisan pelaku teroris perempuan.

Pada tanggal 11 Desember 2016 lalu, seorang wanita bernama Dian Yulia Novi pernah tertangkap saat berencana meledakkan bom panci di Istana Negara. Di tahun yang sama, Ika Puspitasari juga ditangkap karena aksinya yang akan meledakkan bom bunuh diri berhasil terungkap oleh Densus 88.

Meski tergolong baru di Indonesia, aksi terorisme yang melibatkan wanita bukanlah sesuatu yang baru di Georgia Utara, Irak, ataupun Iran, seperti yang dinyatakan oleh mantan narapidana teroris, Sofyan Tsauri. Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian meyakini hal ini terjadi karena wanita dianggap cenderung tidak mencurigakan.

Baca juga:  Para Pendukung ISIS Ada di Sekitar Kita

‘Kalau Wanita Saja Bisa, Pria Pasti Bisa’

‘Diutusnya’ wanita sebagai pelaku bom bunuh diri, masih menurut Sofyan Tsauri, sering kali mengandung pesan tersendiri. Melalui ‘keberanian’ mereka, para pria diharapkan bisa merasa lebih giat agar melakukan apa yang mereka sebut sebagai perlawanan. Dengan beberapa alasan, banyak pihak yang kemudian mengkhawatirkan kejadian ini mengantarkan pesan khusus, yaitu: “Wanita saja bisa”.

Tak jarang, wanita-wanita ini adalah para janda yang suaminya terbunuh. Sekalipun bukan, mereka juga merupakan istri atau bagian dari keluarga para jihadis kegiatan-kegiatan radikal, misalnya Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Gerakan Negara Islam Indonesia (NII), atau bahkan ISIS.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Kholil Quomas meyakini bahwa munculnya teroris perempuan sesungguhnya diwarnai dengan paparan radikalisme dan terorisme dari media sosial.

Benar saja, kalau dipikir-pikir. Masih ingat kasus Mako Brimob? Setelah peristiwa berdarah itu terjadi, dua orang wanita berhasil diamankan karena diduga akan menyerang polisi. Setelah diusut, terkuaklah bahwa keduanya memang mempelajari keyakinannya pada ISIS melalui media sosial dan aplikasi WhatsApp yang kerap membahas perlawan kepada polisi atau penguasa masyarakat.

Ya, jelas ada mobilisasi kebencian yang membangkitkan kenekatan mereka.

Penilaian Soal Perempuan

Tapi, kenapa para wanita-wanita ini akhirnya nekat dan berani melibatkan serta mengorbankan dirinya?

Dibandingkan laki-laki, perempuan ternyata dinilai lebih setia, taat, dan patuh pada peraturan. Tak hanya itu, perempuan juga dianggap sebagai kelompok yang lebih mudah percaya pada hal-hal agamis. Musdah Mulia, penulis Perempuan dalam Gerakan Terorisme di Indonesia mengutip perkataan Bahrun Naim, pimpinan ISIS asal Indonesia, menyebutkan bahwa “perempuan melakukan aksir teror karena laki-laki lebih pengecut”.

Baca juga:  Tribun vs Remotivi: Kita Berdiri di Mana?

Penilaian-penilaian soal perempuan ini menjadi dasar bagi mereka untuk akhirnya rela mengorbankan diri dalam aksi yang mereka anggap sebagai bentuk jihad. Entah bagaimana pola pikirnya, mereka sesungguhnya telah memahami idealisme yang keliru.

Menariknya, tidak semua wanita-wanita ini tidak berpendidikan tinggi. Dari beberapa investigasi, wanita-wanita di pusaran kegiatan terorisme adalah mereka-mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi ataupun pesantren.

Peledakan Bom Bunuh Diri di GKI Diponegoro Bertepatan dengan Mother’s Day

Ya, mungkin Puji Kuswati hanya merayakan Hari Ibu Nasional pada tanggal 22 Desember—atau tidak sama sekali. Tapi perlu kita tahu, banyak negara di dunia merayakan Hari Ibu (Mother’s Day) pada hari Minggu kedua di bulan Mei, yang tahun ini jatuh pada tanggal 13 Mei.

Benar—tepat sekali dengan berlangsungnya peledakan bom bunuh diri yang ditunggangi satu keluarga di Surabaya.

Miris, memang. Di Hari Ibu, seorang ibu di Surabaya malah berjalan dengan bom di pinggangnya bersama dua anak kandungnya, yang juga dililiti bom yang sama. Ibu ini telah membuat takdirnya sendiri: membunuh dirinya, membunuh anaknya, dan membunuh toleransi di sekitarnya, tanpa tahu bahwa mungkin saja siang itu ia tadinya akan menerima ucapan selamat Hari Ibu.