MOJOK.CO Ribut-ribut perkara naik eskalator MRT tahu-tahu berujung dengan perbandingan kampanye di Jepang. Hadeh, PR kita aja belum selesai, Kak.

Entah dari serial Detective Conan atau apa, saya pernah mendengar bahwa aturan naik eskalator sebenarnya sudah ada, setidaknya di Jepang. Pengguna yang lebih suka naik eskalator dengan damai, tenang, aman, dan nyaman, diminta untuk berdiri di sisi kiri, sedangkan pengguna yang grasa-grusu dan butuh berjalan cepat dipersilakan menggunakan sisi sebelah kanan.

Aturan ini berlaku di seluruh Jepang, kecuali di Kansai, Osaka, yang memberlakukan sebaliknya; sisi kanan digunakan oleh pengguna eskalator yang ingin berdiri diam.

Munculnya MRT  di Jakarta juga menyoroti penggunaan eskalatornya. Setidaknya, bahkan sejak sebelum ada MRT, stasiun-stasiun bereskalator di Jakarta juga telah menerapkan peraturan yang sama seperti di Jepang: Pengguna yang ingin diam bisa berdiri di sisi kiri, sementara pengguna yang ingin berjalan/mendahului bisa menggunakan sisi kanan.

Meski sebelumnya peraturan ini tak pernah jadi peraturan tertulis, aturan naik eskalator sesungguhnya telah digalakkan. Pada tahun 2017, misalnya, petugas Stasiun Tanah Abang bahkan rela berjaga di dekat eskalator dengan pengeras suara, menegur pengguna yang “ melanggar” aturan.

Naik Eskalator dan Diem Aja: Memangnya Melanggar Peraturan?

Protes netizen perkara naik eskalator tidak muncul sekali-dua kali. Sejak MRT diluncurkan, tulisan-tulisan soal pengguna eskalator yang “menyalahi” aturan muncul di banyak tempat. Terakhir, di Twitter, sebuah kritik dilontarkan dengan cukup pedas level 15 oleh akun @cehpr.

Saat di-scroll ke bawah—wow, seperti layaknya cuitan kontroversial di negara +62 ini, tentu ada pihak yang membalas, kemudian dibalas lagi, untuk dibalas lagi, lalu dibalas lagi; atau dengan kata lain: sebuah “peperangan” dimulai.

Baca juga:  Pengantar Memahami Logika Sandiaga untuk Para Ahoker

Selagi pengguna Twitter ini mengeluhkan kelakuan orang-orang yang naik eskalator tanpa memedulikan peraturan, ada saja orang yang menyebutkan bahwa “seharusnya” memang begitulah naik eskalator: Berhenti, diam, dan tidak terburu-buru.

Atau, dengan kata lain: Ya nggak apa-apa kali nggak sesuai peraturan yang penting (kayaknya) lebih aman dan menguntungkan!!!1!!!1!!!!!

*JENG JENG JENG*

Dari banyak sumber, termasuk sumber berita yang dicantumkan si pihak kontra terhadap cuitan pertama, disebutkan bahwa naik eskalator dan diem aja justru menimbulkan keuntungan yang lebih besar.

Mula-mula, penelitian memang menunjukkan bahwa berjalan di eskalator bakal menghabiskan waktu sekitar 26 detik, jauh lebih cepat daripada berdiam diri selama 40 detik. Namun, waktu antre yang dibutuhkan ternyata jauh lebih cepat jika kedua sisi digunakan untuk berdiri—tanpa berjalan cepat.

Saat 40 persen orang berjalan di atas eskalator, waktu rata-rata pengguna eskalator adalah 138 detik (untuk pengguna di sisi kiri) dan 46 detik (pengguna di sisi kanan). Namun, saat kedua sisi digunakan untuk berdiri saja, waktu rata-rata keseluruhan orang menjadi 59 detik—meski lebih lambat 13 detik bagi para pejalan, jelas angka ini meningkat sebanyak 79 detik.

Selain itu, panjang antrean pun cenderung lebih cepat berkurang, yaitu mencapai 24 orang dari angka 73 orang.

Tapi, tapi, tapi—masalahnya: orang-orang yang ngotot bilang “Nggak apa-apa kali kedua sisi dipakai buat berdiri doang!” ini memangnya nggak tahu rasanya lagi keburu-buru dan malah ketemu orang yang seenaknya berdiri di tengah-tengah eskalator, ya???

Baca juga:  Hasil Piala Dunia 2018 Kolombia vs Jepang Skor 1-2

Bawa-Bawa Kampanye Naik Eskalator di Jepang

Gara-gara protes soal aturan naik eskalator MRT ini muncul, banyak pihak yang mengaitkan dengan peraturan yang (((sempat))) diberlakukan di Jepang. Sebuah video dan artikel yang mengabarkan kampanye di Jepang soal penggunaan eskalator di mana para penggunanya berdiri di kedua sisi pun disebarkan.

Konon, demi menghindari pengguna eskalator yang suka berjalan terlampau cepat sampai-sampai membahayakan pengguna lainnya, Jepang berusaha mengajak warganya mengubah kebiasaan naik eskalator. Seluruh pengguna diminta berdiri diam di atas eskalator, sementara mereka yang terburu-buru disarankan naik tangga biasa.

Apakah peraturan ini permanen digunakan?

Nyatanya, kampanye ini dilakukan Desember 2018 lalu hingga Februari 2019. Kampanye serupa juga pernah dilakukan Jepang pada tahun 2016 dan 2017, meski aturan umumnya masih tetap berlaku sama.

Tapi lagi-lagi, permasalahannya cuma satu: itu kan di Jepang—apa hubungannya sama kita-kita yang di Indonesia???

Oh, iya, saya lupa. Mungkin, bagi sebagian orang, asal sudah diterapkan di luar negeri, maka itu adalah aturan yang paling baik dan benar, ya? Lagian, kalau memang yang paling baik adalah naik eskalator dengan berdiri diam di kedua sisi, Indonesia menang, dong.

Maksud saya, lah wong aturan yang “berdiri di sisi kiri, berjalan di sisi kanan” aja kita nggak lulus-lulus dari awal, kok.

Hadeh, nggak usah jauh-jauh “studi banding” pakai artikel dari Jepang, Kak, kalau gitu.