MOJOK.CO Jakarta itu ibarat pacar yang cuek, yang kalau dikirimi pesan hanya akan menjawab, “Ya,” alih-alih, “Ya, Sayang.” Duh, berlaku di hari ulang tahun Jakarta juga nggak, nih???

Pertama kali saya tidak menyukai Jakarta adalah ketika kakak saya diterima bekerja di sana. Gara-gara pekerjaan di Jakarta, kakak jadi tidak pulang setiap minggu ke rumah dan hanya sesekali membalas chat karena harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam-malam sekali.

Lebih menyebalkannya lagi, waktu saya nekat meneleponnya ketika ia sedang dalam perjalanan ke kantor naik angkot, seseorang malah merampas hape milik kakak saya, membuat saya kehilangan akses komunikasi dengannya selama beberapa waktu.

Duh, Jakarta. Kenapa harus sekeras itu, sih? Apa di hari ulang tahun Jakarta sekarang segalanya masih sama menyebalkannya?

Orang bilang, Jakarta itu ibarat pacar yang cuek, yang kalau dikirimi pesan WhatsApp hanya akan menjawab, “Ya,” alih-alih, “Ya, Sayang.” Ada juga yang menggambarkannya sebagai tempat paling jahat di dunia, sampai-sampai kamu tidak boleh percaya pada satu orang pun di sana dan harus memeluk tasmu erat-erat kayak balon hijau waktu naik metromini.

Saya bukan warga ibu kota, tapi akhirnya merasakan Jakarta sebagai orang dewasa setelah kakak saya punya tempat tinggal di sana. Secara tidak langsung, perkenalan saya dengan Jakarta pun dimulai, jauh sebelum ulang tahun Jakarta tahun ini digelar kembali.

*JENG JENG JENG*

Saya ingat betul, kereta api Purwojaya melewati Jatinegara sebelum Gambir. Di daerah pinggiran rel sekitar Jatinegara inilah saya pertama kali tahu bahwa lokalisasi itu nyata adanya.

Baca juga:  Kelakuan Ribet Saat Banyak Pilihan yang Bikin Kelelahan Mental

Wow. Bukan kesan yang menyenangkan, memang.

Ada antrean panjang di jalan raya: macet. Taksi yang saya tumpangi harus tertahan cukup lama bahkan sebelum kami sampai ke daerah Tebet. Ah, batin saya, kalau ini di Jogja, saya rasa saya sudah berhasil menembus kemacetan sejak tadi dengan motor!

Ngomong-ngomong soal motor, saya jadi ingat: di Jakarta, kadang saya bepergian naik ojek, hanya untuk kemudian menyesalinya. Soalnya, pengendara ojek di sana seperti menelan 10 baterai setiap hari. Ngebut!

Kakak saya menjadi pemuja angkutan umum setelah tinggal di Jakarta. Ia hanya sesekali naik ojek ke stasiun—biasanya naik angkot. Padahal, angkotnya juga memusingkan; supirnya ugal-ugalan dan sempat menyerempet motor. Saya kira segalanya akan baik-baik saja, tapi ternyata saya salah: pengendara motor tadi turun dan langsung merusak kaca spion di angkot, lalu pergi.

[!!!!!!!!11!!!!!1!!!!!]

Kami sampai di stasiun tepat waktu. KRL yang kami naiki datang dan kami bergegas masuk ke dalamnya. Sialan, ini penuh sekali, rutuk saya. Di Jogja, kalau saya ingin pergi ke Solo naik Prameks, biasanya saya dan penumpang lain bisa duduk di lantai kereta kalau kecapekan.

Lah, di KRL? Uh, boro-boro!

Perjalanan berdesakan di KRL selesai, tapi perjuangannya belum. Kakak akan mengajak saya menyeberang lewat jembatan penyeberangan yang tidak saya temui di kota asal kami. Repot sekali sebenarnya, kalau untuk menyeberang saja harus naik tangga. Apalagi, anehnya, ada motor naik ke jembatan penyeberangan.

Saya ulangi lagi: MOTOR NAIK JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG!!!!!11!!!!1!!!

Baca juga:  Tempat-tempat Anti-Mainstream Untuk Pacaran Memadu Kasih

Hadeeeh, saya jadi penasaran: apakah orang itu masih melakukan hal yang sama bahkan di hari ulang tahun Jakarta begini, ya?

Saya juga terdorong ingin bertanya kenapa ada orang-orang yang otaknya sesengklek itu pada kakak saya, tapi dia sudah berjalan menuju terminal Trans Jakarta. Jalannya agak panjang dan sungguh melelahkan.

“Tunggu di sini,” kata kakak saya, begitu kami masuk ke area tunggu Trans Jakarta. Tak berapa lama, busnya datang. Sayangnya, kami harus lebih dulu melihat motor dan mobil yang berjalan seenaknya di jalur busway.

“Memangnya boleh?” tanya saya. Kakak cuma menoleh dan menjawab, “Ya menurut lo???”

Hmm, kalau mengingat itu, saya harap di hari ulang tahun Jakarta begini, sih, seluruh pengendaranya berhenti bersikap sebodoh itu.

Bus trans kami datang dan untungnya ada kursi yang kosong. Saya duduk dengan segera, menggamit lengan Kakak karena takut terpisah lagi seperti di KRL. Tak lama, seorang ibu paruh baya datang dan berdiri di dekat kami.

Kakak saya berdiri, lalu berkata, “Silakan, Bu, kursi saya dipakai saja,” tanpa repot-repot memberi tahu saya.

Kata Kakak saat itu, kami masih harus jalan kaki sedikit dan naik Kopaja. Saya mengeluh kelelahan, tapi Kakak cuma tertawa dan bilang, “Sabar sebentar.”

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya dan mungkin tulisan ini akan jadi sedikit sentimental, tapi saat itu saya ingin memeluk Kakak erat-erat. Dan mungkin orang di sebelah kami. Atau orang di sebelahnya lagi. Oh, dan jangan lupakan ibu-ibu yang tadi datang.

Baca juga:  Berburu Denim di Gang Tamim

Semua orang yang kami temui di Jakarta adalah pejuang. Mereka bergerak cepat sekali seakan-akan bakal kehabisan waktu kalau tidak bergegas. Kakak saya juga begitu—kalau dia memperlambat jalannya sedikit saja, mungkin dia akan terlambat kerja atau terlambat pulang ke rumah.

Saya yang cuma main ke Jakarta mungkin bisa seenaknya mengeluh dan membenci Jakarta. Lah wong untuk nonton JKT48 di FX Sudirman saja perjalanannya udah kayak tiga tahun lamanya! Tapi sesungguhnya, ada banyak hal yang tidak saya ketahui—yang kakak saya sebut sebagai alasan kenapa dia bertahan cukup lama di kota ini.

Jakarta sama warasnya dengan kota lain. Kamu bisa menemukan mi ayam paling enak di dunia kalau berjalan-jalan di sekitar Pasar Baru, atau menemukan suvenir yang unik dan menarik di Pasar Mayestik. Nasi lele di Jakarta harganya tiga belas ribu rupiah waktu satu porsi yang sama cuma seharga enam ribu rupiah di Jogja, tapi nasi bebek di pinggir Jalan Pahlawan Revolusi adalah harta karun yang menyenangkan.

Berjalan kaki di kawasan pedestrian sekitar Sudirman dan Rasuna Said juga membuatmu menikmati Jakarta. Kalau bosan, coba-coba saja berkeliling di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT) dan melihat bunga matahari.

Yah, pada akhirnya, Jakarta adalah kota yang menunggu penilaianmu sendiri, tergantung bagaimana kamu menghadapinya. Kakak saya bertahan sampai hari ini dan dia bahagia-bahagia saja di sana.

Selamat ulang tahun Jakarta. Tolong jaga kakak saya dan banyak orang lain yang berjuang di bawah lenganmu, ya.