Pacar Merokok atau Tidak Merokok Sesungguhnya Tidak Penting-Penting Amat

MOJOK.CO Saya tidak suka asap rokok dan tidak suka pacar merokok. Tapi, bukankah hubungan asmara tak melulu soal merokok dan tidak merokok?

Waktu SMA, seorang kawan menyalakan korek dan mengarahkannya ke ujung rokok. Saya menoleh dan bertanya terkejut, “Kamu masih ngerokok?”

“Jangan bilang-bilang Winda,” jawabnya singkat.

Tanpa perlu alasan lebih lanjut, saya paham maksud teman saya. Winda, pacarnya, tak suka ia merokok dan telah memaksanya berhenti. Sebagai bucin yang budiman, teman saya menurut dan menyembunyikan rokoknya di ujung dalam tas miliknya.


Itu kejadian bertahun lalu. Hingga masa-masa berikutnya, saya bertemu kisah serupa. Banyak teman perempuan saya membenci asap rokok. Saya juga, jujur saja. Tapi dulu, tak seperti Winda, saya tak sampai menyuruh pacar untuk berhenti merokok. Boro-boro berhenti, mulai saja dia nggak mau!

Tapi, kalau saya jadi Winda, mungkin saya akan melakukan hal yang sama: melarang pacar merokok. Loh, loh, loh, kenapa???

Dalam kepala saya yang saat itu masih muda, bebas, dan berbahaya, merokok adalah kegiatan paling tidak penting sedunia. Maksud saya, ngapain sih kamu repot-repot ngebakar kertas, hirup, embuskan, lalu ulang 29.182 kali???  Apa manfaat yang bakal kamu rasakan setelah merokok; apakah kamu akan jadi lebih ganteng, lebih berotot, atau lebih bisa ngerjain ulangan Fisika, gitu???

Di kalangan SMA saya dulu, anak-anak cowok yang merokok sebagian besar adalah anak-anak cowok yang saya masukkan dalam daftar “sok ganteng” atau dengan kata lain “yang tidak bisa saya pikat”. Kecenderungan mereka untuk tampil dengan banyak tingkah jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang hidupnya adem-ayem saja tanpa rokok dan asapnya.

Baca juga:  Ancaman “Jalani Dulu Aja” dalam Kehidupan Budak-Budak Cinta

Lagi pula, FYI aja nih ya, beberapa perempuan memutuskan untuk tidak menyukai pacar merokok karena dirinya memang tidak terbiasa berada di dekat perokok. Bisa jadi, ayah dan saudara laki-lakinya tidak merokok. Nah, kalau tiba-tiba ia punya pacar yang perokok, harus bagaimana dia bersikap saat ijik-ijik pacarnya menyulut rokok di ruang tamu??? Apakah ayahnya bakal fine-fine saja menghadapi asap rokok dari calon menantunya??? Hmm???

Kekhawatiran-kekhawatiran ini, entah bagaimana, merasuki jiwa saya sedemikian sehingga saya berpacaran selama hampir dua periode presiden dengan seseorang tanpa rokok. Bahagia? O, jelas—saya nggak perlu khawatir baju baru saya bau rokok dalam waktu satu menit.

Langgeng?

O, jelas tidak.

Ya, Saudara-saudara sekalian, ternyata merokok atau tidak merokok itu bukanlah jaminan kamu akan langgeng dengan pasanganmu, dan ini serius.

[!!!!!!!!11!!!!!!!!!11!!!]

Setelah resmi menjomblo, saya mulai berusaha berpikir reflektif. Apakah semua orang yang tidak merokok itu pasti yang terbaik buat saya dan Winda? Winda tetap kekeuh dengan pilihannya, dan itu adalah haknya yang hakiki. Ia tidak suka perokok, dan selamanya akan begitu. Katanya,

“Dia (perokok) aja nggak sayang sama badannya, mana mungkin dia sayang sama aku?!”

Pernyataan Winda saya simpan di kepala sambil mengerutkan dahi karena teringat kisah cinta saya yang baru berakhir. Hingga akhirnya, suatu hari, saya bertemu orang lain.

Baca juga:  Menjadi Bucin yang Sungguh Keras Kepala

Ia tidak merokok dan ia menyayangi saya dengan baik. Selama beberapa lama, saya mengamini pernyataan Winda. Pacar saya yang baru ini menyayangi badannya dengan cara tidak merokok, sekaligus menyayangi saya dengan lebih tumpeh-tumpeh.

Dalam suatu kesempatan, kami bertemu dengan seorang teman yang merupakan perokok. Saya sedang akan meminum es teh, waktu tiba-tiba si pacar menerima rokok dari teman dan menyalakan koreknya. Dia merokok!


Ya, ya, ya, ternyata selama ini si pacar merokok tanpa saya ketahui. Dia tahu saya tidak suka asap rokok dan memilih menampilkan “dirinya-yang-tidak-merokok” di hadapan saya. Yang tidak saya ketahui, momen-momen berkumpul dengan teman pun selalu dihabiskan dengan segelas kopi dan berbatang-batang rokok.

“Dia aja nggak sayang sama badannya, mana mungkin dia sayang sama aku?!”

Pernyataan Winda langsung ambyar di kepala saya. Label “perokok” dan “bukan perokok” di bayangan saya tak lagi sempurna seperti di awal.

Lantas, apakah si perokok “diam-diam” ini menjamin langgengnya suatu hubungan asmara?

Belum tentu, ternyata. Hubungan kami mengalami naik dan turun, dan seluruhnya tak berhubungan dengan rokok yang diam-diam ia sembunyikan di balik jaketnya. Punya pacar merokok pun bukan jaminan bahwa kamu tak akan merasa sakit hati, bukan?

Baru saja kemarin saya berbincang dengan seorang teman perempuan. Ia mengaku tak suka laki-laki perokok karena asapnya mengganggu dan bisa membahayakan kesehatan. Pacarnya bukan perokok dan ia sangat mensyukuri hal itu. Saya tersenyum saat melihatnya merasa lega.

Baca juga:  Saat Orang Tua Jadi Beban Anak Pertama, Rasanya Campur Aduk

Tapi sesungguhnya, kalau bisa, saya ingin berkata: “Merokok atau tidak merokok, itu bukan hal yang penting-penting amat. Ia mungkin berbahaya bagi kesehatan, tapi siapa pun sesungguhnya punya kesempatan yang sama untuk menjadi bahaya bagi kesehatan jiwamu.

“Merokok atau tidak merokok juga bukan jaminan perasaan sayang. Percaya atau tidak, tidak ada yang bisa memberi garansi cinta pada hubunganmu, bahkan kalau pacarmu bukan perokok. Oh, dan aku sudah merasakan sendiri: duduk berdua dengan laki-laki perokok, tidak bicara apa pun, dan aku hanya melihat asapnya bergerak. Rasanya jauh lebih menenangkan daripada mendengar kebohongan tidak masuk akal dari seorang laki-laki yang kebetulan bukan perokok.”

Sayangnya, saat itu saya diare dan harus pergi duluan. Sial!