MOJOK.CO Banyak orang menanggapi ketakutan ini dengan senyum haha hehe dan balasan singkat, “Masa takut kucing? Kucing kan lucu. Kamu kan suka Doraemon.”

Suatu malam, saya makan di lesehan pinggir jalan. Makanannya enak: lele goreng, nasi hangat, dan sambal bawang. Saya yang kelaparan kala itu yakin 100% bahwa dalam 5 menit perut saya bakal berhenti berbunyi.

Tapi, harapan memang hanya tinggal harapan. Dalam 5 menit selanjutnya, saya malah berusaha mati-matian duduk tak tenang. Sedikit-sedikit, saya melirik ke kucing yang tiba-tiba muncul dan mengeong setiap 2 detik. Si kucing melompat ke kursi kosong sebelah saya, memandangi lele goreng yang baru saya cuil ekornya saja. Setengah detik setelah kucing tadi melompat, saya balas lompat menjauh dengan kehebohan hakiki, membuat partner makan saya tertawa-tawa sambil berkata,

“Kenapa, sih? Nggak papa, loh, kan cuma kucing.”

(((KAN CUMA KUCING)))

Hmmm, monmaap nih, bagi saya, kucing adalah… yah, kucing.

Oh, jangan salah. Saya tidak membenci kucing. Hanya saja, bagi saya, kucing bukanlah sumber kebahagiaan, sebagaimana yang teman-teman saya yakini.

Saya cuma takut kucing.

Saya menghormati kucing. Saya tidak pernah mengusiknya saat dia sedang asyik menggondol makanan orang. Saya juga tidak pernah menakut-nakuti atau melempar mereka dengan batu. Tapi pertanyaannya cuma satu:

…kenapa sih kucing-kucing ini selalu membuat jantung saya berdegup 47.283 kali lebih cepat???

Baca juga:  6 Tindakan Antisipasi jika Gunung Merapi Meletus

Maksud saya, apakah kucing-kucing ini tidak tahu betapa kagetnya saya saat mereka tahu-tahu lewat dan menyenggol-nyenggol saya dengan kakinya? Kenapa dia se-PD itu megang-megang saya? Apakah itu artinya dia siap saya tendang tak sengaja kalau-kalau saya terlalu kaget dan takut berlebihan?

Lalu, apa sih yang ada di pikiran kucing-kucing ini saat mereka memaksa saya untuk membagi makanannya? Apakah mereka tidak tahu betapa saya takut setengah mampus, mengira-ngira kapan mereka akan lompat mendadak ke depan piring saya untuk ikut menghabiskan potongan ayam yang saya beli untuk makan siang?

Lagi pula, kenapa sih mereka dianggap cute dan imut oleh sebagian orang, padahal kan kita semua nggak tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan???

Banyak orang menanggapi ketakutan saya ini dengan senyum haha hehe dan balasan singkat, “Masa takut kucing? Kucing kan lucu. Kamu kan suka Doraemon.”

(((KAMU KAN SUKA DORAEMON)))

Duh.

Pertama-tama, Doraemon bukanlah kucing—dia robot kucing. Kedua, Doraemon tidak bersarang di lesehan-lesehan penyetan dan memandang kelewat ngiler pada semua makanan yang disajikan pada pembeli. Ketiga, Doraemon tidak melompat diam-diam atau narik-narikin baju, kabel, tas, dan apapun yang kita pakai.

Keempat, Doraemon tidak pernah pup sembarangan di atas selimut saya.

Ya, ya, ya. Saya ulangi: Doraemon tidak pernah pup sembarangan di atas selimut saya.

Baca juga:  Starter Pack Nge-chat Atasan ala Budak Birokrat

Tetangga saya dulu punya kucing, kucingnya ganteng sekali (saya bahkan tidak sedang bercanda). Saya sempat terlena dan merasa kucing ini tidak ‘jahat’ dan baik budinya, apalagi tetangga saya orangnya sopan, gemar menolong, dan perhatian. Yah, like the cat, like the owner saya pikir.

Eh, ndilalah, pas saya tinggal ke dapur, tahu-tahu ada bau tajam yang ternyata berasal dari selimut saya. Di atasnya, bergeletakanlah unsur coklat-coklat cair—hasil karya dari si kucing ganteng yang tadinya saya percaya.

Itulah, Saudara. Kucing itu nggak bisa jaga kepercayaan kita—yah, kepercayaan saya, deh, minimal.

Di lain waktu, saya pernah pergi menginap ke rumah teman saya yang memelihara kira-kira 9 kucing. Saat itu, saya ingin menyelesaikan pekerjaan saya di laptop. Sialnya, begitu halaman Microsoft Word terbuka, salah satu kucing si teman malah dengan santainya lewat dan duduk di atas keypad.

[!!!!!111!!!!11!!!!]

Saya? Cuma bisa meng-huss-huss-nya saja karena takut mau nggendong :(((

Sudah deh, nggak perlu bicara soal kelakuannya yang bikin berdebar-debar dulu—wong melihat cara kucing melihat kita saja sudah bikin geleng-geleng tak percaya.

Jadi gini: suatu hari, saya bertemu kucing milik sahabat saya yang lain. Biasa aja—saya nggak nyapa dia, dia juga. Kami tidak saling kenal, tapi ia memandang saya.

Saya memandangnya balik karena merasa insecure. Namanya juga orang takut kucing.

Tatapan kami kian intens. Tiba-tiba saya merasa tatapan si kucing tampak lebih tegas dan jahat, diikuti suara mendesis.

Baca juga:  Biar Nggak Otomatis Murtad, Hapus Mozaik Lambang Salib di Jalan Depan Balai Kota Solo

Apa coba maksudnya? Apakah tampang saya tampang kriminal? Apakah kucing itu merasa terancam dengan keberadaan saya? Apakah si kucing itu nggak tahu bahwa saya pun merasa jauh lebih terancam dan takut dicakar?

Serius deh; bukankah lebih baik kita memang saling menjauh dulu saja, seperti mantan pasangan yang baru putus dan lukanya masih basah?