diomongin teman - MOJOK.CO

Kenapa Harus Khawatir Banget Diomongin Teman di Belakang?

MOJOK.CO Karena nggak pengin diomongin teman, beberapa orang memilih untuk bersikap terlampau kepo. Duh, nggak sayang kesehatan mental, ya?

Seorang kawan pernah bercerita soal temannya yang lain, yang bernama Pita. Tapi, dengan alasan “keamanan”, ia memilih untuk menyamarkan nama Pita sebagai “Padi” sebelum mulai melanjutkan ceritanya yang ternyata berupa sambatan dan gibahan.

Untung saja kejadian di atas terjadi di pertengahan tahun 2006. Saat itu, belum ada aplikasi bertukar pesan semacam LINE atau WhatsApp. Paling mentok, cuma ada SMS yang 1 kali kirimnya bakal mengurangi pulsa sebesar 350 perak. Aktivitas curhat dan berbagi sambatan pun lebih sering dilakukan lewat tatap muka langsung sambil makan bakso—tentu saja tanpa terdistraksi notifikasi Instagram dan Twitter yang dikit-dikit bikin pemiliknya jadi ngecekin hape setiap 3 menit sekali.

Hal ini tentu menguntungkan karena kawan saya tadi nggak bakal perlu ketakutan Pita bakal tahu bahwa dirinya lagi diomongin teman di belakang. Toh, dalam gibahan si kawan, tidak ada bukti tertulis yang bisa dilacak sewaktu-waktu. Yang ia khawatirkan cuma satu: siapa tahu ada orang di sekitar kami yang kenal siapa “Pita” sehingga ia memutuskan menyamarkan namanya sebagai “Padi”.


Terdengar aneh? Nggak juga. Saya pernah bercerita soal teman saya dengan nama samaran “Pulpen”, “Biru”, sampai “Papan Tulis”. Nggak ada artian apa pun, tapi nama samaran ini semata-mata dibuat memang untuk “keselamatan” hubungan kami.

Baca juga:  Bagi-bagi Uang Kok Cuma Ke Koruptor dan Pengangguran, Ke Semua Orang Sekalian Dong!

Sekarang, zaman sudah berubah lebih mudah. Alih-alih harus ketemu dan tatap muka langsung, WhatsApp, LINE, Telegram, dan aplikasi lain jelas memudahkan kita untuk curhat sama sahabat soal apa pun dan siapa pun. Aksi berbagi sambatan dan gibahan pun bisa lebih mudah dilakukan, kecuali kalau…

…ada orang yang super kepo dan mencari tahu apakah dia pernah diomongin teman di belakang atau nggak.

https://twitter.com/ciloqciliq/status/1168827085298659329

Pertama-tama, harus diakui, ngomongin orang itu memang enak, tapi kepo juga nggak kalah enaknya. Makanya, kalau dua-duanya digabung, efeknya jadi luar biasa enak: ngepoin temen soal apakah mereka pernah ngegibahin kita atau nggak. Jangankan pakai cara nge-search nama kita di aplikasi chatting miliknya, lah wong nge-scroll kolom chat temen dan orang lain demi mencari tahu apakah mereka pernah ngomongin kita juga pasti pernah dilakukan beberapa dari kita, kok.

Tapi, pertanyaannya: buat apa???

Kalau tahu kita lagi digibahin orang dan diomongin teman soal kejelekan yang kita punya, kita mau apa? Memangnya kita sesuci itu sampai orang lain nggak boleh ngomongin kejelekan kita? Memangnya kita sebersih itu sampai nggak pernah merasa kesal dengan si teman dan nggak sengaja kelepasan ngomel-ngomel soal dia ke orang lain?

Diomongin teman memang ngeselin. Kita mungkin bakal merasa si teman tadi munafik dan pengkhianat, tapi, hey, ayolah, kamu hidup di gua mana, sih???

Baca juga:  Sepotong Kisah Itok dan Satpol PP yang Pernah Menangkapnya

Kalau-kalau kamu lupa, sini biar saya ingatkan: di dalam dunia pertemanan, ingat-ingatlah selalu rumus ABC. Apa artinya?

Artinya, kalau dalam sebuah circle pertemanan terdapat tiga orang di dalamnya (A, B, dan C), maka beginilah sistem yang berlaku: kalau A nggak ada, B dan C bakal ngegibahin si A; kalau B nggak ada, maka ia harus ikhlas dirinya diomongin teman di belakang; begitu pula kalau C nggak ada. Dengan kata lain, kalau kamu sedang nggak ada bersama teman-temanmu, baik secara fisik maupun kolom chat pribadi, ya udah, siap-siap aja jadi bahan pembicaraan yang mungkin bakal mengarah ke gibahan soal dirimu.

Apa??? Kejam??? Ya memang begitu cara hidupnya manusia, Sayangku~

Sebal? Boleh. Tapi pertanyaannya lagi-lagi akan kembali ke kamu: ngapain kamu kepo sama temenmu sendiri sampai buka-buka hape mereka hanya untuk mengetahui jenis gibahan apa saja yang mereka lakukan padamu? Kamu nggak pernah dengar istilah “privasi”, ya???

Sungguh, deh, kadang-kadang, tahu lebih sedikit hal itu jauh lebih menyenangkan daripada tahu banyak. Prinsipnya sama kayak percaya ke pacar sendiri: yang penting kita sudah bersikap sebaik-baiknya. Perkara apakah mereka akan mengkhianati kita atau nggak, itu urusan mereka. Titik.

BACA JUGA Pacaran ya Pacaran Aja, Ngapain Cek HP Pasangan Melulu? atau tulisan Aprilia Kumala lainnya.