MOJOK.CO Ongkos menjaga pertemanan dianggap mahal bagi sebagian orang karena tuntutan yang harus dipenuhi demi teman lainnya. Pertanyaanya: apakah realitas ini benar terjadi dan sungguh-sungguh dirasakan semua orang?

Usia saya (hampir) 26 tahun, tiga tahun lebih bangkotan dibanding penulis artikel Vice tentang ongkos menjaga pertemanan sebulan lalu dan nge-hits berhari-hari di lini masa. Ketika saya membaca artikel tadi untuk yang kesekian kalinya, kening saya berkerut-kerut.

Peringatan: Baca dulu artikel yang saya tautkan di atas, ya~

Percayalah, sebagai wanita yang punya beberapa teman wanita, saya juga pernah merasakan (beberapa) hal yang dikeluhkan penulis: teman-teman akan menikah lalu mereka membagikan kain untuk dijahit—atau dengan kata lain, mereka “meminang” saya menjadi bridesmaid mereka, yang pada dasarnya sama dengan orang-orang yang dititahkan untuk pakai baju kembaran dan harus siap untuk diminta foto bareng pengantin.

Yang jadi permasalahan adalah penulis artikel tadi menyebutkan bahwa ongkos menjaga pertemanan itu mahal, yang dilihat dari biaya jahit baju: 300 ribu!!!

Tunggu, 300 ribunya kan dibayar ke tukang jahit, tapi kenapa itu malah seakan-akan jadi salahnya teman yang ngasih kain? Bukankah seharusnya ongkos 300 ribu itu untuk “bayar jasa penjahit” alih-alih untuk “menjaga pertemanan”? Lagian, itu jahitnya 300 ribu banget, sis? Coba deh keliling-keliling sedikit. Kalau minta dijahitin di tukang jahit langganan, 150-an ribu dapet, kok, dengan ilmu negosiasi.

Setelah pusing urusan baju bridesmaid, masalah yang dibahas kedua adalah soal bridal shower dan iuran membeli kado untuk teman yang akan menikah. Dalam artikel tadi, angka iuran yang disebutkan cukup tinggi: 200 ribu per orang.

Alamak, itu beli apa aja, ya? Foundation Estee Lauder? Balon aneka warna? Pakaian dalam kelas dunia?

Saya jarang ikut iuran, lebih sering iuran sama diri sendiri untuk ngamplop di kondangan: masalah beres, selesai, tanpa nggerundel di dalam hati. Lagian, kenapa ongkos 200 ribu tadi juga dipermasalahkan sebagai ongkos menjaga pertemanan? Padahal, kalau dipikir-pikir, ongkos 200 ribu itu, kan, muncul karena…

…jumlah orang yang patungan kurang banyak. Itu!

Solusinya, dalam melakukan iuran, ajaklah teman-teman sebanyak mungkin, mulai dari teman SD, SMP, SMA, kuliah, hingga kerja. Alih-alih mengeluh ongkos pertemanan tadi mahal, hikmah silaturahmi pasti akan terasa.

Meski jarang ikut iuran, saya pernah terlibat dalam beberapa kali iuran kado pernikahan. Terakhir, saya iuran 50 ribu untuk 2 pasang pengantin dengan hadiah yang tidak ecek-ecek dan cukup bermanfaat. Kuncinya? Iuran sama temen-temen yang banyak, nggak usah sok-sok pakai squad-squad gitu.

See? It’s all about how you plan everything, gaes-gaesku.

Dan, lupakan gengsi! Nggak perlulah ngado dan dekor sana-sini hanya demi momen foto yang Instagramable. Kalau mindset-nya masih kayak gitu, yang mahal berarti bukan ongkos menjaga pertemanan, tapi ongkos menjaga followers.

Xixixi~

Yang tidak kalah bikin runyam adalah ongkos menjaga pertemanan dalam bentuk traktiran, mulai dari berulang tahun hingga resign dari pekerjaan.

Tapiiii, saya sendiri resign bulan Desember lalu dari tempat kerja lama saya dan—untungnya—nggak ada tuh yang minta traktiran resign. Lagi pula, teman macam apa, sih, yang setiap kali kita bergerak selalu minta traktiran?

[!!!!!!11!!!!!!!!!!!!]

Ya, ya, ya, benar!!! Kalau dipikir-pikir, teman macam apa yang memaksa kita untuk bersikap seperti teman yang ada dalam pikirannya??? Menyediakan baju seragam dalam pernikahan, bridal shower, kado, kejutan, hingga traktiran—memangnya itu ada dalam Undang-Undang Pertemanan??? Bahkan… emangnya ada Undang-Undang Pertemanan???

Saya ingat, dalam artikel tadi, ada kalimat yang menyebutkan:

“Ini terjadi enggak cuma di Jabodetabek. Di kota-kota besar lain juga mulai ngetren. Itu belum menghitung biaya yang keluar kalau misalnya kita resign dari kantor lama.”

Eeiiiits. Tunggu sebentar, tunggu sebentar.

Apakah Yogyakarta termasuk kota besar? Karena jika ya, saya tidak sepenuhnya merasakan semua hal yang disebutkan penulis, apalagi di kampung halaman saya, Cilacap. Ya, Cilacap mah emang bukan kota besar, sih. Tapi, btw, Cilacap itu salah satu kabupaten terluas di Jawa Tengah (nggak mau kalah) dan budaya ini juga tetap jarang ditemui.

Jadi, Teman-Teman, sudahlaaaah~ Nggak perlulah kamu-kamu lantas ketakutan untuk berteman karena ongkosnya disebut-sebut mahal. Kalau pun kamu merasa mahal, kemungkinannya ada lima: 1) pergaulan yang kamu cemplungi memang terlalu tinggi; 2) kamu sedang memenuhi standar gengsimu sendiri; 3) kamu nggak punya tukang jahit langganan; 4) squad-mu terlalu eksklusif; atau 5) belum ada diskon di toko-toko yang barangnya kamu incar.

Saya pribadi sih memang tidak begitu merasa ongkos pertemanan ini mahal. Setidaknya, tidak mencapai nominal biaya yang—jika pun harus keluar—setara dengan artikel tadi, lah.

Boro-boro ngado sampai 200 ribu, lah wong inget ulang tahun temen aja udah alhamdulillah.