• 286
    Shares

MOJOK.CO Mengamati penggunaan kata depan ke, kepada, pada, dan untuk, serta perbedaannya, dalam bahasa Indonesia.

Di dunia ini, yang memusingkan kepala ternyata bukan hanya problematika percintaan. Nyatanya, penggunaan kata depan alias preposisi bahasa Indonesia juga tak kalah membuat kita berpikir lebih keras dari sebelumnya, yaitu pada kata ke, kepada, pada, hingga untuk. Kenapa berpikir lebih keras? Tentu saja karena bingung: ini cara pakainya sebenarnya gimana, sih???

Kenapa kita cenderung suka berkata, “Aku ingin meminta bantuan ke kamu,” alih-alih, “Aku ingin meminta bantuan kepada kamu”? Bentuk mana yang benar? Bentuk mana yang sesuai dengan aturan bahasa Indonesia? Bentuk mana yang tidak merusak hubungan dan komitmen kesepakatan penggunaan bahasa?

Ternyata, Pemirsa, bentuk kalimat yang paling benar adalah bentuk kedua: “Aku ingin meminta bantuan kepada kamu.” Sekarang, marilah kita kupas tuntas mengapa kata kepada dipilih, bukan kata ke.

Baik ke maupun kepada adalah kata depan yang dalam penggunaannya memperhatikan dua hal, yaitu kata yang didahului serta arti yang dibawanya. Jika ke merujuk pada tempat fisik (sesuatu yang diyakini sebagai tempat), lain halnya dengan kepada. Kata kepada cenderung dipakai untuk merujuk pada orang atau selain tempat.

Naaah, sampai sini jelas, kan, Ferguso??? Kata ke dan kepada itu beda. Lagi pula, kata ke sendiri bukan merupakan kependekan dari kata kepada. Jadi jelas, bentuk yang benar adalah: “Aku ingin meminta bantuan kepada kamu.”

Tapi, kalau kamu maksa mau memaksimalkan penggunaan kata depan ke pada kalimat di atas, kamu bisa menulisnya, misalnya, dengan: “Aku ingin ke rumahmu dan meminta bantuan kepada kamu.” Kata ke pada kalimat tersebut menunjukkan tujuan tempat (rumah), sedangkan kata kepada digunakan untuk merujuk selain tempat. Sampai sini mengerti, ya, mylov?

Setelah mengetahui penggunaan kata depan ke dan kepada, muncullah satu lagi pertanyaan baru: apa bedanya penggunaan kata kepada dan untuk???

Menurut KBBI, kata kepada dan untuk memiliki makna berikut:

1. kepada: kata depan untuk menandai tujuan orang

2. untuk:

kata depan untuk menyatakan bagi, bagian;

sebab atau alasan;

tujuan atau maksud; bagi;

penggantian (sebagai ganti …); (disediakan, digunakan, dipakai) sebagai;

selama; dan

sudah.

Dari definisi tersebut, jelaslah bahwa penggunaan kata kepada dan untuk memang berbeda, meski terkesan sedikit mirip, seperti jodoh. Sebagai contoh, kalimat “Ayah membawa oleh-oleh untuk kami” merupakan bentuk yang benar dari “Ayah membawa oleh-oleh kepada kami.” Loh, kenapa?

Pasalnya, dalam kalimat di atas, makna yang diangkat adalah “oleh-oleh tersebut merupakan bagian kami.” Dengan demikian, kata untuk lebih tepat digunakan.

Pada konteks yang sama dan cara penyampaian berbeda, kalimat di atas bisa juga diberi kata kepada, seperti kalimat berikut:

“Ayah memberikan oleh-olehnya kepada kami.”

Setelah mengulik kata kepada dan untuk, lagi-lagi lahirlah pertanyaan yang tak kalah membingungkan: apakah kata kepada dan pada bermakna sama??? Kok mirip, memangnya mereka jodoh???

Lebih spesifik lagi, kata pada ternyata justru lebih sering dimirip-miripin sama kata di. Pasalnya, baik di maupun pada sering kali dipakai untuk menandai posisi atau keberadaan, misalnya di sana, di stasiun, atau pada saya, pada kepala divisi. Hal ini berbeda dengan kata ke dan kepada yang dipakai untuk merujuk pada tujuan atau arah, misalnya ke Jakarta dan kepada Bu Tuti.

Dari buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia oleh Alwi dkk., kata pada digunakan pula untuk menunjukkan hubungan waktu, sedangkan kembarannya—kata di—dipakai untuk menunjukkan hubungan tempat. Dengan kata lain, bentuk yang benar adalah saat kita berkata, “Pada tahun 2016, kamu datang kepadaku memberi harapan,” bukannya, “Di tahun 2016, kamu datang kepadaku memberi harapan sebelum akhirnya kamu menghancurkan segalanya.”

Udah, udah, nggak usah baper—itu cuma contoh.

  • 286
    Shares


Loading...



No more articles