• 176
    Shares

MOJOK.CO Merebaknya panggilan Mbak ini konon disebabkan oleh banyaknya orang Jawa yang tinggal di luar daerah.

Sewaktu saya merantau ke Bandung coret, alias Jatinangor—yang sebenarnya masuk ke area Sumedang—saya menemukan kebiasaan baru. Di sana, di Jawa Barat, orang-orang menggunakan sapaan Akang dan Teteh, alih-alih Mas dan Mbak. Sontak, saya yang asli ngapak pun sedikit gegar budaya.

Dalam upaya saya beradaptasi, saya sempat ditegur kakak yang juga merantau di Jatinangor. Pasalnya, saya menyebut seorang teman di kos dengan panggilan Mbak, alih-alih Teteh. FYI, teman kos saya ini asli Bandung—iya, cewek Sunda. Kalau kata kakak yang memang sudah 3 tahun lebih dulu tinggal di Jatinangor mah, sebaiknya saya jangan panggil si teman ini dengan panggilan Mbak. Waktu saya tanya kenapa, si kakak menggaruk dagu:

“Yaaaa… Kenapa, ya? Mbak itu kan, yaaa… Mbak-mbak, gitu loh, Li. Kayak mbak-mbak fotokopian, mbak-mbak penjual kue cubit, mbak-mbak tukang sayur…”

“Tapi penjual kue cubit di Ciseke itu bapak-bapak, kok, bukan mbak-mbak.”

“Bodo amat, Li.”

Hmm, saya jadi penasaran abis, dong, setelah ditegur. Emangnya, kenapa gitu kalau dipanggil Mbak??? Adakah yang salah??? Apakah kecantikan seseorang langsung turun 99 persen tiap tidak dipanggil dengan sapaan Teteh???

Sebelum kita bahas, sebagai informasi harus kita pahami betul: ‘keengganan’ terhadap panggilan Mbak ini bukan saja dialami (sebagian) orang Sunda. Perempuan asli Jakarta pun umumnya bakal mengernyitkan dahi saat dipanggil Mbak, karena… ya, kenapa harus Mbak, gitu???

Usut punya usut, di banyak tempat di Indonesia, panggilan ini digunakan terutama untuk menyapa orang asing atau mereka yang tidak dikenal akrab. Kenapa harus Mbak, bukan Kakak atau Teteh? Ternyata, panggilan Mbak memang dianggap lebih netral dan tidak mewakili suku tertentu, meski kita semua tahu ia berasal dari bahasa Jawa.

Baca juga:  Ora Sinau Aksara Jawa, Kaya Nyuntik Mati Aksarane Dhewe

Merebaknya panggilan Mbak ini konon disebabkan oleh banyaknya orang Jawa yang tinggal di luar daerah—ya termasuk saya zaman kuliah dulu. Apalagi, suku Jawa memang merupakan suku terbesar di Indonesia dengan populasi mencapai lebih dari 95 juta. Kebayang, kan, betapa banyaknya mbak-mbak yang tersebar di seluruh Indonesia?

Nah, tapiiii, kenapa panggilan Mbak malah terasa ‘rendahan’ bagi beberapa orang??? Kenapa panggilan ini justru identik dengan beberapa profesi—seperti penjual sayur, pedagang di pasar, atau bahkan asisten rumah tangga—padahal ia sama sekali tidak menunjukkan profesi apa pun???

Banyak sumber menyebutkan, anggapan ini mungkin muncul karena tradisi orang Jawa yang dikenal suka bertani dan berdagang. Sayangnya, menurut budayawan Ahmad Tohari, sikap orang Jawa sendiri telah mengalami perubahan.

Menjadi pedagang, bagi sebagian masyarakat Jawa, masih terasa seperti pekerjaan orang kecil dan tidak terhormat. Itulah sebabnya, panggilan Mbak bagi sebagian orang terasa sedikit ‘rendah’ karena mengingatkan mereka pada para pedagang.

Padahal, mah, kata siapa pedagang dipanggil dengan panggilan Mbak terus??? Tuh, pedagang online di Instagram aja dipanggilnya Min atau Say!!!

Profesi lain yang datang dengan stereotipe panggilan Mbak misalnya adalah asisten rumah tangga. Hal ini umumnya muncul karena, di kota-kota besar, kebanyakan asisten rumah tangga berasal dari tanah Jawa. Pun, karena mereka masih muda, mereka tidak dipanggil Mbok atau Bibi, melainkan Mbak.

Selain alasan profesi-profesi yang terasa melekat di atas, panggilan Mbak bagi sebagian masyarakat Sunda dan Jakarta ternyata terasa sedikit canggung karena—bagi mereka—panggilan itu berarti ibu-ibu dari Jawa. Padahal, kalau dipikir-pikir, mereka kan juga emang berasal dari Jawa, ya?

Baca juga:  Direktur FKY Ngobrolin Jogja, Jawa, dan Kebudayaan

Jawa bagian barat, maksudnya. Hehehe.