[MOJOK.CO] “Nama saya Sumanto. Saya harap Anda tidak keburu su’udzon.”

Dear jamaah Mojok,

Sejak sekitar tahun 2000, nama saya, Sumanto, melejit. Bukan sebagai artis, tapi sebagai pelaku kasus tidak biasa. Ya gimana mau biasa, wong kasusnya kanibalisme 🙁

Iya, koran-koran menyebut bahwa di Purbalingga ada pria bernama Sumanto yang kanibal. Makan daging. Dagingnya, daging manusia.

Saking fenomenalnya, nama saya bahkan pernah menjadi inspirasi sebuah film tersendiri yang berjudul Kanibal.

Berita soal “Sumanto si Kanibal” tak pernah sepi komentar. Lebih tepatnya, komentar su’udzon. Kalau berita menyebut “Sumanto ingin keluar pondok rehabilitasi,” netizen sibuk memperingatkan siapa tahu kelakuan kanibal itu kambuh lagi. Di lain waktu, berita menyebutkan pula “Sumanto ingin menikah,” netizen sibuk menebak-nebak wanita macam apa yang kelak tahan hidup dengan si kanibal.

Singkatnya, setiap berita yang melibatkan nama saya ini pasti langsung membuat orang-orang parno.

Keadaan ini menyedihkan saya. Bahkan, tak sedikit orang menjadikan saya lelucon dan bersikap diskriminatif. Saya tahu maksud mereka hanya bercanda, tapi lama-lama saya jenuh juga.

Selama belasan tahun, saya hidup begini dan mencoba sabar. Bagaimanapun, orang tua saya pastilah memiliki doa tersendiri di balik nama Sumanto. Dengan segera, saya pun mencari referensi arti nama untuk memperkuat keyakinan saya ini.

Saya mulai dengan suku kata su. Konon, nama dengan awalan su berarti ‘baik’ atau ‘bagus’. Namun, penggunaan suku kata ini memang sangat dipengaruhi ekspresi dan tinggi-rendahnya intonasi. Buktinya, kalau saya nakal dan bersikap mbeling, orang-orang di sekitar saya langsung tampak kesal dan berteriak, “Su…!”

Baca juga:  Sumanto dan Tidur Sebagai Perlawanan

Suku kata berikutnya adalah man. Karena saya pernah sekolah dan belajar bahasa Inggris, saya langsung mengasumsikan man bermakna ‘orang’, ‘manusia’, atau ‘lelaki’. Sementara itu, to adalah bentuk tanya yang sering saya dengar dalam bahasa Jawa, seperti “Iya, to?”, “Udah, to?”, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, setelah mengamati makna-makna tadi, saya percaya bahwa nama saya bermakna lelaki yang baik. Iya, to?

Ingat, “Iya, to?”-nya adalah bagian dari makna nama saya.

Pada akhirnya, saya sudah yakin 100% bahwa nama saya punya arti yang baik. Dengan demikian, saya tidak punya alasan untuk membenci nama saya dan segala konsekuensinya.

Namun, masih ada satu hal yang menggangu pikiran saya, yaitu betapa semua orang selalu su’udzon atas peristiwa kanibalisme. Kenapa, sih, mereka setakut itu pada aktivitas memakan orang? Kenapa orang-orang selalu berfokus pada nama saya, Sumanto, jika bicara soal memakan orang?

Padahal, kalau kita semua membuka mata dan hati, ada peristiwa kanibalisme yang sering kali terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sifatnya dengan dekat kita. Anehnya, kanibalisme yang satu ini tidak pernah dikriminalisasi, bahkan tetap berlaku lagi dan lagi, sekalipun korbannya cukup banyak berjatuhan.

Emangnya, kanibalisme apa, sih?

Itu loh, kanibalisme dalam hubungan manusia.

Alias, teman makan teman….

 

Salam kenal,

Sumanto Supradjo

(bukan seperti yang kau tuduhkan)

Komentar
Add Friend
No more articles