[MOJOK.CO] “Sebelum benar-benar move on, hal-hal ini cenderung pasti dilakukan setelah patah hati.”

Kebiasaan setiap manusia itu ibarat lagu Agnez Mo: kadang-kadang tak ada logika. Contoh paling sederhana adalah kelakuan yang muncul setelah patah hati.

Patah hati adalah kondisi emosional setelah kehilangan seseorang yang dicintai, misalnya karena putus cinta dengan pasangan, kematian kekasih, penolakan pernyataan cinta, atau diselingkuhi.

Biasanya, patah hati identik dengan air mata dan muka yang murung. Tapi, sadarkah kalian, wahai para pembaca Mojok, bahwa ada misteri-misteri seputar kebiasaan setelah mengalami patah hati?

Coba jha amati orang yang patah hati. Setelah pasang status dan caption super-duper galau di Instagram dan pasang layar hitam pekat dengan tulisan kecil-kecil di Instagram Story, mereka sangat mungkin akan melakukan 2 hal yang paling “biasa” dilakukan orang-orang patah hati pada umumnya, yaitu…

Mendadak Stalker

Putus udah, move on belum. Mungkin itu adalah gambaran dari apa yang dialami orang-orang patah hati yang kemudian beralih profesi menjadi intel bagi para mantan.

Kecenderungan untuk selalu ingin tahu dengan kehidupan mantan memang sangat wajar muncul. Coba sekarang ngacung, siapa yang udah putus selama 3 tahun tapi nama mantannya masih ada di daftar pertama kolom Search di Instagram?

Ngaku jha, nga usah malah clear search history.

Yha. Pokoknya, banyak orang yang patah hati tapi malah nambah-nambahin pikiran, contohnya ya orang-orang yang sukanya stalk mantan ini. Karena udah nga punya akses untuk SMS atau chat setiap hari (punyanya cuma gengsi), media sosial pun jadi sasaran.

Baca juga:  Mantan dan Perlakuan Baik

Apa yang sedang dilakukan mantan? Di mana dia sekarang bekerja? Gimana kuliahnya yang belum lulus-lulus itu? Dia masih suka naik gunung atau ngga?

Lalu… Siapa pacar barunya?

Nah. Pertanyaan “Siapa pacar barunya?” ini akan memandu kita untuk melakukan proses stalking lebih jauh lagi. Kayak apa pacar barunya? Lebih ganteng/cantikkah dari kita? Lebih baik atau nga? Kok dia secepat itu sih udah bisa move on?

Hadeeeeh. Situ mau putus apa mau bikin tugas naskah drama?

Mendengarkan Lagu Galau

Yhaaa, dari sekian banyak jenis lagu di dunia ini, orang yang patah hati cenderung memilih lagu-lagu bertema galau dan putus cinta. Kalau perlu, yang liriknya super sedih dan mengiris hati~

Padahal, patah hati udah jelas-jelas menyakitkan, my lov. Terus, kenapa harus kamu tambah-tambahin lagi dengan dengerin Tulus nyanyi lagu Pamit? Atau, lagu Asal Kau Bahagia-nya Armada? Kamu mau meracuni diri sendiri?

Berkaitan dengan hal ini, sebuah fakta berhasil dikuak oleh dua orang peneliti, Annemieke Van den Tol dan Jane Edwards. Ternyata, kebiasaan mendengar lagu galau saat patah hati terjadi karena orang-orang yang patah hati membutuhkan “pegangan” saat merasa sedih.

Mendengarkan lagu galau, masih menurut Edwards, adalah bukti bahwa seseorang yang patah hati sesungguhnya sedang menyelami perasaan dirinya sendiri.

Kadang, kita nga bisa menjelaskan apa yang sebenarnya kita rasakan setelah putus sama pacar. Yang kita tau hanyalah kita merasa sedih dan pengen nangis. Tapi tiba-tiba, sebuah lagu galau diputar dan mendadak kita bisa menjelaskan gejolak di dalam diri #tsaaah.

Baca juga:  Film Patah Hati Wajib Tonton Sebelum Kamu Terkena Quarter Life Syndrome

Ngaku jha deh, kamu pasti pernah kaaaaan lagi patah hati yang sepatah-patahnya, terus dengerin lagu galau dan langsung merasa, “Wah, gila, ini lagunya aku banget! Ini yang aku alami, nih! Sama banget!” dan akhirnya nge-replay terus sampai bosen.

Idih, sok nyama-nyamain aja kamu tu 🙁

Tapi kalau dipikir-pikir, mendengarkan lagu galau bermanfaat juga untuk menghemat waktu. Saat kamu ditanya oleh temanmu tentang alasan putus sama pacar, kamu bisa menjawab,

“Kamu dengerin aja lagunya Raisa yang Usai di Sini.

Classy parah, seakan-akan Raisa memang menyanyikannya hanya untuk menggambarkan perasaanmu. Khusus!

Komentar
Add Friend
No more articles