MOJOK.CO – Nah, lantas kalau cacing itu ternyata memang sarat protein, keberadaan cacing pada ikan dalam kaleng itu berbahaya nggak, sih?

Saya sering memberikan pembenaran pada hal-hal kurang higienis. Snack bayi yang sudah jatuh ke lantai, misalnya, akan tetap saya makan alasan khas iklan jadul, belum lima menit. Padahal alasan utamanya karena snack itu mahalnya minta ampun dan tentu saja eman-eman. Yah, namanya juga bapak-bapak milenial.

Pembenaran itu saya pelajari dari bapak saya yang ketika laron memenuhi rumah, justru melakukan aktivitas yang menurut saya menjijikkan: memakan laron-laron itu. “Ini kan sarat protein,” kata Bapak. Mengingat beliau guru Biologi, meski gelar S-1-nya Pendidikan Kewarganegaraan, saya percaya saja.

Kemarin, frasa “sarat protein” itu muncul lagi. Kali ini di linimasa kita. Penyebabnya adalah kepanikan tentang cacing yang terlihat dan terekam kamera ada pada produk ikan dalam kaleng. Riuh rendah komentar dari netizen yang selalu benar itu. Para pakar juga berlomba-lomba memberikan wawasan. Pada akhirnya, rakyat jelata seperti saya hanya bisa kebingungan dan kemudian berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Perkara cacing ini mengemuka pertama-tama dari video yang viral. Sama seperti kasus telur palsu hasil kelakuan Syahroni yang fenomenal itu. Heran, video kayak gitu kok viral. Mbok itu Movi yang kontennya bagus-bagus yang diviralkan!

Sepuluh hari silam, temuan cacing pada produk ikan dalam kaleng—yang kala itu masih disebut sarden—mencuat di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Temuan ini kemudian berlanjut ke kota-kota lain.

Sebagaimana Odol begitu identik dengan pasta gigi, sarden sebagai pionir memang identik dengan ikan kalengan. Padahal, sekarang sudah ada ikan makarel yang lebih gede.  Itu kalau ikan sarden bisa ngomong, kalian-kalian yang sempat bilang ada cacing dalam ikan sarden bakal kena tuntut pencemaran nama baik di Pengadilan Bikini Bottom!!!111!

Baca juga:  Surat Curhat yang Tidak Dibalas oleh Agus Mulyadi

Pemerintah, baik BPOM maupun dinas-dinas terkait, lantas turun tangan. Ketika diumunkan ada tig merek ikan makarel dalam kaleng yang mengandung cacing Anisakis sp, sebagai masyarakat yang mudah resah kita segera bertanya, “Merek lain bagaimana?”

Pertanyaan tersebut begitu krusial karena objek polemik merupakan makanan instan kesayangan keluarga dan anak kos. Jika benar-benar berbahaya, bagaimana nasib anak kos di seluruh Indonesia? Sudah hidup sendiri, kiriman seret, tidak ada yang mengingatkan untuk makan, eh, sekalinya menggasak ikan kalengan, ada cacingnya pula.

Sepekan sesudah rilis awal, diumumkan lagi 27 merek yang mengandung 138 bets dan positif ada cacing di dalamnya. Lah kok jadi lebih banyak? Ya namanya juga pemeriksaan produk dilakukan di seluruh Indonesia, my lov~

Bets itu apa? Ini ibarat Kalis Mardiasih memasak nasi goreng untuk Agus Mulyadi. Masakan hari Senin tentu berbeda bahan, pembuatan, dan suasana hati dengan masakan hari Kamis, bahkan hari Selasa pagi berbeda dengan Selasa sore, meskipun sama-sama nasi goreng. Maka, nasi goreng hari Senin dan hari Kamis merupakan dua bets yang berbeda. Sederhananya, bets mengacu produk pada satu kali produksi. Jadi, jika nasi goreng Kamis mengandung cacing, bukan berarti nasgor Senin akan mengalami hal sama.

Nah, lantas kalau cacing itu ternyata memang sarat protein, keberadaan cacing pada ikan dalam kaleng itu berbahaya nggak, sih?

Sebenarnya polemik ini bisa disederhanakan. Fokuskan saja kepada janji produsen soal isi produk yang ditulis dalam kemasan pada bagian “komposisi” serta soal jijik tidaknya kita sebagai konsumen. Buktinya, ada konsumen merangkap netizen yang jijik dan kemudian merekam serta mengunggahnya ke YouTube dan lantas viral. Ingat, viral adalah koentji! Benar atau salah, belakangan. Tanya saja kepada Syahroni kalau nggak percaya.

Baca juga:  Cak Nun, Iqbal Aji Daryono, dan Mojok

Soal komposisi, tentu saja kita paham bahwa cacing itu tidak tertera dalam kandungan yang diakui dan dicetak pada label, meskipun bahwa cacing-cacing itu ada di dalam ikan makarel secara alamiah. Kalau kemudian barang itu berada dalam produk, tetapi tidak diakui dengan cara ditulis pada kemasan, berarti cacing itu adalah anak haram alias ilegal. Inilah yang membuat suatu produk yang mengandung cacing menjadi tidak layak untuk dikonsumsi.

Nah, ketidaklayakan itu bisa terjadi karena kualitas bahan baku yang tidak baik, misal pengecekan ikan yang kurang teliti sehingga masih ada yang cacingan dari sononya. Bisa juga karena proses produksi yang tidak baik, seperti pemanasan yang tidak merata sehingga cacing tidak mati. Atau pengemasannya tidak baik sehingga memungkinkan cacing bertumbuh kembang atau malah keluar masuk. Perlu investigasi menyeluruh untuk menunjuk bagian mana sumber kesalahan yang menyebabkan suatu produk jadi tidak layak dikonsumsi.

Sebagai warga biasa sekaligus warganet yang beringas, yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengunduh informasi 27 merek dan 138 sampel melalui sumber resmi untuk kemudian diviralkan, sebagaimana kelakuan orang-orang yang ingin terlihat pintar di grup WhatsApp, terutama di grup WA keluarga besar.

Ingat, awal mula merebaknya polemik ini adalah dari keresahan masyarakat lantaran video. Selanjutnya, muncul data-data dan action plan berupa penarikan dan lain-lain. Harusnya sudah tenang, toh? Kok malah sekarang pada resah sendiri-sendiri?

Polemik yang muncul gara-gara cacing di negeri ini seharusnya bikin kita malu, terutama kepada warga Bikini Bottom. Di bawah laut sana, mereka tetap hidup tenang meski harus selalu waspada dan menyambut kedatangan cacing yang bukan main-main, karena dia adalah…

CACING. BESAR. ALASKA.



Loading...



No more articles