MOJOK.CONggak sedikit orang Indonesia punya minat mendalami UFO. Sampai niat bikin komunitasnya segala. Demi apaan sih?

Unidentified Flying Object (UFO) dan alien itu bukan istilah asing bagi kita. Aneh iya, tapi asing? Hm, nggak dong.

Selain dari fantasi dari film dan komik science-fiction, eksistensi UFO dan alien hampir nggak pernah terverifikasi kebenarannya. UFO masih jadi misteri (kalau nggak mau bilang mitos) dunia fana yang belum terpecahkan sampai hari ini.

Selayaknya misteri, persoalan UFO pun memunculkan beragam pertanyaan sehingga bikin banyak orang tertarik untuk menelitinya lebih jauh. Walhasil berkembanglah Ufologi, ilmu yang menyelidiki fenomena UFO. Walaupun ilmu ini kerap dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai pseudosains belaka.

Dulu, karena keseringan nonton serial animasi kaya Men in Black sama Ben 10, saya kira cuma orang luar negeri aja yang tertarik sama Ufologi, khususnya Amerika. Apalagi di Indonesia pembahasan siapa calon suami Lesty jauh lebih urgent dibahas di sini ketimbang yang lain.

Kalaupun ada penampakan benda terbang di langit yang terlihat, kebanyakan orang Indonesia bakal nganggep itu sebagai benda gaib macam santet atau penampakan demit, alih-alih pesawatnya bayi Superman.

Ternyata dugaan saya salah. Nggak sedikit orang Indonesia yang punya minat mendalami UFO secara serius. Bahkan, ada berbagai komunitas pengamat UFO di negara ini yang rupanya udah mulai eksis sejak lama sekali. Sebut saja, misalnya, BETA-UFO dan Ufonesia.

Karena penasaran, saya akhirnya mengobrol dengan mereka yang udah belasan tahun mempelajari Ufologi di Indonesia. Bahkan sudah menjadi pegiat komunitas pengamat UFO. Dua di antara mereka adalah Fauzan Luthfi dan Muhammad Irfan.

Fauzan Luthfi saat ini kerja di daerah Karawang. Sejak kecil menggemari tontonan science fiction yang bertema alien. Film Close Encounters of The Third Kind, Contact, atau serial The X-Files adalah beberapa di antaranya. Tontonan-tontonan itu yang memicu rasa penasarannya pada fenomena alien dan UFO.

“Rasa penasaran saya kemudian makin kental setelah menonon film-film dokumenter yang mengangkat kasus penampakan UFO atau kita sebut BETA (benda terbang aneh). Perkenalan saya dengan komunitas-komunitas pengamat UFO di Indonesia juga memperkuat ketertarikan saya dengan fenomena ini,” kata Fauzan.

Sekitar satu dekade silam, Fauzan mulai bergabung dengan BETA-UFO. BETA-UFO sendiri merupakan komunitas pengamat UFO tertua di Indonesia yang terbentuk sejak 1997 dan anggotanya tersebar di berbagai wilayah.

Baca juga:  Anjuran kepada Jonru dan Bunda Eden agar Segera Melakukan RevolUFO

Menurut Fauzan, BETA UFO juga terbilang cukup aktif dalam menampung dan mendata kasus penampakan UFO yang ada di Indonesia, baik kasus penampakan yang sudah lama terjadi, maupun yang baru-baru ini muncul.

Sebelum mewawancari Fauzan, saya sempat mencari tahu tentang BETA-UFO dan mengunduh arsip dokumen yang dirilis dalam blog mereka. Catatan lengkap soal isu-isu UFO yang mereka telusuri, berikut diskusi-diskusinya, lengkap dalam blog tersebut.

Dari mulai fenomena penamapkan UFO, crop circles, penculikan alien, dan misteri hewan-hewan ternak yang mati misterius.

Akan tetapi Fauzan saat ini udah nggak aktif di BETA-UFO lagi, saat ini dia bergabung dengan komunitas UFONesia yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya sekarang. Di UFONesia, ia punya agenda jangka panjang untuk mencari tahu soal fenomena bola api yang selalu keluar tiap malam menjelang pergantian tahun di kawasan Pasir Putih, Depok.

“Orang-orang nyebutnya Braja,” ungkapnya.

“Saya nggak bilang itu pesawat alien atau santet sihir atau apa pun, karena emang belum diketahui secara pasti itu apa, jadi bisa saya pastikan masuk kategori UFO atau BETA.”

Sampai hari ini Fauzan nggak yakin pernah ngelihat UFO atau belum. Namun dia percaya jika memang ada kehidupan cerdas di luar bumi.

“Dan saya tertantang untuk mengungkap misteri tentang mereka,” kata dia.

“Selama ini kan kebanyakan orang kalau bahas UFO selalu dibilang mengkhayal atau apalah. Padahal di beberapa tempat di luar negeri sana, itu udah jadi sesuatu yg lazim dan disikapi secara ilmiah.”

Agak berbeda dengan Fauzan, Muhammad Irfan yang merupakan pendiri komunitas Ufonesia mengaku pernah melihat penampakan UFO dengan mata kepalanya sendiri.

Saat itu tahun 2005 dan Irfan melihat pesawat berbentuk segitiga di atas tempat tinggalnya, di Tangerang sekitar pukul dua dini hari. Pesawat aneh tersebut melayang dan nggak lama kemudian ia sempat berhenti selama beberapa detik sebelum kemudian melesat lagi dalam kecepatan tinggi.

Penampakan benda yang kelak akan ia kenal dengan nama Black Triangle itu menjadi titik balik bagi kehidupan Irfan untuk mulai menggeluti Ufologi secara lebih jauh, di samping ketertarikannya pada astronomi.

Selanjutnya, Irfan  pun aktif mulai menulis tentang hasil-hasil pengamatan atau telaahnya mengenai fenomena UFO di blog. Selain itu, Irfan juga sempat bergabung dengan BETA-UFO. Meski pada 2008, ia memutuskan untuk membentuk komunitas Ufonesia.

“Lucunya dari 2005 sampai dengan sekarang, gua jadi sering gitu dilihatin (UFO),” ungkap Irfan.

Baca juga:  Ustaz Rahmat Baequni dan Ingatan Akan Hoax Anak Durhaka yang Dikutuk Jadi Ikan Pari

Pengalaman melihat benda terbang aneh yang nggak sekali dua kali, plus ketertarikan pada misteri keberadaan entitas lain di luar bumi, membuatnya mantap untuk membentuk Ufonesia. Meski untuk itu, dia sering dianggap suka teler dan bahkan pernah dituduh bikin sekte sesat.

“Ya terserah dah orang mau nganggep apa. Tapi intinya gua sih udah ngelihat mereka langsung dan mereka ada,” tegasnya.

Selama berkecimpung di dunia Ufologi, Irfan telah mengamati banyak fenomena kemunculan benda terbang aneh atau isu-isu yang mungkin berkaitan dengan itu. Termasuk soal fenomena munculnya crop circles di Sleman, Yogyakarta, 2011 silam.

Hasil pengamatan Irfan, yang lebih kontemporer lagi, bisa Anda saksikan di kanal Youtube Ufonesia TV.

Melalui kanal tersebut, Irfan juga aktif membagikan gagasannya soal menyikapi fenomena UFO. Irfan bahkan pernah merilis sebuah video yang meminta Pak Prabowo, selaku Menhan, untuk membikin landasan pesawat buat mahluk-mahluk luar angkasa yang barangkali kepengin plesiran ke Indonesia.

“Tapi sekarang gua lebih penginnya ngomong sama Pak Nadiem Makarim soal Ufologi, ini loh, Pak, penting buat dipelajari!” imbuhnya.

Dalam Ufologi sendiri, menurut Irfan, ada berbagai disiplin ilmu yang dipakai untuk melihat fenomena tersebut. Seperti, psikologi untuk memahami kondisi kejiwaan orang yang mengaku diculik alien atau arkeologi untuk meneliti situs-situs masa lampau yang mungkin sekali berhubungan dengan fenomena UFO.

Oleh karena itu, Irfan secara pribadi, berharap Ufologi suatu saat bisa masuk kurikulum pendidikan di Indonesia. Minimal, di tingkat universitas.

Tentu saya jadi bertanya-tanya, memang apa manfaat yang bisa kita ambil selama mempelajari UFO? Mengingat Ufologi dianggap pseudosains yang sama nggak pentingnya dengan teori-teori konspirasi.

Kepada saya, Irfan tidak membantah kalau Ufologi disebut pseudosains. Irfan juga yakin, Ufologi pasti susah untuk menang dalam perdebatan ilmiah. Makanya, dia menyikapinya dengan santai. Nothing to lose. Orang mau percaya atau nggak, ya terserah. Bodoamat.

“Bagi gua sih, kalau semakin tahu, semakin mendalami soal UFO dan lalu benar-benar bisa membuktikan bahwa mereka ada, itu lu akan merasa lebih dekat dengan kekuasaan Tuhan,” pungkas Irfan.

Mendalami UFO untuk mendekatkan diri dengan Tuhan?

Hm. Oke. Harapan yang menarik.

UBACA JUGA Wawancara Soe Tjen Marching: ‘Papaku PKI atau Bukan, Tak Masalah Bagiku’ atau artikel lainnya di LIPUTAN.