MOJOK.CO Kondisi internet lemot di Indonesia memang memicu umpatan dan olok-olok. Belum lagi jika berkaitan dengan sulitnya akses internet anak daerah, kacau.

Seperti hari-hari biasanya, hari ini saya tidak luput dari emosi karena internet yang super lemot. Saya seorang pelanggan layanan internet yang setia, bayar tepat waktu, dan nggak pernah komplain aneh-aneh. Tapi tetap saja dipersilakan mengumpat setiap hari.

Saat masa pandemi, saya cuma bisa mengandalkan Wi-Fi kosan karena sebagian besar waktu ngantor dikurangi demi social distancing. Sementara satu per satu kolega penghuni kosan pulang ke rumah masing-masing jauh sebelum mudik dilarang.

Saya pikir setelah hanya saya satu-satunya pengguna Wi-Fi kosan, koneksi internet bakal secepat larinya The Flash. Ternyata lebih lemot dari cara berpikirnya Patrick Star. Saya heran, kayaknya pemakaian saya belum melebihi batas kecepatan deh, kok bisa begini ya? Hmmm.

Tanpa saya sebutkan layanan jasa internetnya kalian pasti sudah tahu layanan mana yang saya pakai dengan ciri-ciri menyebalkan itu. Iya yang itulah, saya pun harus pakai VPN buat muter Netflix. Saya memang pilih yang paling murah. Kenyataan ini terkadang menampar saya dengan anggapan, “Kalau mau yang cepat ya emang mahal!”

Namun semua ini belum berakhir, internet lemot tidak sepenuhnya kesalahan pelanggan yang nggak punya uang. Mohon maaf aja nih, kalau kita bayar maksimal, ternyata apa yang kita dapat juga nggak maksimal. Kalau bayar minimal, layanan yang kita dapat jauh di bawah rata-rata. Di sinilah letak nggak adilnya.

Baca juga:  Instagram Luncurkan IGTV si "YouTube Vertikal"

Menurut Seasia, kecepatan internet Indonesia menduduki peringkat ke-92 dari 207 negara dengan rata-rata kecepatannya 6,65 Mbps. Sementara rata-rata kecepatan internet secara global adalah 11,03 Mbps. Survei ini dibagikan pada tahun 2019.

Sementara riset laindari Hootsuite mencatat bahwa kecepatan internet di Indonesia rata-rata 20,1 Mbps dengan rata-rata globalnya 73,6 Mbps. Mau bagaimana pun haru diakui kalau internet negara kita emang lemot nggak ada obat.

Sayangnya tragedi internet lemot justru cenderung sulit digugat. Menkominfo Johnny G. Plate saja bilang kalau internet di Indonesia nggak bisa secepat di negara lain karena letak geografis yang terdiri dari pegunungan dan sungai yang membentang. Mohon maaf pak, Norwegia titip salam.

Jujur saja selain bikin emosi, internet lemot juga punya imbas di beberapa sektor serius kayak pendidikan. Di masa pandemi kayak gini, guru-guru seakan harus bekerja jauh lebih keras untuk memastikan semua muridnya bisa akses internet. Sementara mahasiswa yang juga tinggal di daerah dan harus menghadiri kuliah online, harus keliling kampung buat cari spot 4G. Lah, apa artinya tagar #dirumahaja kalau begini?

Kalau Menkominfo dan segala jajaran pemerintah justru lebih banyak memaparkan alasan ketimbang mengimplementasikan solusi, rakyat bisa apa? Akhirnya kita cuma bisa bacot aja sambil teriak, “WTF internet lemot banget bgzd wtf!?”

Andai internet di Indonesia bisa cepat banget kayak di Singapura atau Taiwan, mungkin penulis kayak saya bakalan lebh produktif. Ngurusin blog sendiri sampai produktif nulis buku. Segera menyelesaikan penelitian, dan ngak kekurangan hiburan.

Baca juga:  Google Translate yang (Diduga) Bias Gender dan Seksis

Sementara anak-anak di SMK mungkin bakal lebih cepat menemukan inovasi bikin robot. Seniman bakalan lebih kreatif dan bikin platform-platform keren untuk instalasi. UMKM berjaya karena penjualnya makin melek teknologi pemasaran online. Anak-anak yang tinggal di daerah juga nggak akan ketinggalan info danmulai mengenal siapa itu Kristo Kentang.

Bahkan untuk urusan pandemi, internet cepat ibarat motherlode saat main The Sims. Jalan pintas menuju banyaknya kemudahan.

BACA JUGA Masalah Netflix vs Telkom Bakal Abadi Selama Johnny G. Plate Masih Nggak Paham Konsep Streaming atau artikel lainnya di POJOKAN.