MOJOK.CO Antara kasihan, tapi nggak butuh-butuh amat kalau lihat penjual menawarkan barang. Di sisi lain orang minta sumbangan juga makin kreatif di masa pandemi begini.

Sama-sama tahu kalau masa pandemi bikin semua orang stres. Nggak bakal kelihatan siapa orang yang paling sukar ekonominya, dan mana yang masih bisa bertahan dengan sisa uang di tabungan. Batasan antara orang kaya dan orang tidak berpenghasilan makin kabur.

Kelompok ekonomi menengah bisa jadi merugi lebih banyak daripada yang kelompok ekonomi tingkat bawah. Bahkan kita nggak pernah tahu orang dengan kelompok ekonomi tingkat atas punya berapa banyak utang buat menutupi gaji karyawan mereka. Sementara perputaran uang terpaksa mandeg karena pandemi.

Kondisi semacam ini mendorong kita untuk semakin peka sama orang-orang dengan ekonomi rentan. Banyak kegiatan sosial digalakan, nggak kurang, mereka yang oportunis berburu cuan juga makin banyak bermunculan.

Ketika menemui seorang kakek-kakek penjual kerupuk di tengah siang bolong, jujur saya nggak bisa menolak. Kalau ada uang barang sepuluh ribu, saya selalu beli. Padahal setelahnya saya bingung karena saya nggak doyan-doyan amat makan kerupuk. Belum lagi kalau ketemu ibu-ibu penjual jajanan pasar. Ampun bu, saya beli.

Ada sebuah perasaan serbasalah ketika menemui penjual yang kelihatannya begitu kasihan dan butuh uang. Di sisi lain saya juga terbayang betapa pentingnya untuk berhemat dan nggak membeli barang di luar kebutuhan. Begitu terus siklusnya sampai saya nggak tahu lagi tindakan saya untuk beli atau tidak membeli barang dagangan mereka adalah keputusan random cap-cip-cup dari otak yang kewalahan mikir.

Baca juga:  Rekomendasi Gadget Biar Work from Home Kamu Lancar

Kawan saya di Tulungagung bercerita tentang penjual pentol yang biasa lewat depan rumahnya. Bapak penjual pentol ini keliling seperti biasa. Kawan saya tadinya ragu-ragu mau beli, tapi akhirnya jadi dengan niat pengin melarisi. Di luar dugaan, penjual pentol ini justru waswas dan insecure.

“Mbak, tapi iki nggilinge ndek pasar. Sampeyan gakpopo a?”
“Lha lapo, Pak. Aku ki arepe ngelarisi sampeyan kok.”
Bek e sampeyan wedi corona.”

Ternyata penjual yang terlihat kasihan juga kadang nggak percaya diri sama dagangannya sendiri. Saya nggak galau sendirian. Kondisi sekarang memang benar-benar sedih, tapi saya selalu denial.

Lucunya, nggak semua orang mau bekerja begitu. Beberapa memilih jalan untuk mencari belas kasihan orang lain. Beberapa pekan belakangan, saya sering banget ‘dimintai’ keikhlasan untuk menyumbang. Orang yang minta sumbangan ini formatnya nggak kayak pengemis atau pengamen yang nggak akan bikin sungkan kalau cuma ngasih recehan. Mereka ini modal buku catatan yang isinya adalah daftar penyumbang sebelumnya beserta nominalnya pula.

Secara psikologis saya bakal melihat daftar itu lalu menyesuaikan sumbangan saya dengan kebanyakan orang. Baru kemarin dua laki-laki yang mengaku dari Persatuan Kuli Panggul mendatangi saya dan meminta donasi seikhlasnya. Jika ini bukan musim pandemi, saya mungkin nggak akan simpatik sama sekali. Lha mereka segar bugar dan pakai baju bagus.

Baca juga:  Mengingat Kebahagiaan Saat Kecil. Kesederhanaan yang Ternyata Menyenangkan

Tapi lagi-lagi saya mbatin. Iya, ini musim pandemi kita nggak bisa menghakimi siapa orang yang paling susah cuma dari penampilan luarnya. Saya menyerah dan akhirnya menyumbang sepuluh ribu, seperti rata-rata orang dalam catatan yang mereka bawa.

Selang dua jam, dua laki-laki yang berbeda dengan dandanan hampir sama datang. Kali ini mereka mengaku dari Paguyuban Pekerja Bangunan. Bagaimana pun dua kelompok ini tetap orang yang sedang minta sumbangan. Sungguh, saya nggak bisa menolak lagi. Yakali saya jawabnya, “Iri bilang bosss?” Nggak gitu loh. Cuy, saya justru semakin merasa semua orang lagi banyak yang kesusahan belakangan makanya jadi banyak yang minta sumbangan.

Saya ini bodoh apa baik hati sih? Nggak yakin sumpah.

Saya ngerti banget belas kasihan buat para penjual yang kelihatan kasihan dan orang yang minta sumbangan itu bisa bikin tuman. Mereka bisa manja dan nggak mau berusaha karena mudahnya dapat duit dari minta-minta. Sudah cukup banyak kasus orang kaya raya hanya dengan mengemis.

Kalau mau kejam, saya bisa bilang mereka adalah oportunis yang memanfaatkan iba orang-orang. Tapi saya sendiri nggak ingin lebih kejam dari pandemi dan saya menyerah.

BACA JUGA Misteri di Balik Gratis Ongkir dan Toko Online yang Ogah Mencantumkan Harga atau artikel lainnya di POJOKAN.