MOJOK.CO Gara-gara tebakan plesetan, Andre Taulany dan Rina Nose dilaporkan dengan tuduhan menghina marga Latuconsina. Haduh, ruwet apa lagi ini?

Sejak zaman Warkop DKI, kita memang kerap dibuat terpingkal oleh guyon plesetan. Ketika itu yang jadi sasaran adalah marga orang-orang Batak. Tapi yang berhasil ketawa se-Indonesia. Guyon plesetan kemudian berevolusi jadi tebak-tebakan yang bisa diramaikan oleh siapa pun, nggak cuma komedian.

Sawityowit adalah salah satunya. Sudah nggak terhitung berapa kali saya dan kawan-kawan bikin pelsetan dari nama artis. Bersyukur artis yang saya dan kawan-kawan sebutkan nggak ada yang tersinggung. Mungkin karena kami nggak terlalu terkenal dan cuma remah-remah roti di ujung kaleng Khong Guan.

Lagi-lagi sekarang ada yang tersinggung soal nama plesetan. Kali ini berhubungan dengan marga Latuconsina yang dijadikan materi tebakan plesetan sama Andre Taulany dan Rina Nose pada salah satu segmen acara televisi. Yang bersangkutan langsung nggak terima dan menuding si komedian tidak layak ditampilkan lagi di televisi. Wow, just wow!

Sementara Prilly Latuconsina yang jadi objek guyonannya justru telah menerima permohonan maaf Andre dan Rina Nose. Tinggal beberapa orang yang mengaku punya marga Latuconsina dan merasa nama sakral itu nggak boleh dihinalah yang ingin melanjutkan perkara ini ke ranah hukum.

Praktis bakal ada dua pendapat yang bertentangan dalam menanggapi prahara yang sempat-sempatnya muncul di bulan puasa pas pandemi begini. Pertama, bakal ada orang yang menganggap bercandaan Andre dan Rina kelewatan. Mereka ini adalah orang yang nggak tertawa kalau dikasih guyon plesetan. Tebakan plesetan yang jawabannya “Latukondangan” dan “Latukonstraksi” bakal dianggap sebagai penghinaan terhadap marga yang sakral.

Walau saya juga bingung menghinanya di mana.

Kedua, bakal ada orang yang merasa kalau bercandaan Andre dan Rina nggak ada yang salah. Mereka adalah orang yang biasa bikin atau main guyon plesetan sama teman. Kadang mereka akan menganggap kelompok orang baper sama kakunya dengan kanebo kering dan sensitif kayak pantat bayi karena mudah sekali tersinggung. Lagi-lagi mereka mengatai dengan bercandaan juga.

Saya nggak sanggup jadi polisi moral di sini. Karena bercandaan dianggap lucu atau tidak itu subjektif banget. Saya bisa ketawa sampai nangis nontonin konten hydraulic press terutama ketika mereka menggencet boneka barbie sampai kepalanya copot. Sementara teman-teman saya menganggap tayangan hydraulic press itu psikopat banget. Saya jelas nggak bisa maksa dong.

Lagian komedi itu nggak perlu dijelaskan, kalau dijelaskan bakal jadi gagal lucunya. Nggak usah susah-susah njelasin komedi ke orang yang nggak mau ketawa.

Kalau secara pribadi sih saya rasa guyonan Andre dan Rina nggak ada yang salah. Plesetan marga Latuconsina jadi “kondangan” dan “kontraksi” bukanlah kata negatif yang setara dengan omongan kasar atau dark jokes favorit warganet uwu. Tapi lagi-lagi, saya kan bukan orang dengan marga Latuconsina, ya saya nggak bisa mendikte orang-orang untuk nggak tersinggung juga.

Pertemanan masa SD, SMP, hingga SMA adalah masa di mana membocorkan nama orang tua fatal akibatnya. Sekali kawan-kawan tahu nama orang tua kalian, kalian bakal dipanggil pakai nama itu sepanjang waktu. Kadang diplesetin sama jargon iklan dan lagu-lagu dangdut.

Suatu hari di kelas karawitan, saya dan teman-teman sekelas pernah mengganti hafalan not balungan jadi nama-nama orang tua teman sekelas. Masa yang begitu indah bagi saya karena walau nama bapak saya pun masuk di dalamnya, saya tetap ikutan ngakak. Saat itu saya paham bagaimana menanggapi komedi dengan santuy. Lagi pula saya tahu betul mereka nggak lagi ngatain bapak saya karena mereka cuma menyebutkannya aja.

Tapi saya juga nggak berani nyalahin kawan-kawan yang nggak mau nama bapaknya jadi objek guyonan. Ada yang merasa malu, keki, atau canggung memang. Bercandaan akan selalu subjektif kayak gini. Maka kami akan berhenti memasukkan nama orang tua dari kawan-kawan yang tersinggung itu.

Bedanya, kawan saya yang tersinggung nggak pakai acara melaporkan ke meja hijau segala sih. Nggak ada yang naanya cepu ke guru-guru juga hanya karena nama bapaknya sering dipanggil-panggil.

Kembali ke kasus plesetan marga Latuconsina, gini aja deh. Perkara tersinggung sama guyonan plesetan itu memang urusan masing-masing orang. Tapi kalau membawa ini sampai ke ranah hukum dan bakal memperkarakannya terus-menerus justru namanya kelewat baper. Saya nggak membayangkan kalau marga Latuconsina disindir lewat tulisan satir. Pusing nggak tuh pengacaranya.

Bayangin, berapa ribu bocah kecil yang bakal dituntut karena manggil nama orang tua teman mereka, berapa akun Twitter yang bakal diperkarakan cuma karena bikin plesetan klasik soal “Afghan Magrib” di #sawityowit. Masa sih sedikit-sedikit mau lapor ke isilop, cepu amat. Sumpah, kita akan kehabisan waktu mengurusi sesuatu yang sebenarnya bisa selesai dengan cara mawas diri.

BACA JUGA Beli Baju Lebaran Pas Pandemi buat Apa? Buat Kasih Tahu Kalau Kita Masyarakat Bebal atau artikel lainnya di POJOKAN.