MOJOK.COKejengahan dengan template video wedding ini layak dibongkar habis-habisan. Siapa yang memulai tren drone dan slow-mo selagu-lagunya yang mendayu itu sih?!

Definisi romantis bagi setiap pasangan jelas beda-beda. Saleptwit influencer dan kawan-kawannya itu mungkin merasa lari-lari di pantai pakai baju putih itu definisi sebenarnya dari cinta dan menyatukan dua jiwa. Nggak ngerti juga sih apa hubungannya sama ombak yang berdebur dengan manja itu. Yang jelas adegan ini biasanya ada di video wedding atau prewedding pasangan masa kini.

Dokumentasi weddingnya nggak kalah menggemaskan. Shot pertama dibuka dengan cincin di jari manis mempelai wanita yang berkilauan itu. Lanjut ke bagaimana mempelai pria mengenakan jam tangan, lalu buket bunga yang udah disiapkan dengan begitu manis. Aiiih, nggak lupa slow motion venue pernikahan dong, Slur.

Bagi saya seorang penonton yang masih lajang dan belum merasakan ribetnya ngurusin catering dan undangan, saya bosen. Maaf ya Bung dan Nona yang terlanjur pakai kosep itu, konsep kalian itu mengharukan bagi kalian sendiri, mentok sama keluarga dan sahabat.

Karena hati saya emang udah beku kebanyakan disakiti, video wedding begituan mah ya nggak menyentuh blas. Saat menikah nanti, saya nggak yakin bakal bikin video prewedding. Bahkan dokumentasi weddingnya pun, saya nggak yakin pakai konsep yang begitu. Seandainya memungkinkan sih, saya mending bikin video kayak dokumenter albumnya Arctic Monkeys –Warp Speed Chic yang agak creepy tapi keren itu. Lagunya ya, rock and roll aja lah bebas yang banyak gitarnya pun, gaaas. Ini pun kalau camer dan pasangan setuju.

Tapi ternyata ini nggak sepenuhnya salah si pasangan atau videografer. Konspirasi kosmis yang menjadikan template video wedding itu demikian mendayu bin itu-itu aja adalah berkat pesanan pasangan yang menikah, videografer yang nurut aja, ditambah tren yang sedang berlangsung.

Baca juga:  Ribetnya Pernikahan Sederhana Suhay Salim Jika Beliau Orang Jawa

Kawan saya, King Wiguna, sebagai videografer wedding mengaku sebenarnya jengah sama konsep yang itu-itu aja. Alih-alih melakukan eksplorasi teknik pengambilan gambar dan editing yang epik, kebanyakan pasangan sudah datang dengan konsep dan referensi video yang ingin mereka bikin. Namanya juga bisnis bro, videografer pasti gas ae. Belum lagi kalau mereka kejar deadline.

Sementara videografer lainnya, Hannief, mengatakan pada saya kalau client yang datang padanya lebih nurut sama videografer. Hampir bisa dipastikan kalau sebelumnya mereka melihat portofolio si videografer dan percaya aja kalau dokumentasi weddingnya bakal begitu. Konsep video wedding itu sudah ada di kepalanya dan jadi semacam patokan yang sebagaimana kita sebut sebagai “template”.

Teknik slow-mo dan pengambilan gambar dengan drone adalah yang paling umum dilakukan. Soal siapa yang memulai, nggak ada yang tahu. Tapisiapa yang mempopulerkan ya jelas influencer tercinta kalian di media sosial. Banyak yang merasa teknik macam ini bikin video wedding tambah keren. Nggak heran kalau ada pasangan maksa dokumentasinya pakai drone walau nikahannya di dalam gang sempit. Hmmm, mau ngerekam genteng kali nih.

Mempelai pria dengan close up shot jam tangan, mempelai wanita dengan shot bulu mata itu sebenarnya nggak ditujukan untuk efek dramatis apapun, alias filosofinya ya hampir nggak ada selain buat menunjukkan mereka lagi siap-siap nikah. Udah gitu aja. Gaya semacam ini adalah hasil mengimitasi seleb dan influencer yang pakai ngeshot hampir semua detil. Masaahnya, pernikahan mereka kan di-endorse, Bor. Sponsor harus jelas dong.

Penambahan shot semacam itu, menurut beberapa videografer juga merupakan teknik mengulur waktu. Barang beberapa detik aja, biar lagunya pas dan durasinya ngga terlalu cepet, makanya dibikinlah slow-moLha masa videonya mau pakai efek timelapse, jadinya 5 detik dong. Makanya ada yang namanya shot wajib (adegan akad nikah, doa, dst. dst..) dan beauty shot (venue, makanan, dekor, tamu ganteng, eh…) yang kemudian dibaurkan agar kelihatan selaras.

Baca juga:  Aku Sayang Kamu, tapi Aku Belum Siap Nikah

Buat pemanis, elemen kemewahan kerap ditunjukkan dalam video wedding dan prewedding. Entah niatnya amer atau besyukur. Tapi kalau mau diteruskan sih, tentu buat apa sewa venue keren, dekorasi mewah, dan atribut pernikahan mahal kalau nggak turut masuk frame dan didokumentasikan. Suatu saat pasangan ini bakal mengenang: ini lho pernikahanmu yang habisnya milyaran. Sehingga kalau, amit-amit, pasangan ini di tengah prahara, mereka bakal mengingat bahwa lahir batin telah mereka habiskan untuk menjalin pernikahan itu.

Template video wedding dan prewedding memang cenderung itu-itu aja. Shotnya, lagunya, editingnya, phase-nya, bisa dikatakan seragam sehingga orang memaknainya sebagai the real dokumentasi pernikahan. Di balik semua kebosanan ini, ada jurus “cari aman” yang sedang diamalahkan pasangan yang menikah, videografer, sekalian keluarganya.

Orang-orang pengin pernikahannya spesial pake telor, semua persiapan matang A-Z, dan pokoknya jangan ada celah biar nggak jadi omongan tetangga. Apa jadinya kalau video wedding pakai eksplor sana-sini dulu. Kebanyakan pasangan nggak sanggup menanggung risiko dikatai ‘aneh’. Mencari pasangan yang menikah dengan jiwa YOLO memang susah.

Sejauh ini, video wedding yang tetap romantis walau eksplor kanan-kiri adalah kepunyaan Vinno Bastian dan Marsha Timothy tujuh taun lalu. Itu aja tetap ada slow-mo. Tapi, cuy, mereka berdua kan aktor. Kalau kita-kita yang jelata ini maksa bikin kayak mereka apa nggak ditamparin tamu undangan satu per satu tuh.

Di titik ini, videografer yang berusaha menciptakan tren baru bakal sangat menolong. Karena sering kali, teknik baru tapi nggak ngehits nggak akan dilirik. Pasangan yang menikah juga nggak mau tahu tentang teknik ndakik-ndakik karena emang rata-rata nggak paham.

Ayo deh coba, bikin template video wedding baru kayak film Wes Anderson misalnya. Atau yang edgy sekalian kayak karya-karya Jonathan Entwistle. Biar masuk box office pun.

BACA JUGA Lebih Baik Jadi Orang Fast Respons daripada Slow Respons karena Gengsi atau artikel lainnya di POJOKAN.