MOJOK.CO Lagi ribut soal ucapan RIP yang disampaikan ke muslim ya? Tenang, nggak usah terpancing emosi sampai berujung perisakan gitu ah! Pada intinya “RIP” memang berkaitan dengan agama tertentu.

Meninggalnya Ashraf Sinclair jadi perhatian masyarakat luas, terutama orang-orang Indonesia dan Malaysia. Namun, bukan orang Indonesia namanya kalau tidak ada gimmick-gimmick yang berubah jadi perdebatan, seakan tidak ada hari lain yang lebih pantas buat berantem.

(Tanpa mengurangi rasa hormat, saya menyampaikan belasungkawa terhadap meninggalnya Ashraf Sinclair, semoga almarhum ditempatkan di tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.)

Seorang netizen memutuskan menuliskan RIP di unggahan twit Billboard Indonesia. Tidak lupa emoji high five yang selama ini dianggap sebagai emoji berdoa pun dibubuhkan. Kemudian netizen lainnya nyerobot dengan melarang pakai ucapan RIP kepada seorang muslim.

Iya, iya. Konyol memang menegur orang yang ingin menyampaikan belasungkawa lalu menceramahinya dengan dalil agama. Di balik semua latar belakang agama, esensi belasungkawa adalah wujud dukacita yang menandakan bahwa kita turut kehilangan.

Sayangnya netizen ini bersikeras bilang kalau ucapan RIP nggak boleh disampaikan ke orang muslim. Garis bawahi ya, ucapan “RIP”, guys!

Tidak lupa netizen tersebut juga menyarankan ucapan yang tepat buat kaum Nasrani. Mencengangkan memang. Paham nggak sih kalau beginian memancing keributan? Tahu sendiri kalau spesies sumbu pendek itu banyak.

Kawan-kawan yang budiman, janganlah merisak orang-orang macam begini. Alangkah baiknya kalau logikanya dicerahkan, maka kalian akan mencegah kecerobohan seseorang saat ngetwit. Anggaplah Neng Anyar memang nggak ngerti soal sejarah ucapan RIP, maka saya kasih tahu.

Baca juga:  Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung yang Perlu Kamu Ketahui

Ucapan RIP atau R.I.P yang secara umum dipahami sebagai akronim rest in peace adalah sebuah istilah yang berakar dari bahasa Latin, requiescat in pace yang artinya sama, ‘beristirahatlah dalam kedamaian’. Kalau disingkat memang jadi sama-sama R.I.P.

Ucapan RIP punya kaitan erat dengan Katolik Roma. Istilah RIP dan R.I.P (dengan titik) sudah dipakai di makam-makam Kristen sejak abad ke-8 Masehi. Secara makna, umat Kristen percaya bahwa ungkapan beristirahat dalam kedamaian terkait dengan ajaran keagamaan di mana orang yang meninggal akan bersatu dengan Kristus.

Sebenarnya nggak salah kalau melarang orang mengucapkan RIP kepada almarhum berkeyakinan muslim dengan alasan RIP adalah kebiasaan agama lain. Memang begitu adanya.

T-t-tapi….

Seiring berjalannya waktu ucapan RIP semakin umum, bahkan orang Yahudi juga kerap menggunakannya di batu nisan. RIP akhirnya disesuaikan dalam berbagai penggunaan bahasa, misalnya repose en paix dalam bahasa Prancis. Menandakan betapa populernya istilah ini saat ada seseorang yang meninggal.

Mengenai ucapan RIP pantas atau tidak disampaikan langsung tentu ini berkaitan dengan budaya masing-masing. Mungkin akan nggak pantas disampaikan langsung dan lebih familiar di konteks media sosial. Bayangkan saja kalian sedang melawat, lalu salaman dengan keluarga almarhum dan hanya bilang, “RIP, Bu….” Kalaupun almarhum adalah penutur bahasa Inggris, bukankah lebih elok kalau ucapannya “May his/her soul rest in peace.”

Nggak usah kejauhan deh, lagunya Bondan Prakoso juga ada yang berjudul “R.I.P. (Rhyme In Peace)”. RIP pun mengalami banyak perubahan biar makin edgy. Ada yang mengartikannya jadi rest in power sampai rest in pride. Pada akhirnya ucapan RIP adalah sebuah ekspresi bahasa yang sudah sering digunakan.

Baca juga:  Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung yang Perlu Kamu Ketahui

Baik, kita coba analogikan ucapan RIP dengan fenomena yang nggak ada sangkut pautnya sama agama. Kalian tahu emoji berdoa kan? Ngomong-ngomong, emoji ini juga dipakai di atas.

Menurut Emojipedia, simbol dua telapak tangan yang tertangkup seperti ini 🙏 awalnya disebut emoji high five alias tos, bukan emoji berdoa. Namun, kebanyakan orang telanjur salah paham dan terus-menerus menggunakannya. Secara masif, makna tos pada emoji ini nggak digunakan lagi. Orang-orang pun meyakini emoji ini sebagai ekspresi berdoa dan sering dipakai setelah ucapan terima kasih atau mohon maaf. (Buat yang baru tahu, thank me later, fellas.)

Kasus emoji ini sama dengan ucapan RIP yang pemaknaannya kini sudah mengalami banyak perubahan dan pemakluman. Nggak selamanya ucapan RIP berarti almarhum adalah umat agama tertentu. Meskipun mengucapkan “innalilahi wainnailaihi rajiun” kepada muslim yang meninggal adalah yang dianjurkan selama ini.

Jika di antara kalian ada anti banget sama kata-kata RIP saat ada muslim yang meninggal, coba tanamkan di pikiran kalian bahwa singkatan RIP adalah Rapalkan Innalilahi Padanya. Niscaya teredakan segala emosi yang ada. Intinya kayak gini nggak usah diributin sampai bikin emosi. Memberikan simpati pada keluarga yang ditinggalkan juga bisa dengan diam, nggak bacot melulu.

BACA JUGA Tak Sopannya Belasungkawa Hasto Kristiyanto Memang Penyakit Politikus Narsis atau artikel lainnya di POJOKAN.




Tirto.ID
Loading...