Rubrik: Pojokan

Kehilangan Dompet dan Hp Itu Perkara Pasrah. Jangan Berharap Kembali deh

MOJOK.CO Kalau kehilangan dompet dan hp di Indonesia, walau sudah lapor polisi, RT, RW, hansip sekalian jangan terlalu berharap barangmu akan kembali. Ikhlaskan saja, Nak.

Ada suatu masa di mana manusia nggak punya daya apa-apa. Yang terjadi selanjutnya adalah perkara merelakan, pasrah, dan berdamai dengan diri sendiri. Hidup begitu klise dan inilah yang terjadi ketika kita kehilangan dompet dan hp atau barang sejenisnya. Terkadang laptop, kadang sepeda, kadang motor, kadang mobil. Apalagi kalau cuma kehilangan jemuran dan sandal jepit, Cah, yowes trimo wae.

Sejak lahir saya terhitung sudah pernah sekali kehilangan dompet, sekali kehilangan STNK, dan dua kali kehilangan hp. Dari keempat kasus itu saya pernah menempuh berbagai cara mulai dari yang wajar sampai yang nggak masuk akal.

Kehilangan pertama adalah hp Samsung Corby warna putih yang baru saya beli kurang lebih seminggu. Zaman saya SMA dulu, hp ini nyentrik banget karena udah touchscreen sementara yang lain masih pakai trackpad. Mana diiklanin sama Nicholas Saputra lagi. Saya pergi ke pasar malam di Purwokerto, dan sepulangnya dari sana separuh nyawa rasanya kayak ketarik sampai akhirat karena hp kesayangan sudah nggak ada di tas selempang. Bajilak, saya kecopetan.

Hampir menangis, takut, dan capek. Salah seorang kawan saya lalu mengajak saya pulang ke rumahnya dulu, siapa tahu keluarganya bisa membantu. Lagian saya kan sejak SMA sudah merantau, jadi keluarga sendiri pun nggak bisa saya hubungi ketika itu.

Singkatnya, ibu kawan saya menyarankan pergi ke orang pintar. Katanya jelas nggak bakal dibantu kalau lapornya ke polisi. Saya nurut aja dan pergi ke orang pintar biar hp saya bisa dilacak. Ketika sedang khusyuk menunggu jawaban, tiba-tiba atap rumah si orang pintar berbunyi kencang banget. Kayak ketiban mangga (mungkin memang ketiban mangga).

Lalu si orang pintar bilang kalau bunyi yang baru saya dengar adalah pertanda bahwa hp saya nggak bakal kembali. Orang yang mencopet adalah komplotan yang juga punya benteng gaib. Mau nggak percaya tapi kok terlalu sembrono. Yah gitu doang. Saya pun pulang dengan kepala pening.

Pada kehilangan selanjutnya saya kehilangan dompet dan memutuskan menempuh jalur yang sewajarnya dilakukan warga sipil, yaitu lapor polisi. Sesampainya di sana memang sih disuruh mengisi detail kehilangan, menceritakan kejadian, dst. dst.. Tapi ternyata kasus yang saya alami nggak diproses melainkan cuma diberikan surat kehilangan buat selanjutnya digunakan mengurus ATM, KTP, SIM, dan apa pun yang dibutuhkan. Dan saya nggak sendirian, banyak yang lebih dari sekadar kehilangan hp dan dompet tapi berakhir nihil.

Ya Allah, ternyata kalau kehilangan sesuatu di Indonesia itu adalah sebuah cara berlatih ikhlas. Pantesan ya sinetron di televisi tokoh protagonisnya selalu bilang, “Semua pasti ada hikmahnya.” Hal ini diimplementasikan dengan sempurna dalam kehidupan warga sipil.

Kalau mendengar cerita kawan yang di Jepang, kadang saya iri banget. Suatu hari kawan saya ini curhat kalau dia kehilangan dompet yang isinya lumayan banyak, mana banyak surat-surat penting. Saya langsung iba dan ikut prihatin karena pasti ngurusnya lebih ribet. Apalagi di negeri orang begitu. Yang bikin heran dia malah ketawa-ketawa karena saya masih pakai logika orang Indonesia. Dua hari kemudian dompetnya kembali, dengan uang yang masih utuh bahkan sereceh-recehnya pun masih ada. Dia mengabari saya sambil terkekeh.

Ternyata orang-orang yang tinggal di Jepang nggak diberi karomah untuk berlatih ikhlas kayak di sini ya, hmmm. Subhanallah, Tomodachi~

Saya pikir kasus kehilangan kalau kasusnya cukup besar bakal diusut. Polisi bakal menangkap penjahat kayak di film-film Hollyweed. Tapi menurut orang yang pernah digendam saat jalan-jalan di mal dan menyebabkan laptopnya, 3 laptop teman satu kontrakannya, cincin emas, jam tangan mahal, dan uang senilai Rp700ribu ludes tanpa bekas, kasusnya hingga kini tetap jadi misteri dan menambah khazanah hikmah duniawi untuk lebih hati-hati. Lha lapor ke kepolisian pun akhirnya nggak diusut, padahal kerugiannya lumayan untuk ukuran mahasiswa S-1.

Polisi cuma bisa membantu buat membuka rekaman CCTV di mal dan melihat siapa saja pelakunya. Okelah sudah dapat wajah pelaku, selanjutnya apa? Ya masa seorang mahasiswa perantau yang bahkan nggak tahu circle preman pasar diuruh menangkap pelakunya sendiri. Yang ada digendam lagi, Bos.

Sejauh yang saya dengar, kasus pencurian, pencopetan, kemalingan, perngutilan, dan sebagainya itu walau sudah dilaporkan ke kepolisian masalahnya tetap nggak kelar. Beberapa alasannya mungkin karena nilai kehilangan sejenis hp dan dompet itu nggak seberapa (padahal tetep bikin nyesek), atau justru saking banyaknya kasus serupa sampai pihak berwajib kewalahan?

Yang jelas kalau kehilangan dompet, hp, dll. Biasanya memang disebabkan karena pemiliknya kurang berhati-hati. Iya kan benar memang salahin korban aja terooos.

BACA JUGA Standar Moral Level Dasar ketika Menghubungi Orang, Tolong Camkan! atau artikel lainnya di POJOKAN.

Redaktur Mojok. Suka koprol.

Leave a Comment