MOJOK.CO  Pada sadar nggak sih, film Hollywood sering menggambarkan negara tropis kayak Mexico dan India dengan filter warna kuning? Akal-akalan apa lagi ini?

Sudah ke sekian kalinya saya mendengar komplain dari beberapa orang tentang film Extraction yang tayang di Netflix awal bulan ini. Ada yang mengaku sakit mata setelah menontonnya karena perkara filter kuning berlebihan dalam film garapan Hollywood tersebut.

Kesan menonton film Extraction memang gerah dan haus. Berasa lagi ada di tengah gurun karena setiap frame yang ditampilkan menawarkan rona kuning kecokelatan. Bahasa kerennya, tumeric yellow.

Kalau menilik teori warna, kuning memang digunakan buat mengesankan hawa gerah, hangat, bahkan tropis. Warna bakal membantu penonton merasakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembuat film cuma dari layar, tanpa dialog, tanpa adegan. Akhirnya filter kuning dipakai buat menggambarkan hawa panas dan terik.

Negara yang paling sering dikuningin sama industri film Hollywood adalah Mexico, India, dan beberapa negara tropis di Asia Tenggara. Serial Breaking Bad dengan jelas menyunting shot yang menunjukkan setting Mexico dengan filter kuning. Bahkan garapan sutradara yang terkenal hobi main warna, Wes Anderson, menunjukkan setting di India dengan rona kuning yang begitu tajam. Kalian bisa lihat sendiri di film The Darjeeling Limited.

Lama kelamaan, filter kuning nggak lagi digunakan untuk menggambarkan hawa panas dan tropis. Tapi juga kesan kumuh dan bau. Pada film Slumdog Millionair, filter kuning yang dipakai mirip sama kuning tokai. Bikin risih dan mengesankan kalau India negara yang awut-awutan. Padahal ya nggak segitunya juga.

Baca juga:  Menumbuhkan Geliat UKM dengan Nonton Drakor Itaewon Class

Saya belum pernah piknik ke India sih, tapi kalau nonton film Kuch-kuch Hota Hai rasanya nggak ada filter kuning yang diterapkan dengan selebay itu. Saya juga masih yakin langit India berwarna biru, hamparan rumputnya juga hijau.

Simak deh cuplikan behind the scene dari Netflix ini. Niscaya kalian yakin India itu negara yang aslinya nggak sekumuh itu.

Stereotip ini perlahan jadi hal yang umum. Nggak cuma film garapan Hollywood aja yang menguningkan negara-negara dunia ketiga. Serial Spanyol La Casa de Papel yang lagi rame itu juga menggambarkan Sulawesi dengan begitu kuning.

Ingat nggak scene di mana Stockholm melahirkan di suatu rumah sakit di Sulawesi, dan tokoh Denver lari-lari keliling koridor rumah sakit sambil teriak, “Itaa boiii itaaaa boiii!” (It’s a boy maksudnya). Adegan tersebut kelihatan begitu kuning. Bahkan saya yang orang Indonesia aja merasa Sulawesi nggak sekuning itu.

Filter kuning yang fungsinya mengalami peyorasi begini memang bisa diplintir jadi salah satu omong kosong Hollywood dalam menunjukkan superioritas dan stigmatisasi suasana oriental. Kalau settingnya Amerika, shotnya jadi bagus, cerah, langit biru, awan berarak. Barang ke negara sebelahnya aja dikuningin. Seolah-olah Mexico itu polusinya lebih nggak karuan.

Aslinya saya nggak pengin suuzan, tapi susah. Belum lagi Amerika dari dulu sering ‘pamer’ bendera di film-film hasil produksinya. Konon setiap bendera yang ditampilkan dalam film menunjukkan kiblat politik si pembuat film. Kalau ada bendera berarti pro Amerika, berusaha mengampanyekan simbol patriotisme dan nasionalisme Amerika. Kalau nggak ada ya berarti emang anti Amerika.

Baca juga:  Felix Siauw Diduga Sindir Atraksi Motor Jokowi dalam Pembukaan Asian Games 2018

Bendera bisa juga jadi simbol narsis semata. Mengabarkan pada dunia bahwa Amerika adalah negara adidaya yang sektor perfilmannya juga sukses minta ampun.

Walau hadir sebagai produk hiburan, nggak selamanya film bebas nilai. Kalau diruntut, cuma perkara filter kuning saja urusannya bisa sampai konstruksi dan dekonstruksi sosial-nya Saussure. Makanya kalau suatu saat kalian jadi sutradara film, minta tolong deh nggak usah main menguningkan negara. Kalau bisa dobrak aja stereotip negara miskin=kumuh=kuning.

BACA JUGA Review Film Extraction vs 6 Underground di Netflix, Mana yang Lebih Kacau? atau artikel lainnya di POJOKAN