MOJOK.CO Gubernur DIY Sri Sultan HB X berencana terima pemudik ke wilayah DIY. Meski sekilas bikin cemas, tapi alasan Sri Sultan perlu kita dukung, Lur.

Di tengah ramainya pembahasan soal darurat sipil, Jogja tegas bakal terima pemudik ke wilayah DIY . Pernyataan ini disampaikan oleh Sultan pada 30/3. Mendengar pernyataan ini sekilas bikin cemas, memang. Tapi Jogja santai, Lur, coba kita telaah dulu masalahnya pelan-pelan.

Kecemasan itu wajar. Hal ini timbul karena pemudik yang akan pulang dari berbagai kota-kota besar di Indonesia dikhawatirkan membawa virus. Istilah kerennya carrier, tapi percayalah faktanya nggak keren. Utamanya mereka yang selama ini merantau dan mencari pekerjaan di wilayah zona merah virus corona yang paling ditakutkan. Kalau pemudik itu malah memperparah penularan corona di Jogja kan gawat banget tuh!

Perkara terima pemudik ke wilayah DIY ini diberikan oleh Sultan bukan tanpa alasan. Para pemudik mungkin bekerja sebagai pedagang di Jakarta yang terpaksa tutup karena pandemi corona. Bisa jadi di antara mereka adalah karyawan yang di PHK. Berbagai motivasi ini tidak bisa disederhanakan begitu saja. Mereka mudik ke wilayah DIY bukan cuma ingin ketemu keluarga dan pamer sudah bisa kasih THR, tapi lebih kepada skema bertahan hidup.

Mereka justru bakal terlunta-lunta jika dibiarkan tanpa mata pencarian di kota rantauan. Sementara itu mereka punya keluarga di Jogja yang bisa memberikan mereka tempat tinggal, bahkan memenuhi kebutuhan pokoknya.

Baca juga:  Gempa Lombok Bukan Soal Politik dan Agama, Ini Soal Mau Jadi Manusia atau Tidak

Saya nggak membayangkan jika para pemudik ini dianggap sebagai parasit di kota orang. Stigma pendatang yang buruk dan dianggap menuh-menuhin kota metropolitan. Dalam keadaan darurat seperti ini bukan tidak mungkin para perantau justru bakal dilanda stres karena terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Pekerjaan dan pendapatan terancam, tapi ditolak oleh kota asal tempat tinggal. Duh, nggak tega sih.

Situasi demikian membuat saya membayangkan diri sendiri ketika saya nggak dibolehin mudik dari Yogyakarta ke kampung halaman. Yogyakarta tempat saya cari duit dan cari ilmu, tapi ketika keduanya tidak lagi bisa saya dapatkan, saya perlu pulang dalam misi birul walidain. Kembali ke haribaan orang tua untuk setidaknya menentramkan mereka dengan kehadiran saya.

Plus, pulang ke rumah membuat saya dan keluarga menghemat biaya hidup.

Nah, kalau tiba-tiba kampung halaman saya menolak terima pemudik dari luar kota, ya kacau. Saya di Jogja mau ngapain? Merenung di pojokan sambil baca puisinya Sapardi sepanjang hari?

Lagi pula, Sri Sultan memberlakukan syarat untuk terima pemudik ke wilayah DIY. Mereka harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan yang diterapkan. Misalnya dengan melapor kepada pengurus RT atau kelurahan sehingga kondisi mereka dipantau. Minimal tahu diri dengan melakukan swakarantina selama 14 hari.

Pemudik yang diterima sama Sultan pun harusnya disiplin dan paham betul akan bahaya virus corona yang mungkin mereka tularkan pada keluarga. Menganggap diri sendiri sebagai ‘orang sakit’ mungkin bisa membantu. Sekalian buat praktik hati-hati biar nggak menularkan ke orang tersayang di rumah.

“…mulih wae, mosok mulih ora oleh?”

Jadi nyuwun tulung lah, Lur. Sultan sudah terima pemudik ke wilayah DIY buat meringankan beban kawan-kawan sekalian. Maka pulanglah dengan disiplin dan mawas diri saling jaga satu sama lain. Kalau pas sudah sampai Jogja malah nongki-nongki bangsat di Amplaz sambil haha-hihi dalam rangka reunian dan buka bersama, mohon maaf Anda le ngawur kepolen.

BACA JUGA Menjawab Mitos-mitos Seputar Virus Corona atau artikel lainnya di POJOKAN.

Baca juga:  Mudik Lebaran untuk Nostalgia yang Tidak Ada Padanannya