MOJOK.COOrang yang ngatain dan bertindak semaunya justru saudara hingga sahabat sendiri. Body shaming dilakukan sama orang terdekat memang sebegitu sering.

Jari-jari lemes netizen memang kadang kelewatan dan ngasih komentar luar biasa menyakitkan. Padahal, antara yang komen dan yang dikomentari nggak saling kenal. Saya ngebayangin andai jadi figur publik yang setiap unggahan medsosnya dikepoin dan dikomentarin jahat, saya mungkin nggak akan kuat. Alih-alih menyalahkan orang-orang yang sembarangan komentar, saya bakalan insecure dan melakukan banyak cara biar terlihat sempurna sampai orang-orang nggak bisa komentar jahat lagi.

Untungnya saya cuma orang biasa, thanks Lord.

Tapi ada yang lebih jahat ketimbang netizen, yaitu perkataan menyakitkan dari sahabat, orang tua, dan saudara yang sudah sebegitu dekat. Soalnya kita jadi makin nggak enak buat negur dan merasa bersalah. Body shaming seringnya dilakukan sama orang terdekat itu nyata bukan isapan jempol. Kamu pernah menghitung nggak sih berapa kali ibumu bilang gaya berpakaianmu jelek banget, atau bagaimana jerawat di wajah yang selalu tumbuh?

Sebuah unggahan berikut bakal membuktikan betapa body shamming dari orang terdekat itu justru lebih nggak terkontrol ngawurnya.

Baiklah kalau mau bersembunyi di balik pernyataan, “Ini semua demi kebaikanmu biah makin serius memperbaiki penampilan.”Hadeeh, tai kucing tau nggak, Ngab. Kalau demi kebaikan you bisa pakai perkataan yang lebih halus kali. Mana susah banget minta maaf lalu menyalahkan orang yang tersinggung itu baperan. Duh Gusti.

Baca juga:  Ternyata Body Shaming Terbesar Justru dari Diri Sendiri

Sebenarnya nggak cuma masalah body shamming yang dilakukan sama orang terdekat. Sering kali tindakan ngawur-ngawur juga dipraktikkan. Mentang-mentang udah dianggap bukan ‘orang lain’ lagi. Orang terdekat seolah sudah dapat konformitas dan nggak bakal dijengkelin kalau melakukan hal-hal ngawur sekalipun.

Pertama, soal janjian, orang-orang terdekat ini seolah abai soal tepat waktu karena cuma janjian sama adik atau kakak sendiri. Bilangnya berangkat jam sembilan, ternyata jam sembilan baru memberangkatkan niat. Kocak juga, padahal orang-orang terdekat inilah yang harusnya kita jaga biar mereka nggak lantas males sama keakuan kita yang makin seenaknya.

Kedua, hampir mirip body shaming. Tapi kali ini dilakukan sesama perempuan karena dianggap orang terdekat dan nggak bakal memalukan. Saya pernah mendengar seorang kawan yang ngatain temannya sendiri punya dada rata. Malah ada yang dipanggil kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata) yang sama sekali nggak terdengar kayak pujian, melainkan perkataan menyakitkan. Perempuan harus berurusan soal bagaimana cowok-cowok memandang dada mereka, sekarang ditambahin tuduhan dada rata dari teman sendiri. Kalian tuh nggak tahu betapa susahnya pengin punya ukuran dada proporsional sampai ada yang rela operasi plastik segala.

Ketiga, urusan membanding-bandingkan kesuksesan sama orang lain orang terdekat kitalah jagonya. Seolah-olah perkataan mereka itu bikin semangat padahal justru bikin putus asa. Jujur aja, saya juga sering dengar kayak gini. Waktu SD, saya emang bocah yang nggak berguna. Teman-teman pernah memilih saya sebagai ketua kelas karena saya berani ngegas ke teman-teman cowok. Sebagai anak SD, jabatan ketua kelas itu udah kebanggaan luar biasa.

Baca juga:  Berhasil Menang Giveaway Itu Juga Butuh Perjuangan, Sayang!

Tapi nggak berlangsung lama, di tengah puja-puji jadi ketua kelas, saudara saya dengan skeptis tanya saya ranking berapa di kelas. Saya cuma ranking 17, mohon maaf, nggak bisa masuk sepuluh besar memang. Tapi saudara saya ini malah sok khawatir dan bilang, “Lah, masa sih ketua kelasnya malah nggak ranking 1. Dimana-mana ketua kelas itu pasti juara kelas. Mas (insert nama tetanggamu here) juga ranking 1 kok dan dia emang ketua kelas.”

Hal ini terulang kembali saat saya jadi ketua OSIS dan nggak ranking 1 paralel. Saya sampai apal bagaimana orang pengin bikin down begini. Mentang-mentang saudara jadi loske wae gitu?

Keempat, masalah utang piutang. Perkara body shaming yang dilakukan orang terdekat boleh jadi isu yang lumayan banyak dapat perhatian belakangan. Tapi masalah utang piutang jadi hal yang tabu banget. Makin dekat hubungan kekerabatan, maka bersiaplah bahwa utang piutang bakal semakin diabaikan. Sementara si peminjam juga agak sungkan menagih karena anggapan, “Halah, saudara sendiri inihhh… nggak bakal kemana-mana juga.”

Belum tahu aja kamu, Hyung, saudara juga bisa bawa lari uang bermiliar-miliar kalau beneran nggak tahu diri.

Kalau sudah begini, solusi satu-satunya ya dengan menjelaskan bagaimana perasaanmu atas tindakan ngawur mereka. Mau bentuknya body shaming, ingkar janji, membahas ‘ukuran’, sampai utang piutang yang dilakukan orang terdekat kalau perkara ngawur ya ngawur aja. Sekali-kali orang ngawur perlu digas.

BACA JUGA Ternyata Body Shaming Terbesar Justru dari Diri Sendiri atau artikel lainnya di POJOKAN.