MOJOK.COSebab sebuah pergaulan nggak akan ke mana-mana tanpa humor, bukan berarti juga kalian harus menyampaikan jokes sampah yang hanya akan terasa krispi jika didengar.

Kabarnya ketampanan hanya bisa dikalahkan dengan kelucuan. Seganteng-gantengnya cowok, akan percuma kalau nggak bisa bikin cewek tertawa dan bahagia seumur hidupnya. Oke, saya tahu pernyataan ini mudah dibantah dengan satu kalimat: emangnya hidup sebercanda itu?

Tapi pernyataan tersebut tetap nggak bisa enolak kalau orang huoris memang punya daya tarik khusus. Menjadi pribadi yang lawak adalah koentji!

Sayangnya sakingnya berusaha, terkadang muncul orang-ornag yang justru melontarkan jokes sampah. Jenis guyonan jayus yang garing dan hanya bikin orang-orang sekitar mengernyitkan dahi. Hindari yang seperti di bawah ini, Kawan!

Jokes sampah #1 Ketika ditanya dari mana jawabnya dari tadi

Sebuah mitos muncul dari guyonan seperti ini. Bilamana ada seseorang yang saat ditanya asalnya dari mana tapi jawabnya dari tadi, dia adalah manusia goa yang datang dari masa lalu. Jokes ini bahkan garing saja belum, lebih tidak layak didengar bahkan dipikirkan.

Masih mending orang yang ditanya dari mana jawabannya dari Namec, terasa lebih masuk akal dan lumayan menggelitik walau hanya 5 volt.

Jokes sampah #2 Habis beli barang dan ditanya, “Kamu beli berapa nih?” jawabnya “Satu.”

Saya pernah punya teman semacam ini dan berakhir di ujung tabokan. Dia beli sebuah Nintendo Switch yang bagi saya, ya ampun keren banget. Di tengah krisis moral bisa-bisanya dia beli mainan baru. Padahal dua hari yang lalu dia mengeluh bokek.

Baca juga:  Memakai Masker Membantu Saya Menyembunyikan Ekspresi Tertawa Basa-basi

Lalu spontan saya tanya, “Wih, gila, kamu beli berapa sih ini?” Dengan gobloknya dia menjawab, “Satu, hahahaha!”

Tanpa berkata, dan tanpa senyum seujung pun, saya menaboknya dengan mantap. Selain karena sampah, jokes semacam ini bikin kesal. Benar-benar kesal, bukan kekesalan manja ala cewek-cewek gemas itu.

Jokes sampah #3 Saat kenalan pakai pembukaan “Tak kenal maka tak sayang”

Kesan pertama haruslah luar biasa. Sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi saya paham banget ada yang namanya hello effect di mana sebuah kesan pertama akan memengaruhi kesan selanjutnya. Tapi kalau kalian melontarkan kalimat “Tak kenal maka tak sayang” kalian benar-benar mengalami sebuah kesalahpahaman kosmis.

Pertama, kalau kalian bukan pribadi yang humoris, kalian nggak harus berusaha banget melawak saat perkenalan. Kedua, kalimat tak kenal maka tak sayang adalah jokes boomer yang bagi mereka saja sekarang sudah nggak lucu lagi. Ketiga, saking nggak lucunya tak kenal maka tak sayang tidak lagi dikenal sebagai jokes melainkan kalimat nggak penting yang kalau nggak diucapkan nggak bikin dunia kiamat.

Bahkan jokes plesetan “Tak kenal maka taaruf” pun sudah nggak disarankan.

Jokes sampah #4 “Nama saya Ajeng, biasa dipanggil nengok.”

Saya kasih tahu, jokes sampah macam ini terkesan tidak natural dan bikin yang mengucapkan kelihatan sok asyik. Lebih baik nggak usah berusaha kelihatan yang paling lucu di forum yang baru kalian datangi, karena kalian nggak tahu siapa yang kalian hadapi. Jangan-jangan ada Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono yang dengan mudah mementahkan jokes kalian.

Baca juga:  Nurhadi, Aldo, dan Kenapa Kita Ngakak Gara-Gara Jokes Receh

Trying to hard itu nggak bagus kalau kalian ingin melawak.

Jokes sampah #5 Tebak-tebakan plesetan sampai mampus

“Lah buroq, itu mah yang masuk DPO!”
“Buron, bego…”
“Ih buron kan ayam geprek!”
“Itu kan Bu Rum!”
“Bu Rum kan yang dipelihara bapak-bapak!”
“Burung!!1!1”

Begitu terus sampai Donald Trump rambutnya kribo, jokes ini tetap sampah, nggak ada esensinya dan bikin pikiran kita nggak jalan. Dear teman-teman saya yang masih suka guyonan begini, apa tidak capek?

BACA JUGA 5 Sisi Gelap di Balik Recehnya Kartun SpongeBob atau artikel AJENG RIZKA lainnya.