Merdeka dari Patah Hati dengan Potong Rambut

Merdeka dari Patah Hati dengan Potong Rambut

MOJOK.CO Cewek-cewek sering banget potong rambut saat patah hati. Antara mitos dan fakta, potong rambut memang bikin gembira. Simbol kebebasan yang efeknya luar biasa!

Secara naluriah, saya mendatangi salon yang paling dekat kantor di sore hari pas hujan sedang lebat-lebatnya. Saya nggak peduli, masih ada jas hujan sebagai metode terjang hujan paling efektif buat pemotor.

Sampai salon saya bilang ke mbak-mbaknya,

“Mbak, potong apa aja yang penting lebih pendek dan keren.”


Setelahnya, saya keluar salon dengan lega, tanpa beban, dan merdeka. Iya, saya habis patah hati gara-gara mas gebetan jadian sama orang lain. Sialan.

Tapi keesokan harinya saya sudah berani jalan-jalan sama mantan pacar dan menimbang wacana buat balikan. Aneh memang, move on terasa cepat.

Metode potong rambut pasca mengalami patah hati adalah tindakan paling minimal selain menangis, yang biasa dilakukan cewek, dan sebagian kecil cowok. Padahal kalau diruntut, nggak ada hubungannya antara merasa baikan dan melihat helaian rambut jatuh saat digunting.

Pertama kali saya merasakan kemerdekaan setelah potong rambut adalah ketika kalah lomba siswa teladan SMP. Ibu saya menderita melihat saya menangis akibat kegagalan kecil yang sebenarnya nggak ada apa-apanya ketimbang cobaan hidup lain. Besoknya beliau mengajak saya ke salon, creambath sekalian potong rambut model bob, pendek dan konyol sehingga menyerupai Alda The Cangcuters.

Baca juga:  Review Film Bumi Manusia: Menghidupkan Minke dan Nyai Ontosoroh untuk Pembaca Muda

Tapi di saat itu beban saya seolah hilang bersama helaian rambut yang disapu sama mbak-mbak salon. Penampilan baru saya, adalah hiburan. Untuk pertama kalinya saya memahami bahwa potong rambut bisa bikin gembira.

Ternyata nggak cuma saya. Teman kosan saya pernah terbangun dengan menangis, lalu dia mengambil gunting dan potong rambut secara mandiri. Katanya, semalam dia mimpi buruk yang membuatnya terus kepikiran walau sudah bangun.

Potong rambut baginya adalah buang sial.

Tren potong rambut saat patah hati dinamakan breakup haircut. Perasaan merdeka setelahnya adalah pengalaman individu yang kebetulan juga dirasakan hampir sebagian besar orang.

Kalau dihubungkan sama kearifan lokal, potong rambut adalah buang sial karena juga memangkas setan-setan yang bergelantung manja di sana. Bahkan pada upacara ruwatan anak gimbal di Dieng, acara potong rambut juga dibarengi ritual pelarungan rambut ke Sungai Serayu atau Telaga Warna. Tujuannya biar si anak nggak sakit-sakitan lagi dan rambutnya tumbuh dengan normal. Sebuah simbol kebebasan yang begitu unik.

Namun kalau dilogika, ada dua alasan masuk akal kenapa potong rambut saat patah hati punya imbas yang begitu luar biasa.

Pertama, potong rambut adalah kegiatan yang tidak berlangsung lama, singkat, tapi efek perubahannya langsung terasa begitu kalian berkaca. Merasakan perubahan yang ada pada diri kita adalah suatu bentuk penerimaan bahwa keadaan memang tidak selalu sama walau tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Baca juga:  Kalau Rina Nose Dibiarkan Lepas-Pakai Jilbab, Bakal Jadi Apa Agama Kita

Benar bahwa kita menerima kenyataan pahit yang bikin patah hati, gebetan jadian, pacar selingkuh, sampai pernikahan yang gagal. Apa yang perlu kalian lakukan adalah dengan menerima bahwa kondisinya memang sudah berubah. Potong rambut saat patah hati menegaskan fakta itu.

Kedua, secara tidak langsung potong rambut saat patah hati akan menambah kepercayaan diri. Kalian seolah sedang berkata pada diri sendiri: new hair, new life, new me. Hingga pada akhirnya kalian merasa merdeka dan tidak terpenjara dalam kesedihan.

BACA JUGA Fase Patah Hati: Stalking Mantan Itu Ternyata Wajar atau artikel menarik lainnya di POJOKAN.