MOJOK.CO Walau terkenal sebagai produsen barang elektronik, xiaomi menjual apa pun, bahkan celana dalam. Sungguh menggiurkan dan bikin penasaran.

Di suatu hari yang biasa, saya merasa butuh dehumidifier biar kamar saya nggak lembap-lembap amat di musim hujan. Selama ini saya cuma mengandalkan teknologi serap air yang nggak bisa bertahan lama. Marketplace kemudian merekomendasikan pada saya sebuah teknologi mantap: Xiaomi dehumidifier yang bisa dipanaskan dan dikeringkan lalu dipakai lagi. Sungguh keren.

Mulai saat itu saya baru ngerti kalau Xiaomi ngeluaran produk-produk perkakas rumah. Walau sebenarnya ini tergolong cukup wajar, Xiaomi terkenal dengan hape sobat misqueen, ya barangkali memang mereka fokus di teknologi dengan harga terjangkau.

Tapi walau terjangkau, produk Xiaomi punya desain yang beneran kekinian. Desainer produk Xiaomi kayaknya dibayar dengan gaji yang cukup mumpuni ketimbang desainer merek lain kayak Vivo dan Votre. Mylov, kalau ada waktu coba kamu lihat produk penanak nasi Xiaomi Mijia. Asli, minimalis dan bagus banget. Nggak kayak penanak nasi yang motifnya kembang setaman dan pemandangan. Mau nangis karena saya terlanjur beli Cosmos kemarin.

Nggak cuma hape dan barang-barang elektronik, brand yang berdiri tahun 2010 ini juga menjual barang yang sebenarnya jauh dari image sebelumnya. Ada sepeda listrik, treadmill, terminal colokan, lampu LED, TV, stepler, sapu, tas ransel, teko, sampai sempak. Iya, sempak yang katanya punya spesifikasi bahan super adem, tipis, dan… transparan.

Baca juga:  Panda Cai Tao dan Hu Chun dan Kebangkitan Komunis di Indonesia

Beruntung, utas berikut mengumpulkan beberapa barang unik dari Xiaomi. Bahkan netizen lain yang ikut komen juga nambahin, gayeng pol.

Sebagai produsen dari China, merek Xiaomi memang nggak bisa jadi brand buat ngasih makan gengsi orang-orang. Misalnya begini, banyak banget orang beli iPhone karena pengin aja, bukan karena mengerti betul spesifikasi dan kebutuhannya. Mahal? Bodo amat, sikat bor, yang penting produk Apple.

Beda lagi sama Xiaomi yang kayak anak tiri. Ngasih penawaran barang-barang dengan harga terjangkau yang walau tepat guna pun tetap dipandang sebelah mata. Menurut saya mereka emang sengaja nggak bikin yang sekelas Apple dengan memanfaatkan brand value dan membiarkan orang-orang membeli gengsi secara kontan. Xiaomi ingin mengisi segmen pasar yang belum dijangkau sebelumnya. Orang-orang yang sebenarnya punya duit pas-pasan kayak saya, maunya beli barang seharga satu juta dengan nilai yang sama berharganya. Dan… tetep maunya yang bagus.

Brand asal China emang punya citra agak menggemaskan karena dibilang sebagai barang tiruan, hasil Amati Tiru Modifikasi (ATM) dari brand Amerika dan Eropa, berkualitas buruk, serta dibilang cepat rusak. Sementara Xiaomi kayaknya berhasil keluar dari stigma kualitas buruk dan cepat rusak itu tadi. Soal barang hasil ATM, nggak tahu lagi nih, bisa jadi produsennya memang masih menjadikan produk Apple dan Sony sebagai kiblat. Tujuannya buat mengarahkan selera pasar aja.

Baca juga:  Fitur-fitur 'Rahasia' di WhatsApp yang Bahkan Pengembangnya Sendiri Tidak Tahu

Dengan memproduksi segala bentuk produk dan barang bahkan sampai kebutuhan remeh pun, Xiaomi benar-benar punya misi untuk menguasai pasar dunia. Saya langsung ingat Stark Industries, eh nggak ding itu mah mirip sama The Boring Company-nya Elon Musk. Mungkin lebih pas kalau Xiaomi diasosiasikan sama Wilford Industries yang ada di film Snowpiercer. Bikin kereta dan memproduksi segala apa yang ada di dalamnya, termasuk makanan buat penumpang kereta kelas borju dan proletar. Alegori yang mantap tentang kelas sosial.

Menghadapi Xiaomi yang bakal menyediakan semua barang, nggak heran besok kalau beli mangkok maunya merek Xiaomi aja, beli sprei merek yang sama, sampai raket nyamuk, gantungan baju, sabun, odol, sikat gigi sekalian. Waduh, mantap betul. Gimana lagi, saya sebagai representasi pembeli yang nggak mau rugi senang-senang aja dengan penawaran brand China ini. Harga yang masuk akal dapat barang yang sepadan. Meski agak ngeri-ngeri sedap kalau satu brand bisa memonopoli semua kebutuhan kita, haduuuh, bisa gonjang-ganjing dunia industri negara barat. Toh kita tahu pasti tentang satu hal.

Apa pun barang dan mereknya, orang Indonesia tetap jadi konsumennya.

BACA JUGA Skripsi Bukan Cuma Formalitas buat Lulus, di Dunia Kerja Kepakai kok! atau artikel lainnya di POJOKAN.