fbpx

MOJOK.CO Saya selalu berharap dipertemukan dengan orang yang memberikan doktrin sesat tentang kentut bau. Katanya semakin kenceng kentutnya, maka semakin nggak bau. Hilih! Saya akan mendebatnya secara langsung.

Akui saja, semua orang pasti kentut. Sebagai sebuah kegiatan wajib manusia, kentut sampai sekarang masih tidak dihormati. Gas yang keluar dari tubuh seperti sendawa, bersin, batuk masih bisa dimaklumi. Sementara kentut, sungguh tenggelam jauh dalam lembah nista. Apa lagi kentut bau, kerak neraka!

Ada pepatah yang mengatakan “If it’s smelly, it won’t be noisy.”

Sebuah pepatah yang akhirnya jadi doktrin mendarah daging di seluruh sudut terkelam dunia. Padahal kebenarannya belum tentu valid. Bisa jadi, ini awalnya hoaks yang disebarkan buzzer menjelang pilpres lho, siapa tahu….

Orang yang menghasilkan kentut berisik dianggap layaknya fakboi penggombal. Ujung-ujungnya cuma ditabok. Kebanyakan korban kentut berisik ini sebal dengan polusi suara yang datang tanpa diundang. Mengumpat pun bisa jadi solusi bagi korbannya. Tapi mereka selalu lupa kalau kentut berisik juga bisa menghasilkan polusi bau yang tidak kalah pekatnya. Mereka sudah terdoktrinasi kalau kentut bau memang biasanya nggak berisik.

Asal kalian tahu, kentut bau atau tidak bau itu sebenarnya tergantung dari banyak faktor. Makanan berserat tinggi yang kalian konsumsi, obat-obatan yang membunuh bakteri baik, hingga susah buang air besar bisa menyebabkan kentut semakin busuk.

Baca juga:  Perlukah Perempuan Mencukur Bulu Kemaluannya?

Sementara itu, bagaimana otot-otot di sekitar daerah pelepasan kentut itulah yang memengaruhi bunyi kentut. Semakin besar bukaannya, maka semakin kalem kentutnya. Kalau semakin kencang dan tegang otot-otonya, maka bikin bukaan kentut semakin sempit dan bunyinya makin nyaring.

Selain itu, volume gas yang kalian hasilkan juga berpengaruh. Kalau semua gas dalam perut mendadak ingin mendobrak untuk dibebaskan, sudah pasti bunyinya makin kencang. Coba sekali-kali pantatnya dipasangin toa, nisacaya….

Nah, berdasarkan analisis di atas, sebenarnya antara kentut bau dan kentut berisik nggak ada hubungannya. Nggak semua kentut bau dihasilkan dari kentut yang kalem, dan nggak semua kentut berisik itu bebas bau.

Istilah silent but deadly kentut itu sudah nggak relevan saya kira. Kecuali jika pada kondisi-kondisi tertentu.

Begini, Dr. Rice sebagai ahli perkentutan duniawi menjelaskan kalau memang benar adanya doktrinasi kentut bau adalah yang tidak berbunyi. Tapi anggapan ini jangan selalu dijadikan patokan. Kentut tanpa bunyi yang berbau busuk ini dihasilkan dari orang-orang yang sedang menahan pup. Gas yang dekat dengan pup tentu saja punya bau yang mirip.

Kehadiran pup yang sudah seharusnya dibebaskan tapi masih ditahan menghambat aliran gas di bawah sana. Padahal saat itu, otot-otot sudah terbuka lebih lebar untuk bersiap meluncurkan benda-benda buangan. Akibatnya, gas yang nggak seberapa itu dilepaskan melalui sebuah pintu yang sudah agak terbuka. Hasilnya, no sound.

Demi menolak doktrinasi kentut bau=tanpa suara, kalian punya misi. Mulai sekarang jangan keburu tenang saat mendengar seorang kawan kentut secara sembrono, yang menghasilkan suara merdu layaknya Black Cannary. Tunggulah beberapa saat, jika kentut bau turut mengiringi suara berisik itu, maka silakan kecup dinding pankreas kawan kalian. Sambil berbisik, “Bangke!”

Baca juga:  Mandi di Malam Hari Beneran Bikin Rematik Nggak, Sih?

BACA JUGA Kenapa, sih, Patah Hati Itu Rasanya Sakit Banget? atau artikel lainnya di PENJASKES.



Tirto.ID
Loading...

No more articles