Sudah hampir 21 April tapi belum ada twitwar Kartini? Lemah! Padahal saya selalu menunggu twitwar ini. Saya sampai membongkar timeline para selebtwit, aktivis kekinian, penderita trauma Orde Baru, sampai mereka yang terjangkit Jawafobia. Nihil. Yang ramai malah pidato Mbak Mega soal “petugas partai” dan foto topless Mbak Pamela “Duo Srigala” Safitri (Mbak Pam).

Saya jadi kepikiran begini: antara Mbak Mega dan Mbak Pam, siapa yang lebih layak disebut Kartini masa kini? Ada beberapa alasan yang membuat saya sekonyong-konyong berpikir seperti itu. Pertama, mereka sama-sama perempuan. Kedua, pidato Mbak Mega dan foto Mbak Pam terjadi di bulan kelahiran Kartini. Ketiga, Mbak Mega dan Mbak Pam sama-sama membuat gelisah banyak lelaki di negeri ini.

Kalau harus memilih, pilihan saya jatuh pada Mbak Pam. Tolong jangan marah dulu, Ukhty! Saya bisa jelaskan, ini tidak seperti yang Antum bayangkan.

Foto Topless Mbak Pam sebagai Resistensi

Pernah dengar FEMEN? Silakan googling, searching gambar juga boleh, banyak videonya di YouTube. Jangan lupa klik-kanan-save-as.

Saya selalu suka cara FEMEN menyuarakan hak-hak wanita: pamer aurat. Terlebih karena semua anggotanya seperti bidadari yang sering diceritakan nabi: cantik dan semlohay. Andai di Indonesia ada FEMEN, sayangnya tak ada. Setidaknya ada Mbak Pam.

Memangnya foto topless Mbak Pam itu aktivisme seperti aksi FEMEN? Lho, siapa tahu? Saya memang tak setuju feminisme yang melulu bermain-main dengan alat kelamin (tak setuju bukan berarti tak suka lho). Di negeri yang remaja putrinya dianiaya gara-gara tato Hello Kitty, dan di tengah ancaman BNPT akan kebebasan berekpresi, foto Mbak Pam adalah perlawanan tanpa banyak omong. Sementara Mbak Mega lebih banyak bicara perkara partainya sendiri. Pernah juga Mbak Mega membahas keperempuanan, tapi itu dulu. Dulu sekali.

Foto Mbak Pam harus didukung sebagai ikhtiar dalam mereklamasi hak otonom perempuan atas tubuh. Toh fotonya di-upload di akun instahram sendiri. Bukan di forum esek-esek, blog tujuhbelas plus, atau majalah pria dewasa.

Sulit menyimpulkan Mbak Pam semata terkomodifikasi sebagai objek oleh kuasa kapital dan hegemoni patriarkal. Tinggal klik-kanan-save-as, kan? Situ juga ndak perlu bayar kok, Bung.

Ciamik, tho?

Kartini dan Mbak Pam sebagai Korban

Perdebatan layak-tidaknya Kartini sebagai pahlawan seringkali tak ubahnya debat haram-halalnya muslim mengucapkan selamat Natal: ora mutu. Apalagi membandingkannya dengan Malahayati, Cut Nyak Dien, atau Martha Christina Tiahahu.

Kartini selamanya adalah korban. Perempuan mana yang suka dibanding-bandingkan? Perempuan mana, Akhy? Perempuan mana? Hah?

Saya selalu mengingatkan jomblo-jomblo seperti Gita Wiryawan andai nanti punya pasangan: tidak ada perempuan yang suka dibanding-bandingkan, sekalipun maksud kita memuji, atau mereka yang memancing minta dibandingkan. Camkan itu!

Ini tak hanya untuk perempuan. Banyak lelaki juga tak suka dibandingkan dengan lelaki lain (apalagi dengan perempuan lain).

Membandingkan perempuan Kartini dengan pahlawan perempuan lain adalah biadab. Sama biadabnya menolak cinta seseorang dengan kata-kata “kamu terlalu baik untukku”, atau “kita sahabatan aja ya”, atau “kamu sudah aku anggap seperti kakak aku sendiri”.

Pertanyaan saya bagi yang mengaku feminis tapi gemar membandingkan: feminisme macam apa yang membenturkan satu perempuan dengan perempuan lain? Memangnya Kartini minta diangkat jadi pahlawan? Jawab, Akhy, jawab!

Mari kita urutkan timeline sejak zaman Kartini hidup.

Golongan liberal di parlemen Belanda mengkritik gubermen Hindia karena melanggengkan bias jender dalam tradisi jajahannya. Sementara, kerajaan Belanda perlu menunjukkan pada dunia bahwa mereka tidak cuma bisa menghisap jajahan saja. Parlemen negara-negara Eropa, terutama golongan oposisi, saat itu memang sedang ramai menuntut politik etis. Kalau dengan menjajah India, Inggris “menciptakan” Mahatma Gandhi, Belanda boleh lebih berbangga dengan “menjual” Kartini. Tidak hanya terdidik, Kartini juga berani menggugat status quo patriarki ningrat Jawa dan pemerintah kolonial. Dan yang terpenting, dia perempuan! Untuk golongan oposisi Belanda, Kartini effect sama seksinya dengan Jokowi effect yang mengerek PDI-P menjadi partai pemenang Pemilu.

Ini bedanya dengan Malahayati, Cut Nyak Dien, dan Martha Christina Tiahahu. Mereka “cuma” melawan penjajahan kulit putih pada kulit coklat, bukan melawan patriarki. Kurang menjual.

Masa Orde Lama, Bung Karno menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Kartini bersama dengan Cut Nyak Dien dan Cut Meutia. Sekaligus menjadikan 21 April sebagai Hari Kartini. Orhan-orhan kiri juga turut punya andil. Dari Lekra, ada Pramoedya yang memimpin tim untuk menemukan “sedjarah Kartini jang objektif-revolusioner” dan menjadi cikal-bakal novel “Panggil Aku Kartini Saja”. Sementara Gerwani (orhanisasi perempuan, masih saudara ideolohis Lekra) menamai majalah resminya “Api Kartini”.

Kartini dihidupkan lagi oleh Orde Baru (Orba) dengan make up berbeda, tapi tak lagi prohresip-revolusioner: wanita ayu (bukan perempuan berandalan) yang berlenggak-lenggok di atas catwalk dengan kebaya dan sanggul, wanita karir yang tak lupa “kodratnya” mengurus keluarga. Dan yang terpenting: patuh pada suami! Kartini justru menjadi pengawal tata krama lama “kewanitaan” ningrat Jawa, objek ideal dalam fantasi genit laki-laki Orba. Barangkali inilah alasan sebagian penderita trauma Orba dan Jawafobia bersikap anti Kartini.

Jika disengaja, foto Mbak Pam adalah resistensi. Tapi jika di luar kesengajaannya, sebagai pemilik akun instahram, foto, dan tubuh, bagaimanapun, foto itu justru makin mengukuhkan persamaan Mbak Pam dengan Kartini sebagai korban. Berhak dibela sama besar dengan Dik Chelsea Islan atau Mbak Anindya “Palu-Arit” Kusuma Putri.

Mbak Pam bisa “dijual” sebagai korban budaya timur yang boleh “tidak jujur asal santun”. Korban bangsa adiluhung yang punya banyak caci-maki sembari tetap klik-kanan-save-as untuk bacol malam Jumat nanti. Sama seperti Kartini yang “dijual” karena melawan tatakrama. Keduanya korban sejarah.

Kartini Kaum Proletar

Make up apa yang cocok untuk Kartini yang lebih kekinian? Lagi-lagi saya terbayang foto Mbak Pam yang bukan anak presiden pertama. Mbak Pam bukan pemimpin Parpol pemenang Pemilu. Mbak Pam juga bukan business woman.

Mbak Pam tidak seperti Mbak Mega. Mbak Pam cuma penyanyi dangdut biasa, genre yang bukan ngak-ngik-ngok seperti musik kaum imperialis, genre paling akrab dengan selera estetis kita: kelas proletar, kaum marhaen, dan wong cilik.

Dengan instahram-nya, Mbak Pam telah membuktikan bahwa ia tak berjarak dengan kita. Memang Bu Ani Yudhoyono juga punya instahram, tapi jelas beda: piknik ke pantai saja pakai batik—instahram priyayi. Dan you know lah reaksinya kalau dikritik. Tapi Mbak Pam malah tak segan berbagi sisi paling privatnya dengan kita.

Di Orde Tukang-Mebel-Bisa-Jadi-Presiden ini, kiranya Mbak Pam adalah sosok yang paling tepat untuk disebut Kartini Masa Kini. Pamela Safitri adalah kita. Klik-kanan-save-as adalah kita.

No more articles